Kisah Laksamana Cheng Ho di Klenteng Sam Poo Kong Semarang

Kisah Laksamana Cheng Ho di Klenteng Sam Poo Kong Semarang

Klenteng Sam Poo Kong menjadi landmark yang wajib didatangi ketika datang ke Semarang. Di Klenteng ini, Anda akan menemukan bentuk akulturasi budaya masyarakat Tionghoa dengan masyarakat setempat yang menarik. Serta, cerita Laksamana Cheng Ho yang tersohor.

Klenteng Sam Poo Kong di Semarang sangatlah unik karena memiliki nilai sejarah yang berhubungan dengan Laksamana Cheng Ho, seorang pelaut Muslim dari Cina yang terkenal dengan perjalanan muhibahnya ke berbagai penjuru dunia dengan membawa misi damai.

Bangunan Klenteng Sam Poo Kong mempunyai luas 1.020 meter persegi dan didominasi warna merah yang sangat megah. Terlebih dengan banyaknya kepulan asap dupa dan bau hio, membuat kita seakan berada di dataran China. Dari berbagai sudut, maka kita akan mandapati penganut Budha, Konghucu, maupun Tao yang berdoa di tempat itu.

Bangunan klenteng merupakan bangunan tunggal beratap susun. Berbeda dengan tipe klenteng lain yang ada di Pecinan, klenteng ini tidak memiliki serambi atau balai gerbang yang terpisah, di bagian tengahnya terdapat ruang pemujaan Sam Po.

Menurut cerita, saat Laksamana Cheng Ho berlayar melewati Laut Jawa, ada seorang awak kapalnya yang sakit yaitu Wang Jinghong atau nama lainnya Dampo Awang atau Kiai Jurumudi Dampo Awang. Cheng Ho memerintahkan membuang sauh, kemudian merapat ke pantai utara Semarang dan mendirikan sebuah masjid di tepi pantai yang sekarang telah berubah fungsi menjadi Klenteng.

Bangunan itu sekarang berada di tengah kota Semarang diakibatkan Pantai Utara Jawa selalu mangalami pendangkalan karena sedimentasi sehingga lambat-laun daratan akan semakin bertambah luas ke arah utara. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat pemujaan, bersembahyang, serta tempat berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakkan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien.

Awalnya di tempat ini hanyalah berupa gua yang di dalamnya terdapat sebuah altar yang digunakan oleh Cheng Ho yang Muslim sebagai tempat shalat dan pengikutnya yang beragama lain. Saat Cheng Ho melanjutkan perjalanannya, gua tersebut tertimbun tanah longsor pada 1704 dan sebagai penghormatan terhadap Cheng Ho, masyarakat setempat menggali kembali serta membangun altar yang dilengkapi dengan patung Cheng Ho beserta pengawalnya. Gua ini biasa digunakan sebagai tempat meramal nasib yaitu dengan menggunakan tongkat-tongkat kecil yang bertuliskan angka.

Klenteng Sam Poo Kong dipengaruhi oleh dua jenis kebudayaan abad ke-14, yaitu kebudayaan Cina sebagai sumber dari nilai-nilai keagamaan dan tata cara prosesi sembahyang yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho dan masyarakat Tionghoa yang tinggal dan menetap di daerah Pulau Tirang (nama kota Semarang pada waktu itu), serta kebudayaan lokal Jawa pedalaman yang berpengaruh pada bentuk fisik bangunan Klenteng.

Saat kita berkunjung ke Sam Poo Kong, dari berbagai sudut kita akan mandapati penganut Budha, Konghucu, maupun Tao yang berdoa di sana. Sam Poo Kong, belakangan bukan hanya menjadi tempat sembahyang bagi para penganut  ajaran Tridharma, tapi juga menjadi tujuan bagi wisatawan yang berkunjung ke kota Semarang.

Sumber : travel.detik.com