Destinasi Baru Wisata Sejarah Di Temanggung “Situs Liyangan”

Destinasi Baru Wisata Sejarah Di Temanggung “Situs Liyangan”

Bekas ladang tembakau yang juga tempat penambangan galian golongan C di Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, ternyata menyimpan peninggalan sejarah zaman Mataram Kuno.

Situs Liyangan di lereng Gunung Sindoro tersebut saat ini masih dalam tahap ekskavasi guna membuka seluruh lahan agar benda-benda purbakala yang ada di dalamnya terlihat dan nantinya bisa menjadi objek wisata sejarah menarik.

Tidak sulit untuk mencari lokasi Situs Liyangan yang kini mulai ramai dikunjungi wisatawan. Situs Liyangan berjarak sekitar 20 kilometer arah barat laut dari pusat kota Temanggung atau sekitar 4 kilometer dari kota Kecamatan Ngadirejo.

Di area Situs Liyangan pengunjung juga bisa menikmati pemandangan hamparan tanah yang terletak persis di bawah kaki Gunung Sindoro dengan alam menghijau serta udara sejuk karena terletak pada ketinggian 1.200 di atas permukaan laut.

Meskipun masih butuh waktu panjang untuk mengetahui secara utuh kompleks Situs Liyangan tersebut, pengunjung kini bisa menikmati sejumlah peninggalan bangunan sejarah yang telah ditemukan, antara lain talud, batur, candi, dan artefak.

Sejumlah bangunan tersebut ditemukan terpendam tumpukan material vulkanis dengan ketinggian antara delapan hingga 10 meter.

Pengunjung bisa menyaksikan langsung proses ekskavasi jika kebetulan tim Balai Arkeologi Yogyakarta maupun Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah melakukan penggalian atau ekskavasi di situs tersebut.

Temuan Situs Liyangan ini menambah kekayaan peninggalan sejarah di Kabupaten Temanggung. Tidak jauh dari Situs Liyangan juga terdapat Candi Pringapus dan juga mata air Jumprit yang setiap tahun airnya dimanfaatkan umat Buddha dalam perayaan upacara Waisak di Candi Mendut dan Borobudur.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Temanggung Didik Nuryanto mengatakan bahwa keberadaan Situs Liyangan ke depan dapat dikembangkan dalam suatu paket wisata sejarah, yakni Prasasti Gondosuli, Candi Pringapus, dan Situs Liyangan.

“Pengembangan wisata perlu didukung adanya paket wisata sehingga pengunjung dalam suatu wilayah dapat menyaksikan sejumlah destinasi sehingga bisa efisien waktu,” katanya.

Ia mengatakan bahwa Liyangan merupakan situs yang sangat kompleks bukan hanya tempat ibadah berupa candi, tetapi juga ditemukan kawasan permukiman dan pertanian kuno. Berbagai artefak dari keramik atau tembikar juga ditemukan, antara lain berupa kendi, mangkuk, dan periuk. Selain itu, juga ditemukan barang dari jenis logam, seperti lampu gantung dan senjata.

Selain dari negeri Tiongkok, kata dia, ada juga temuan gerabah asal Thailand dan Vietnam. Gerabah dari luar negeri itu lebih halus dibanding buatan lokal karena diglasir.

Berdasar kajian, katanya keramik di Liyangan berasal dari Guangdong, Changsha, dan Xian negeri Tiongkok. Diperkirakan waktu itu sekitar abad IX–X Masehi keramik dari daerah tersebut memang paling populer dan diperdagangankan hingga masuk wilayah Indonesia.

Ketua Tim Ekskavasi Situs Liyangan dari Badan Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto mengatakan bahwa fakta-fakta baru telah ditemukan, antara lain penemuan arang bambu dan kayu yang diprediksi telah ada sejak abad VI. Hal ini mematahkan dugaan awal yang menyebut Liyangan ada sejak abad IX.

Selain itu, ditemukan pula sebuah bangunan bertipikal berbeda dengan yang pernah ditemukan sebelumnya, yakni munculnya Jaladwara atau bangunan suci, seperti petirtan, dengan ujung pancuran berbentuk makara atau binatang air mitologi kuno.

Menurut Sugeng, Situs Liyangan ini merupakan penemuan situs terlengkap yang ada pada zamannya, yakni Mataram Kuno.

“Lokasi penggalian ke depan akan semakin bertambah luas dari yang ada saat ini, sekitar 6–7 hektare.

Diprediksi Situs Liyangan merupakan kompleks permukiman yang dilengkapi dengan tempat pemujaan agama Hindu dan terdiri atas tiga bagian, yakni hunian, peribadatan, dan areal pertanian. Selain itu, lokasi situs ini juga dikelompokkan menjadi beberapa halaman yang dibatasi oleh talut-talut.

Ia mengatakan bahwa temuan berbagai benda purbakala tersebut menunjukkan bahwa di kompleks ini dahulu ada peradaban. Tidak hanya itu saja, arang yang ditemukan juga mengindikasikan bahwa temuan itu merupakan bagian dari rumah kuno yang terkubur karena ditemukan juga atap ijuk yang ikut terpendam.

Destinasi Baru Meskipun kompleks Situs Liyangan belum secara resmi dibuka sebagai objek wisata, hampir setiap hari ada pengunjung, baik masyarakat umum maupun pelajar dan mahasiswa.

Petugas keamanan Situs Liyangan, Budiono menuturkan bahwa setiap hari selalu ada pengunjung. Pada hari libur, jumlah pengunjung cenderung lebih banyak.

Ia mengatakan bahwa pengunjung bukan hanya dari masyarakat umum yang merasa penasaran dengan ditemukannya Situs Liyangan di kawasan penambangan pasir ini, melainkan juga para pelajar yang datang berombongan bersama gurunya, bahkan sejumlah wisatawan mancanegara juga sering datang ke sini.

Berdasarkan daftar buku tamu, kata dia, pengunjung selama Januari 2015 mencapai 1.126 orang. Mereka bukan hanya datang dari Temanggung, melainkan juga dari Wonosobo, Magelang, Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta.

Ismail, guru mata pelajaran IPS SMP Islam Soedirman Kaloran, Temanggung, yang datang bersama puluhan muridnya mengatakan bahwa pihaknya berkunjung ke Situs Liyangan untuk studi lapangan berkaitan dengan mata pelajaran yang diampunya.

“Anak-anak kami ajak ke situs ini agar mengetahui secara langsung peninggalan nenek moyang. Sebenarnya kami juga ingin mengetahui proses ekskavasi, tetapi kebetulan sekarang tidak ada proses tersebut,” katanya.

Ia mengatakan bahwa Kabupaten Temanggung ternyata memiliki potensi luar biasa berupa peninggalan sejarah yang nantinya bisa dikembangkan sebagai objek wisata sejarah yang menarik.

“Apalagi, di sekitar Situs Liyangan ini juga ada objek wisata sumber air Jumprit, Candi Pringapus, dan juga Prasasti Gondosuli,” katanya.

Ia berharap ke depan Situs Liyangan bisa menjadi objek wisata baru yang menarik dan juga sebagai tempat belajar bagi para siswa untuk lebih mengenal sejarah.

Kepala Desa Purbosari Saifudin Ansori mengatakan sudah puluhan jenis benda bersejarah yang ditemukan di kompleks Situs Liyangan. Namun, sayangnya pemerintah hingga saat ini belum merealisasikan rencana pembangunan museum untuk menyimpan benda-benda temuan tersebut.

Pemerintah sudah berencana membangun museum. Akan tetapi, kata dia, sampai sekarang belum direalisasikan, padahal Liyangan sangat membutuhkan museum karena tempat yang digunakan untuk menampung benda-benda temuan itu sudah mulai penuh.

“Kami berharap pemkab segera membangun museum. Selain untuk mengamankan benda-benda bersejarah, museum nantinya bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan,” katanya.

Menurut dia, banyak pengunjung yang sering menanyakan benda-benda temuan di Situs Liyangan. Namun, belum bisa terlayani dengan optimal karena keterbatasan fasilitas.

semarang.bisnis.com / image wordpress.com