Kota 1.000 Benteng, 4 Wisata Sejarah di Kota Ternate

Kota 1.000 Benteng, 4 Wisata Sejarah di Kota Ternate

Berwisata ke “negeri rempah” Ternate, Anda akan menjumpai banyak bukti-bukti sejarah masa kejayaan Maluku Utara. Ratusan tahun yang lalu daerah ini diperebutkan berbagai bangsa Eropa.

Benteng-benteng pertahanan dan bangunan kerajaan seolah menjadi saksi bisu yang hingga kini memendam banyak bukti sejarah. Wisatawan pun bisa berkunjung untuk napak tilas masa kejayaan Ternate di sana.

Dari banyaknya benteng dan bukti sejarah lain, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Ternate merekomendasikan empat tempat yang wajib dikunjungi saat napak tilas sejarah ke sini.

Berikut  empat tempat yang direkomendasikan saat peluncuran Calendar of Event Maluku Utara di Kamenterian Pariwisata, Selasa (13/3/2018).

1. Benteng Kalamata

Benteng Kalamata merupakan benteng yang dibangun Portugis tahun 1540. Berada di Kelurahan Kayu Merah, Kota Ternate Selatan, sehingga benteng ini kerap disebut Benteng Kayu Merah.

Benteng ini terkenal di Eropa, karena sempat diduduki berbagai negara saat pelayarannya. Mulai dari Portugis yang membangunnya pada 1540, lalu dipugar Gubernur Jendral Belanda Pieter Both pada 1609, lalu diduduki Spanyol pada 1625.

Benteng Kalamata didesain menyerupai empat penjuru mata angin, dengan empat bastion berujung runcing dan memiliki lubang bidik senjata. Benteng ini berada di bibir pantai, dan terlihat dari Pulau Tidore juga Pulau Maitara.

2. Kedaton Kesultanan Ternate

Bukti kerajaan terbesar di Ternate ini hingga kini masih aktif berfungsi sebagai rumah kerajaan Sultan Ternate. Padahal dibangun sudah sejak 1813 oleh Sultan Muhammad Ali, dengan luas 1.500 meter persegi.

Kedaton ini berlokasi di Bukit Limau, Jalan Sultan Khairun, Kelurahan Sao Siau, Ternate Utara, Pulau Ternate, Maluku Utara.

Bangunan utamanya berbentuk segi delapan yang menyerupai seekor singa yang sedang duduk, dengan kedua kaki depan menghadap ke laut, dan Gunung Gamalama sebagai latar belakangnya.

Pada bagian tengah bangunan terdapat museum yang menyimpan benda geologi, etnografi, arkeologi, filologi, teknologi, seni rupa, dan keramik. Selain itu banyak juga peninggalan Kesultanan Ternate dan bangsa Eropa seperti mahkota, singgasana, peralatan perang, baju adat, hingga Al-Quran tulisan tangan.

3. Benteng Tolukko

Benteng Tolukko berdiri kokoh di sisi timur Pulau Ternate, Maluku Utara. Benteng ini dibangun di atas bukit yang menjorok ke laut di Kelurahan Sangaji, Kota Ternate.

Tak hanya strategis untuk memantau kedatangan kapal, benteng yang dibangun Panglima Portugis Fernando Serrao pada 1540 itu juga memiliki akses untuk mengerahkan pasukan ke pantai. Di puncaknya terhampar pemandangan lepas ke Laut Maluku, Pulau Tidore, dan pesisir barat Pulau Halmahera.

4. Benteng Oranje

Benteng Oranje dulunya hanya sebuah benteng tua yang dibangun oleh orang Portugis pada abad ke-16. Benteng tersebut berada di pusat Kota Ternate, tepatnya di Kelurahan Gamalama, Maluku Utara.

Salah satu benteng yang dibangun Portugis di Pulau Rempah ini jadi tempat hunian orang Melayu saat Portugis berkuasa, sehingga sempat disebut Benteng Melayu.

Pada tanggal 26 Mei 1607 benteng tua itu dibangun kembali oleh Cornelis Matclief de Jonge. Setelah itu, benteng tersebut dinamai Benteng Oranje oleh Francois Witlentt pada tahun 1609. Nama Benteng Oranje pun terus digunakan hingga sekarang.

travel.kompas.com/Image mytrip.co.id