Peninggalan Sejarah di Pulo Geulis Kota Bogor

Peninggalan Sejarah di Pulo Geulis Kota Bogor

Di tengah Kota Bogor, tak jauh dari Tugu Kujang dan Kebun Raya Bogor ternyata berdiri sebuah pulau yang sangat bersejarah bagi beberapa agama, hingga leluhur kerajaan Sunda. Berkunjung ke tempat tersebut dapat menjadi alternatif wisata pendidikan, sejarah, religi, hingga hiburan pada beberapa perayaan tertentu.

Sebagian orang memang membayangkan bahwa sebuah pulau harus dikelilingi lautan. Namun, di Bogor, Sungai Ciliwung yang mengairi sebagian daratan Sunda harus terbelah dan menyatu kembali di satu tempat yang tidak jauh. Sehingga menyisakan sebongkah daratan yang disebut pulau atau orang Sunda dahulu menyebutnya pulo.

Pulo Geulis terletak tak jauh dari Kebun Raya Bogor, Tugu Kujang, dan Jalan Surya Kencana yang legendaris tersebut. Akses menuju lokasi tersebut dapat melewati dua jalur jembatan yang melintasi Sungai Ciliwung, yaitu dari Terminal Baranangsiang dan Suryakencana atau Pasar Bogor.

Saat berkunjung ke sana, KompasTravel direkomendasikan melewati Suryakencana, selain tidak terlalu membingungkan, juga bisa menikmati berbagai kuliner di jalan tersebut. Jika dari Stasiun Bogor cukup naik satu angkot 02 menuju Pasar Bogor, sedangkan dari keluar tol Jagorawi atau terminal Baranangsiang bisa menggunakan angkot 02 dengan rute sebaliknya, hanya 10 menit ke Pasar Bogor.

Menelusuri Jalan Suryakencana, Anda masuk melalui Jalan Roda Jaya, terletak berseberangan dengan Gang Aut. Jika melalui Pasar Bogor, juga berjalan ke Jalan Roda Jaya, hingga menemukan gapura masuk bertuliskan Kelurahan Babakan Pasar.

Masuklah ke sana dan tak terlalu rumit, tapi Anda perlu bertanya kepada warga sekitar. Tak lama dari sana jembatan panjang sekitar 20 meter menghantarkan Anda masuk ke gerbang pulau yang sarat akan sejarah.

Berhenti sejenak di tengah jembatan yang hanya memiliki lebar sekitar satu meter, Anda disuguhkan pemandangan yang menarik. Dari sana terlihat bentuk pulau yang membelah sungai, hanya sangat disesaki pemukiman warga, ujung pulau tersebut berarti ujung tembok rumah warga.

Hanya sekitar tiga menit setelah jembatan, langkah Anda akan terhenti di sebuah gerbang besi kuning, Vihara Maha Brahma. Masyarakat di sini juga mengenalnya dengan Kelenteng Pan Kho Bio. KompasTravel pun masuk dan disambut salah satu tokoh masyarakat di Pulo Geulis bernama Bram Abraham Halim. Ia meminta dipangil dengan sebutan Bram.

Bram merupakan salah satu tokoh masyarakat yang mempelajari sejarah Pulo Geulis beserta ragam peninggalan bersejarahnya. Ia juga yang turut menjaga kelenteng serta dipercaya menjelaskan kepada wisatawan tentang Pulo Geulis.

Dari pertemuan inilah petualangan dimulai. Bram bercerita banyak sekaligus mengantarkan beberapa wisatawan ke tempat-tempat menarik.

Di wihara ini terdapat berbagai peninggalan sebagai bukti masa kejayaan penghuninya dari masa ke masa. Selain itu juga lengkap dengan peralatan peribadatan Islam dengan peralatan solat, Buddha dengan patung Dewi Kwan Im, dan Konghucu dengan altar berbagai dewanya. Tak heran tempat ini bertuliskan wihara, namun juga dikenal sebagai kelenteng dengan dewa Pan Kho.

Pertama masuk, Anda akan melihat berbagai hiolo (tampat menancapkan hio atau dupa yang dibakar) di pelataran hingga pintu masuk. Jendelanya pun sangat kental sentuhan Konghucu, dengan bentuk pat-kwa warna-warni. Lampion-lampion merah pun menghiasi langit-langit di ruangan utama kelenteng yang tak begitu luas ini.

Bram pun mengajak wisatawan ke batu besar berselimut kain hijau dengan motif bunga coklat di ruangan utama. Ternyata batu tersebut dipercaya sebagai petilasan Embah Raden Mangun Jaya, salah satu karuhun atau leluhur masyarakat tradisional Sunda, yang masih merupakan keturunan dari Raja Pajajaran.

Menghadap ke depan terdapat altar lengkap dengan deretan patung para dewa bagi kepercayaan Konghucu. Dewa Pan Kho sebagai tuan rumah kelenteng Pan Kho Bio pun terletak di tengah teratas.

Firdaus, salah satu spiritualis sekaligus penganut keyakinan Konghucu yang sedang berkunjung mengatakan Dewa Pan Kho merupakan dewa teratas dalam kepercayaannya. Ia pun heran, jika di kelenteng lain terdapat dewa rezeki, bumi, dan sebagainya, di sini Dewa Pan Kho yang merupakan dewa alam semesta.

“Di kelenteng tertua ini, walaupun kecil tapi dewa yang mendiaminya dewa tertinggi dari dewa lainnya. Oleh karena itu saya diminta para leluhur untuk berkunjung ke sini, melihat realitasnya,” ujar Firdaus yang datang dari Tangerang bersama keluarga.

Tak jauh dari para dewa, terdapat patung tua Dewi Kwan Im warisan kelenteng tersebut sejak pertama ditemukan. Beranjak ke belakang bangunan, ternyata terdapat beberapa batas ruangan. Bram pun mengucapkan salam secara lengkap ketika memasuki ruangan belakang.

Nampak ruangan segi tiga berisikan dua batu besar yang dipercaya merupakan petilasan Embah Sakee dan Eyang Jayaningrat. Keduanya merupakan tokoh penyebar agama Islam pada masanya. Di sampingnya terdapat dua sajadah berbaris rapih menghadap kiblat, ternyata ini mushola tempat beribadah umat Muslim.

Setelah memanjatkan doa, Bram pun mengajak berpindah lagi ke bagian barat bangunan. Tak ada habisnya, terdapat lebih banyak lagi peninggalan-peninggalan bersejarah. Di antaranya arca kura-kura yang dalam filosofi Tionghoa sebagai lambang ketekunan dan panjang umur.

Lalu dua patung harimau hitam berbalut kain hijau, dan satu harimau putih kecil melambangkan kegagahan, kejayaan, dan keberanian. Dalam bahasa Sunda disebut maung yang juga melambangkan kekuatan Kerajaan Pajajaran.

Menurut Bram, patung-patung macan tersebut dipercaya jelmaan Raja Siliwangi. Prabu Siliwangi dipercaya sebagai Raja Pajajaran yang abadi, karena pengaruhnya dan membawa Pajajaran hingga masa kejayaan.

Selain itu di sampingnya terdapat makam Embah Imam, salah satu penyebar agama Islam di daerah Bogor dan sekitarnya. Selain mengadakan pengajian, Bram mengatakan umat Muslim pun ada yang berziarah ke makam ini, sebagai tanda penghormatan atas perjuangannya menyebarkan agama Islam.

Lepas dari berbagai peninggalan batu-batu monolitik, atau berbagai peninggalan lintas kepercayaan yang telah ada sejak kelenteng ini ditemukan, kelenteng ini memiliki keistimewaan dalam perayaan umat.

Sebagai kelenteng tertua saat perayaan Cap Go Meh, Toa Pe Kong sebelum diarak dicuci terlebih dahulu di sini. Selain itu Dewa Pan Kho sebagai tuan rumah pun dirayakan saat kelahirannya, yaitu lima hari setelah Imlek, tepat tanggal enam, masyarakat pun mengadakan syukuran diiringi musik kroncong.

Sedangkan umat Muslim, menurut Bram, biasa menggunakan saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan tempat buka bersama pada bulan Ramadhan.

Ditemukannya pulau yang membelah sungai Ciliwung

“Pulo Geulis konon sudah ditemukan pertama, kali lama sebelum zaman Kerajaan Pajajaran bertahta,” ujarnya memulai sejarah Pulo Geulis, kepada wisatwan saat berkunjung, Sabtu (21/5/2016).

Ia mengatakan, dalam naskah kuno sunda Pantun Mundinglaya Dikasumah karangan Ki Buyut Baju Rambeng, diceritakan ketika Mundinglaya menusuri Ciliwung ia menemukan Pulo Putri yang diyakini saat ini sebagai Pulo Geulis. Ini karena disepanjang Sungai Ciliwung tidak ditemukan lagi dataran luas di tengah sungai.

Lalu ketika Kerajaan Pajajaran berdiri 1482 tempat ini dijadikan salah satu tempat peristirahatan keluarga kerajaan, dengan nama Parakan Baranangsiang. Namun, menjelang runtuhnya Kerajaan Pajajaran akibat diserang Kerajaan Banten dan Cirebon tahun 1579-1687, pulo ini khususnya dan ibu kota Pakuan Pajajaran (Bogor) menjadi hutan belantara tak bertuan. Hingga ditemukan oleh saat ekspansi Ciliwung ketiga oleh Belanda pada 1703-1704, yang dipimpin Abraham Van Ribeck.

“Pulau ini ditemukan dalam ekspansi tersebut, dan sudah dihuni oleh bangsa pribumi (Sunda) juga Tionghoa. Menurut peneliti kemungkinan besar kelenteng ini juga sudah ada, karena terdapat berbagai prasasti di dalamnya,” ujar Bram kepada KompasTravel.

Ia mengatakan, menurut jejak sejarah kelenteng tersebut merupakan kelenteng tertua di Bogor dan salah satu yang tertua juga di nusantara. Sebelum ia tahu bahwa kelenteng ini salah satu yang tertua beberapa pengunjung datang dan mengatakannya.

Ada sejarawan yang sedang meneliti berdasarkan rekam jejaknya. Ada pula warga Tionghoa yang mengatakan berdasarkan buku tertentu, hingga spiritualis yang mengatakan berdasarkan mimpinya hingga ia diharuskan berkunjung kesana.

Salah satu lokasi paling strategis zaman kerajaan

Selain pernah menjadi tempat peristirahatan keluarga kerajaan pada zaman Pajajaran, berbagai prasasti yang ada didalamnya membuktikan eksistensi tempat ini pada masa kejayaannya.

“Beberapa keturunan Raja Pajajaran memiliki petilasan di sini, pemuka agama, hingga masyarakat Hindu membangun wihara, itu bukti betapa strategisnya tempat ini dulu,” ujarnya. Menurutnya zaman dahulu berbagai agama membangun tempat ibadat pasti bukan di tempat yang sembarangan.

Bram menambahkan, kondisi strategis tersebut tak luput dari peranan Sungai Ciliwung. Tak heran sungai tersebut dahulu merupakan jalur transportasi utama pada masanya. Oleh karena itu berbagai kerajaan, khususnya Pajajaran yang beribu kota di Bogor, hingga pemerintah Hindia Belanda pun berebut menduduki pulau tersebut.

Sejak dibangun jembatan oleh Belanda tahun 1923, dan hingga kini Pulo Geulis mulai didatangi sehingga sangat padat penduduk. Dengan luas sekitar 3,5 hektar, Pulo Geulis dihuni lebih kurang 200 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 2.500 jiwa, mayoritas dari keturunan Sunda dan Tionghoa.

travel.kompas.com