“Tugu Pergerakan Kemerdekaan” Mengenang Perjuangan Rakyat Bangka

“Tugu Pergerakan Kemerdekaan” Mengenang Perjuangan Rakyat Bangka

Peristiwa sejarah pergerakan kedua yang terjdi di Bangka adalah pengasingan pemimpin pemimpin republik. Pada tanggal 19 Desember 1948 Ibukota Republik Indonesia di Yogjakarta diduduki Belanda melalui Agresi Militer ( sejak tahun 1946 Ibukota Republik Indonesia Pindah dari Jakarta ke Yogjakarta). Istana kepresidenan di kepung oleh pasukan belanda di bawah pimpinan Kolonel Van Langen. Karena kecilnya jumlah pasukan pengawal Presiden maka mereka oleh Presiden Soekarno diperintahkan untuk menyerah. Para pemimpin Republik beserta sekitar 150 (seratus lima puluh) orang menjadi tahanan rumah di dalam istana kepresidenan di Yogjakarta selama tiga hari. Pada pukul 07.00 WIB tanggal 22 Desember 1948 Kolonel Van Langen memerintahkan para Pemimpin Republik untuk berangkat ke Pelabuhan Udara Yogjakarta untuk diterbangkan tanpa tujuan yang jelas. Selama di perjalanan dengan menggunakan pesawat pembom B-25 milik angkatan udara Belanda tidak satupun yang tahu arah tujuan pesawat, pilot mengetahui arah setelah membuka surat perintah di dalam pesawat akan tetapi tidak disampaikan kepada para Pemimpin Republik. Setelah mendarat di Pelabuhan Udara Kampung Dul Pangkalpinang ( sekarang Bandara Depati Amir) para pemimpin republic baru mengetahui bahwa mereka diasingkan ke Pulau Bangka, akan tetapi Rombongan Presiden Soekarno, Sutan Sjahrir, dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim terus diterbangkan lagi menuju Medan, Sumatera Utara, untuk kemudian diasingkan ke Brastagi dan Parapat. Drs. Moh. Hatta (Wakil Presiden), RS. Soerjadarma (Kepala Staf Angkatan Udara), MR. Assaat (Ketua KNIP) dan MR. AG. Pringgodigdo (Sekretaris Negara) diturunkan di Kampung Dul Pangkalpinang dan terus dibawa ke Gunung Menumbing Mentok dengan dikawal truk bermuatan tentara Belanda.

Pada tanggal 5 Februari 1949 Presiden Pertama RI Bung Karno dan Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri) tiba di pelabuhan Pangkalbalam dari pengasingan di Parapat dengan pesawat Catalina untuk bergabung dengan pemimpin pemimpin republik lainnya yang telah diasingkan lebih dulu di Menumbing.Kedatangan Bung Karno disambut dengan antusias masyarakat Pangkalpinang, mereka menaiki bagian depan Mobil BN 2 dan disepanjang jalan dielu-elukan masyarakat dengan pekik Merdeka. Kedatangan Bung Karno memberikan dorongan moril yang sangat besar bagi pejuang pejuang pro Republik di Bangka, untuk mempertahankan dan merebut kembali kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalau dipelajari sesungguhnya pada saat itu pusat pemerintahan Republik Indonesia berada di Bangka, sebab dalam kenyataannya, MR Syafrudin Prawiranegara yang menerima mandat membetuk PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) di sumatera tidak menjalankan mandatnya karena pemimpin pemimpin republik (hampir separuhnya) berada di Bangka. Pada keesokannya datang pula beberapa tokoh seperti dr. Darma Setiawan, Prof. Soepomo, dan dr. J Leimena, selain itu datang juga tiga orang tokoh BFO (Bijeenkomst Voor Federal Overleg), Mr. Soejono, Anak Agung Gde Agung, dan dr. Ateng, mereka datang untuk merundingkan bentuk Negara Indonesia dimasa depan. Awalnya perundingan perundingan dilaksanakan di Menumbing, kemudian perundingan dipindahkan ke Pangkalpinang (lokasinya Sekarang dijadikan Museum Timah Indonesia) karena peserta perundingan bertambah dengan hadirnya pejabat dari KTN (Komisi Tiga Negara). Selesai pelaksanaan perundingan para Pemimpin Republik tidak langsung pulang akan tetapi menginap di rumah tersebut (Sekarang dijadikan Museum Timah Indonesia), rumah terdiri atas lima kamar, satu kamar besar digunakan untuk berunding dan empat kamar lainnya digunakan untuk kamar tidur. Pada malam harinya para pemimpin diundang oleh Ketua Dewan Bangka Masjarif Datuk Bendaharo Lelo dan Demang Kepala Pangkalpinang Sidi Menek. Kedatangan para pemimpin ke Pangkalpinangpun dimanfaatkan oleh masyarakat Pangkalpinang untuk berkunjung walaupun hanya sekedar bersalaman. Pemimpin yang paling lama tinggal di rumah ini adalah Bapak TNI Angkatan Udara kita RS. Soerjadarma, orang Pangkalpinang sangat menghormatinya. Melalui beberapa kali perundingan atau Diplomasi di Pangkalpinang lahirlah Konferensi Roem Royen atau Roem-Royen Statement tanggal 7 Mei 1949 yang salah satu isinya bahwa pemerintah Belanda menyetujui kembalinya Pemerintahan Republik Indonesia ke Jogjakarta. Pada tanggal 6 Juli 1949 Presiden Soekarno dan Rombongan kembali ke Yogjakarta pada saat ini Bung Karno mengatakan bahwa “Dari Pangkalpinang pangkal kemenangan bagi perjuangan”. Akhir dari perjuangan diplomasi dan fhisik tersebut pada tanggal 27 Desember 1949 di Den Haag dalam Konferensi Meja Bundar, ditandatangani pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintah Belanda.

Pengasingan dan Pembuangan adalah cara yang dilakukan oleh Belanda untuk mengakhiri perlawanan dan menjauhkan pengaruh pemimpin terhadap rakyatnya, hak istimewa untuk mengasingkan dan membuang para pejuang disebut dengan EXORBITANTE RECHTEN. Cara Kolonial ini ternyata sangat efektif untuk menumpas perlawanan rakyat di berbagai kerajaan kerajaan tradisional di daerah seperti perlawanan yang dipimpin Diponegoro, Imam Bonjol, Cut Nyak Dhien, Depati Amir dan pemimpin lainnya. Akan tetapi pengasingan dan pembuangan yang dilakukan terhadap para pemimpin Republik tidak membawa hasil bagi Belanda karena strategi dan taktik perjuangan yang dilakukan bangsa Indonesia sudah diubah, disamping melakukan perlawanan fhisik dilakukan juga perlawanan melalui Diplomasi atau perundingan yang jauh lebih efektif. Untuk pelurusan Sejarah, anggapan bahwa peristiwa sejarah yang terjadi di luar Jawa adalah Little Historical Events (Peristiwa sejarah yang kecil), sedangkan peristiwa sejarah yang terjadi di Jawa adalah Great Historical Events (Peristiwa sejarah yang besar) harus segera dihilangkan. Memang tidak semua peristiwa sejarah di daerah dapat di Indonesiakan, namun untuk merajut simpul simpul ke Indonesiaan peranan sejarah di daerah harus tetap diperhatikan.

Sebagai wujud dari rasa syukur Rakyat Bangka terhadap jerih payah perjuangan pergerakan kemerdekaan, dibangunlah tugu pergerakan kemerdekaan. Tugu Pergerakan Kemerdekaan terletak di dalam areal Tamansari (Taman Wilhemmina), bersebelahan dengan Rumah Residen (Rumah Dinas Walikota Pangkalpinang). Tugu Merdeka dibuat untuk mengenang perjuangan rakyat Bangka melawan penjajahan Belanda. Berdasarkan tulisan pada prasasti di tugu tertulis “Surat kuasa kembalinya ibukota Republik Indonesia ke Jogyakarta, diserahterimakan oleh Ir. Soekarno kepada Sri Sultan Homengkubuwono IX – Media Juni 1949”. (Prasasti yang terdapat di Tugu Pergerakan kemerdekaan Tamansari hilang tidak diketahui rimbanya). Menurut catatan sejarah Tugu Merdeka Tamansari diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1949 oleh Wakil Presiden RI Drs. Mohammad Hatta. Tugu tersebut di bangun dengan Arsitektur yang unik dan menarik terdiri atas 3 bagian, pada bagian bawah berbentuk Punden berundak undak berbentuk segi delapan dengan undakan sebanyak 17 (tujuh belas) undakan, yang memiliki makna, 17 (tujuh belas) undakan, berarti tanggal 17 saat diresmikannya Tugu Pergerakan Kemerdekaan, dan Undak-undak bersegi delapan diartikan sebagai bulan delapan atau bulan Agustus saat diresmikannya Tugu Pergerakan Kemerdekaan. 17 (tujuh belas) Undakan ditambah 1 (satu) Yoni dan 1 (satu) Lingga berjumlah 19 (sembilan belas) kemudian Jumlah undak undak dikalikan panjangnya tiap – tiap lingkar segi delapan berjumlah 49 meter, dapat diartikan Tugu Perjuangan Kemerdekaan dibuat pada tahun 1949. Bagian tengah tugu berbentuk Yoni sedangkan bagian atas berbentuk Lingga dengan ukuran yang simetris sehingga tampak serasi. Tinggi keseluruhan mulai dari undak terbawah sampai puncak Lingga setinggi 7,65 m, terdiri dari tinggi undak dan yoni 1,65 m dan tinggi lingga 1,65 m dan tinggi Yoni 4,35 m, dengan luas areal Tugu seluas 168 m2, secara geografis tugu ini di sebelah Utara berbatasan dengan Jl. Ican Saleh, di sebelah Selatan berbatasan dengan Lapangan Merdeka, dan di sebelah Barat berbatasan dengan Jl. Kartini, dan sebelah Timur berbatas dengan Rumah Dinas Walikota atau rumah Residen.

wansedeng.blogspot.com