Tradisi Serak Gulo, Ikon Wisata Kota Padang

Tradisi Serak Gulo, Ikon Wisata Kota Padang

Padang : Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah mengatakan, budaya tradisi serak gulo dari warga keturunan India di Kota Padang merupakan budaya untuk mempersatukan antar warga, selain warga keturunan India, juga warga lainnya. Dengan beraneka ragamnya budaya yang ada, menunjukankan warga Kota Padang yang heterogen. Untuk itu pemerintah berkewajiban untuk menjaga dan memelihara budaya-budaya yang ada di Kota Padang.

Hal tersebut disampaikannya usai mengikuti tradisi serak gulo yang digelar oleh Ikatan Keluarga Keturunan India Kota Padang di depan masjid Muhammadan Pasar Batipuah Kecamatan Padang Selatan.

Dijelaskan Walikota, tradisi serak gulo yang memiliki makna tersendiri tersebut, Pemko Padang akan mengagendakannya setiap tahun dan masuk dalam Kalender Wisata Kota Padang.

Menurut Mahyeldi, selain tradisi serak gulo, masih banyak terdapat budaya dan kesenian warga keturunan India yang belum terangkatkan, untuk itu tahun depan Pemko Padang akan menggelar festival budaya tradisi serak gulo.

“Kita akan buatkan jadwal khusus untuk festival serak gulo ini, seminggu sebelum puncaknya, akan ada berbagai perlombaan tradisi India, dan ini sudah dijadikan Iconnya Kota Padang,” ujar Mahyeldi.

Sementara, Ketua Ikatan Keluarga Muhammadan Padang Alikhan Abu Bakar mengatakan, serak gulo tersebut merupakan tradisi turun-temurun yang yang diperingati setiap tahun pada 1 Jumadil Akhir penanggalan kalender Hijriyah, dengan menaburkan gula pasir yang diperebutkan warga dalam rangka memperingati hari lahir Souhul Hamid.

Dijelaskan, Alikhan Souhul Hamid salah seorang penyebar agama Islam dan serak gulo merupakan simbol manisnya ilmu yang diberikan. Tradisi serak gulo merupakan salah satu kebudayaan masyarakat India muslim yang dibawa ke kota Padang dimana di dunia hanya dilakukan pada tiga tempat yaitu di  Kota Padang, Singapura dan India. Kegiatan tersebut betujuan untuk menyambung silaturahim dan meningkatkan kepedulian untuk saling berbagi merupakan filosofi dari kegiatan tersebut.

“Makna dari serak gula adalah semacam bentuk nazar, apa yang kita inginkan dan cita-citakan, tapi bukan karena gulanya, semua pasti karena Allah SWT. Jumlah gula tidak dipatok boleh satu karung atau lebih, ini sebuah tradisi dari masyarakat India di Kota Padang,“ ujar Alikhan.

Ia menambahkan, terdapat sekitar 3 ton lebih gula telah disiapkan pada kegiatan tersebut.  Gula berasal dari sumbangan berbagai kalangan secara sukarela dari berbagai suku dan agama/ Gula pasir tersebut dibungkus dengan kain berwarna-warni mulai ukuran 100 gram hingga 500 gram.

Sebelum tebar gula dimulai, ritual diawali dengan doa bersama kemudian pemasangan bendera pada bagian atas masjid pada seutas tali dengan panjang 20 meter dan dilanjutkan dengan tebar gula yang dilempar oleh belasan petugas di atas atap Masjid Muhammadan.

rri.co.id