Mencari Keberadaan Gerbang Majapahit Dengan Ilmu Bumi

Mencari Keberadaan Gerbang Majapahit Dengan Ilmu Bumi

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya saat ini tengah terlibat dalam penelitian  mengenai situs Majapahit.

Melalui Pusat Studi Kebumian, Bencana dan Perubahan Iklim (PSKBPI), ITS berkolaborasi dengan peneliti sejarah Sigit Haryadi untuk mengidentifikasi sejumlah situs terpendam di Kabupaten Sidoarjo.

Ketua PKSBI Amien Widodo menyampaikan, berdasarkan penginderaan georadar, terdapat lebih dari 30 situs terpendam yang tersebar di tiga kecamatan di Sidoarjo, yakni di Kecamatan Taman, Krian dan Balongbendo.

Amien menyampaikan, pihaknya tertarik untuk mendalami hipotesis peneliti sejarah Sigit Haryadi bahwa daerah Sidoarjo memiliki keterkaitan dengan pusat kota Majapahit di Trowulan, Mojokerto.

Salah satunya, menurut Amien, adalah hipotesis bahwa daerah Plawangan di Kecamatan Balongbendo merupakan gerbang kerajaan Majapahit.

“Orang banyak terkejut, kenapa ITS melakukan itu. Kita ingin berkontribusi. Kita punya alat-alat, seperti georadar untuk mendeteksi bangunan. Kalau ada candi, misalnya, bentuknya seperti apa, rongganya seperti apa,” ujar Amien.

Menurut Amien, ITS ingin menggunakan sains dan teknologi untuk membantu masyarakat. Dengan seminar yang diselenggarakan, kata Amien, pihaknya ingin mengajak yang lain untuk terlibat, khususnya para pakar berbagai disiplin di ITS.

“Sementara kita masih sukarela. Karena dana pengabdian masyarakat kita sangat kecil, jadi upaya kita masih terbatas,” ujar dia

Hadir sebagai salah satu pembicara, peneliti sejarah Sigit Haryadi menyampaikan, sudah dua tahun terakhir ia dan sejumlah rekannya meneliti situs-situs Majapahit di Sidoarjo secara mandiri. Menurut Sigit, hingga saat ini, sejarah Majapahit masih menyisakan berbagai misteri.

“Banyak pertanyaan saya, dengan kebesaran Majapahit, apakah pusatnya hanya sebesar Kecamatan Trowulan hari ini? Dari hasil penelitian kami sementara ini, kami berkesimpulan, pusat kota Majapahit lebih luas. Terbentang mulai dari pintu gerbangnya di Plawangan Sidoarjo,” ujar peneliti muda yang pernah terlibat dalam peneliti UNESCO itu.

Plawangan, menurut Sigit, dalam Bahasa Jawa artinya muara, pertemuan air laut dan sungai. Tapi yang menarik, menurut Sigit, daerah Plawangan di Sidoarjo tidak dekat laut ataupun sungai, tetapi di tengah sawah dan hutan. Ia berasumsi, Plawangan adalah pintu gerabang pertemuan antar manusia.

Berdasarkan penelitiannya juga, Sigit mengajukan hipotesis yang berani, yakni bahwa situs-situs Majapahit sengaja dipendam atau sengaja disembunyikan, bukan terkubur akibat bencana alam. Menurut Sigit, ada maksud tertentu upaya penyembunyian situs-situs Majapahit dilakukan.

Sirna ilang kertaning bhumi, seperti tertulis di Kitab Negara Kertagama, banyak yang berasumsi hitungan tahun. Tapi menurut saya, itu ada sesuatu yang akan disembunyikan. Penyembunyian itu tidak begitu saja, tapi sengaja diberi tanda-tanda. Sekarang kita sedang menelusuri tanda-tanda itu,” ujar Sigit.

republika.co.id/image bocahpetualang.com