AD. Pirous: “Melukis itu Menulis”

AD. Pirous: “Melukis itu Menulis”

Maestro satu ini dilahirkan di Nangroe Aceh Darussalam, 11 Maret 1932 dengan nama Abdul Djalil Pirous dari seorang ibu berdarah Aceh dan ayah seorang saudagar keturunan Gujarat. Hijrah ke Bandung pada 1955 untuk study seni rupa di Institut Teknologi Bandung. Manikah dengan Erna Garnasih, putri dari Daeng Sutigna.

AD. Pirous dikenal dengan pelukis yang memercikkan spiritual kemanusiaan dengan bahasa simbol islami pada setiap karyanya. Lukisan dengan simbol kaligrafi, lukisan abstrak dan karya grafis Pirous mengisi museum seni rupa di tanah air dan mancanegara.

Maman Noor (alm) pernah mengamati proses kreatif kesenimanan AD. Pirous sebagai budayawan yang menjaga penghadiran Indonesia melalui karya-karyanya yang mendunia. Pembacaan terhadap situasi keseharian dimanifestasikan kedalam proses kreatif karya-karya AD. Pirous. Lukisan dan kesenian dijalaninya sebagai catatan yang mengendap dari informasi dan fenomena alam serta dunia religi yang telah menjadi satu dalam jiwanya.

“waktu itu tahun 1959, saya bersama Srihadi, Boet Mochtar dan Sadali membuat pameran di sebuah balai di sebrang hotel Savoy Homann. Saya masih ingat orang asing dari Denmark itu tertarik dan mau membeli lukisan saya dari karung goni bekas. Saya menemui Mochtar untuk menanyakan harga lukisan saya itu. Mochtar menyarankan saya untuk menjual dengan harga 6500 rupiah. Tapi saya katakan pada orang asing itu harga lukisan saya 5500 rupiah, dan dia setuju kemudian membeli seharga itu. itu adalah pengalaman saya pertama kali dan saat itu pula saya mendapatkan self-confident menetapkan diri sebagai pelukis”, tutur AD. Pirous.

Melukis bagi Pirous adalah dialog batin. “dialog antara apa yang saya pikirkan dan bagaimana saya menyatakan”, katanya. “..lukisan saya adalah catatan saya mengenai nilai-nilai kemanusiaan. Melukis itu seperti.. bernafas…berdoa”.

Hal yang penting, menurut Pirous, bukan bagaimana membahasakan atau bahasa artistik itu dibuat, tapi apa pikirannya dan pikiran itu disampaikan kepada orang lain.

“Tema tak perlu terlalu besar. Kecil tapi punya makna”, sarannya.