Cap Go Meh Singkawang Bukan Sekedar Tontonan

Cap Go Meh Singkawang Bukan Sekedar Tontonan

Wakil Wali Kota Singkawang Abdul Muthalib mengingatkan perayaan Cap Go Meh bukan sekedar kegiatan rutin dan tontotan yang turun menurun sejak masa lalu. “Festival Cap Go Meh bukan hanya sekedar event dan tontonan saja, tetapi merupakan suatu kegiatan yang sakral, satu hal sakti, yang kramat yang harus kita dukung untuk mendapatkan barokah,” kata Abdul.

Ia berharap, dengan kebersamaan semua pihak, pelaksanaannya akan berlangsung lancar dan sukses.
Sekretariat pelaksanaan Festival Cap Go Meh 2015 Singkawang terletak di Jalan Hermansyah.
Sementara, Ketua Panitia Perayaan Imlek 2566 dan Cap Go Meh 2015 Singkawang, Janto Tjahyadin mengatakan, tahun baru Imlek bukanlah hal yang asing lagi bagi warga Tionghoa dan umat lainnya khususnya di Kota Singkawang.

“Karena event ini merupakan budaya turun temurun serta mendarah daging dari sejak dulu sampai sekarang, bahkan event ini telah menjadi budaya Nasional dan Internasional, terbukti dengan adanya antusias dan partisipasi dari negara-negara lain, yang diwakili oleh duta besar dan pihak terkait, untuk ikut memeriahkan acara Cap Go Meh,” katanya.

Oleh sebab itu, lanjut Sujanto, budaya ini harus tetap dilanjutkan dan dijaga demi citra dan generasi yang baik. “Bersama kita menjaga nama baik dan prestasi yang telah kita miliki,” harap  Janto.
Di tempat terpisah, Kabid Pariwisata Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Singkawang, Suryanto menyatakan siap mendukung perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2015.

“Beberapa hari lalu kita sudah mengundang para pelaku usaha pariwisata, seperti pengelola hotel, restoran, dan ODTW Singkawang. Pada intinya, kita siap mendukung perayaan event besar itu,” kata dia.
Disamping itu, dirinya juga meminta dukungan kepada masyarakat, seperti menyediakan “Home Stay” untuk pengunjung yang datang. “Kasihan nanti, tamu jauh-jauh datang ke Singkawang, dikarenakan tempat penginapan sudah penuh, akhirnya harus terlantar di pinggir toko,” kata dia.

Namun, dalam menyiapkan Home Stay, kata Suryanto, hendaknya memperhatikan kondisi tempat yang layak, seperti, fasilitasnya apa, airnya lancar apa tidak, serta kebersihan lingkungan. Untuk tarifnya, sesuaikan kondisi yang ada. “Jangan semau-semaunya menetapkan tarif,” pinta dia.

Jika masyarakat bersedia menyediakan Home Stay, dia mengimbau agar masyarakat mau bekerjasama dengan Disbudparpora. “Jika tempatnya ada, silahkan menghubungi Disbudparpora, nanti akan kita tawarkan kepada pengunjung jika memang memerlukannya,” kata dia.

Selain meminta kepada masyarakat untuk menyiapkan Home Stay, Suryanto juga saat ini sedang mendata keberadaan rumah kos yang ada di Kota Singkawang. “Mana yang masih kosong, nanti pengunjung akan kita arahkan ke sana,” ujar dia. Dalam hal ini, kata dia, fungsi pemerintah kota hanyalah menjembatani pengunjung yang memerlukan penginapan sementara guna menyaksikan event yang sudah mendunia ini.

Begitu juga dengan pihak hotel dan restoran, Disbudparpora mengimbau untuk jangan semaunya menaikkan tarif kamar. Karena berdasarkan kesepakatan antara Disbudparpora dengan PHRI Singkawang, pihak hotel hanya boleh menaikkan tarif kamar sekitar 50-100 persen saja. Namun haruslah disesuaikan dengan kondisi hotel.

Sumber : antarakalbar.com