Penganugrahan Penghargaan Citra Pesona Wisata (Cipta Award) 2015

Penganugrahan Penghargaan Citra Pesona Wisata (Cipta Award) 2015

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya memberikan penghargaan kepada para pengelola (individu, kelompok, maupun organisasi) yang dinilai berhasil dalam mengembangkan obyek wisata dengan mengedepankan prinsip pembangunan kepariwisataan berkelanjutan (sustainable tourism development) pada acara Anugerah Citra Pesona Wisata (Cipta Award) 2015, berlangsung di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, kantor Kementerian Pariwisata.

Menpar Arief Yahya menyambut baik diselenggarakan Penganugerahan Penghargaan Cipta Award yang telah berlangsung sejak tahun 2000. Pemberian penghargaan sebagai bentuk apresiasi pemerintah (Kemenpar-Red) yang terbagi dalam 4 kategori; wisata bahari, wisata budaya, wisata alam, dan wisata buatan. “Sustainable tourism development menjadi isu global yang mendapat perhatian semua negara. UN-WTO dalam memperingati Hari Pariwisata Dunia (World Tourism Day) 2015 menetapkan tema “Ones Billion Tourists, One BilionOpportunities” yang kemudian kita gunakan tema turunannya yaitu; “Semakin Dilestarikan, Semakin Mensejahterakan,” kata Arief Yahya, pada kesempatan jumpa pers Cipta Award, Selasa (8/12).

Menpar Arief Yahya menjelaskan, prinsip ramah lingkungan atau green tourism menjadi bagian penting dalam persaingan global. “Dalam menghadapi persaingan global, kita berusaha memperbaiki peringkat daya saing agar pariwisata Indonesia dalam lima tahun ke depan berada di ranking 30 dunia, dari posisi semula tahun lalu di ranking 70, tahun ini naik di ranking 50 dunia,” kata Arief Yahya.

Posisi pariwisata Indonesia di ranking 50 dari 141 negara tersebut memiliki keunggulan dalam hal; price competitiveness, prioritization of travel & tourism, dan natural resources, sedangkan kelemahannya adalah dalam hal tourism service infrastructure, health and hygiene, dan environmental sustainability. World Economic Forum (WEF) dalam Travel and Tourism Competitiveness Report 2015 menyebutkan indeks daya saing pariwisata Indonesia untuk environmental sustainability terjadi penurunan hingga 9 poin, tahun 2013 berada diposisi 125 menurun diposisi 134 pada 2015. Kondisi ini menjadi PR bersama.

Menpar Arief Yahya juga mengingatkan bahwa pariwisata ke depan akan menjadi leading sector. Dari 5 prioritas pembangunan nasional yakni; infrastruktur, maritim, energi, pangan, dan pariwisata, yang menjadi andalan adalah pariwisata karena trend-nya sebagai penghasil devisa terus meningkat. Saat ini lima sektor sebagai penghasil devisa negara terbesar adalah migas, batubara, kelapa sawit, karet olahan yang kesemuannya memiliki karakter sebagai non-renewable, dan pariwisata yang berada di urutan ke-lima dengan karakter sebagai renewable.

Oleh karena itu, target sektor pariwisata dinaikkan dua kali lipat dalam lima tahun ke depan; meraih kunjungan 20 juta wisman dan menggerakan 275 perjalanan wisnus, menghasilkan devisa Rp 240 triliun, kontribusi terhadap perekonomian (PDB) nasional sebesar 8%, dan menciptakan 13 juta lapangan kerja.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kemenpar Dadang Rizki Ratman mengatakan, sasaran dari pemberiaan Citra Pesona Wisata Award adalah untuk memotivasi marsyarakat agar aktif melakukan pengembangan obyek wisata dengan kondisi geografis, seni ataupun budaya di daerahnya agar menjadi potensial dan memiliki manfaat dan nilai tambah ekonomi dan sosial bagi kehidupan masyarakat sekitar.

Tim Juri Citra Pesona Wisata Award 2015 yang diketuai Firmansyah Rahim memilih 200 wilayah yang kompeten dan potensial, dan diusulkan sebagai calon kandidat. Kriterianya adalah daerah yang melalukan inisiatif pengembangan objek wisata baik oleh individu, kelompok ataupun organisasi. Calon kandidat tersebut oleh tim juri kemudian dipilih menjadi 8 kandidat. Tahap berikutnya melakukan kunjungan ke 8 kandidat objek atau tujuan wisata tersebut untuk menentukan 4 kandidat terbaik, yang akan ditentukan menjadi pemenang dalam kategori; wisata bahari, wisata budaya, wisata alam, dan wisata buatan.

Sumber : Biro Hukum dan Komunikasi Publik/Kemenpar