Prosesi kirab Karnaval Solo Mementaskan Sejarah Solo

Prosesi kirab Karnaval Solo Mementaskan Sejarah Solo

SAAT itu, Sala (kini Solo) hanya sebuah desa biasa di tepi sungai besar yang kini disebut Bengawan Solo. Wajah Sala mendadak berubah total ketika Sri Susuhunan Paku Buwono II memindahkan Keraton Kartasura ke Solo. Peristiwa itu menandai awal berdirinya Kota Solo.

Prosesi boyongan dan pembangunan Keraton Surakarta sebagai ganti Keraton Kartasura pada tahun 1745 itu ditampilkan dalam karnaval budaya dan pertunjukan tari kolosal dengan judul Adeging Kutha Sala (Berdirinya Kota Solo), di Solo, Jawa Tengah,  Ini menjadi puncak peringatan Hari Ulang Tahun Ke-270 Kota Solo.

Prosesi kirab Karnaval Solo mengusung tema ”Merayakan Kostum Jawa”. Karnaval yang dimulai dari Ngarsopuro menuju Jalan Jenderal Sudirman ini sebagai penggambaran sejarah boyongan (pindah) Keraton Kartasura ke Sala. Karnaval ini juga menampilkan berbagai ubo rampe (sesajen) seperti cok bakal, ringin kembar, satwa gajah dan kuda, 17 macam jenang (makanan bertekstur halus dan lunak), niyaga (penabuh gamelan), taledhek (penari), abdi dalem (pekerja di keraton), dan lainnya layaknya prosesi 270 tahun lalu.

Karnaval dibuka drum band Pemkot Solo yang diikuti tiga pasang loro blonyo (sepasang pengantin Jawa). Aneka satwa yang kala itu juga diboyong ke Sala, dalam karnaval ini diganti patung, seperti patung gajah, kera, singa, dan unggas. Karnaval cukup mendapat perhatian warga yang memenuhi pinggir-pinggir jalan sepanjang rute.

Saat tiba di Jalan Jenderal Sudirman, karnaval disambung pergelaran tari kolosal Adeging Kutha Sala. Pertunjukan tari ini dibagi jadi lima adegan. Adegan diawali penggambaran suasana karut-marut setelah perang. Keraton Kartasura yang kala itu diserang pasukan Sunan Kuning luluh lantak. Ini membuat Paku Buwono II memutuskan pemindahan Keraton Kartasura.

Paku Buwono II selaku raja lantas memerintahkan pencarian lokasi baru untuk pembangunan keraton. Utusan Paku Buwono II memulai misi mencari lokasi yang dinilai paling tepat sebagai ibu kota kerajaan. Akhirnya, dipilihkan Desa Sala berjarak 10 kilometer arah timur Kartasura. Sala semasa itu dipimpin Ki Gedhe Sala.

Sang raja merasa cocok dengan Sala. Ia pun memerintahkan boyongan ke Desa Sala. Boyongan dari Kartasura ke Sala merupakan bedol keraton secara total. Digambarkan, kala itu puluhan ribu rakyat turut serta. Aneka satwa juga diboyong. Ibu kota kerajaan berpindah ke Sala.

Adegan tari diakhiri dengan penggambaran gotong royong, bahu-membahu membangun kerajaan baru, mulai dari membendung dan menimbun rawa, membuka lahan, dan membangun fisik keraton. Ribuan masyarakat Solo dan sekitarnya memenuhi area pertunjukan yang digelar di Jalan Jenderal Sudirman. Sayangnya pengaturan penonton kurang maksimal sehingga warga harus berdesak-desakan demi melihat adegan tari.

Karnaval Solo melibatkan 287 peserta dari berbagai unsur, seperti siswa SMA/SMK, kelompok sadar wisata, dan kelompok seni. Adapun tari kolosal melibatkan 270 penari profesional. Secara keseluruhan pergelaran ini melibatkan lebih kurang 830 orang, terdiri dari penari, peserta karnaval, dan pemusik.

Para penari yang terlibat, antara lain dari Studio Moncar Iswara, mahasiswa dan alumni Institut Seni Indonesia Surakarta, Komunitas Wisma Seni yang didukung SMKI Surakarta, Kelompok Teater Pelajar, dan Kelompok Lesung Bonoroto.

Koreografer pergelaran tari dipercayakan kepada Agung Kusumo Widagdo, seniman muda asal Solo yang belajar menari sejak umur 9 tahun dari empu tari Jawa, almarhum S Maridi. Pengalamannya berkarya sebagai koreografer yang melibatkan banyak penari dalam adegan kolosal tidak diragukan lagi. Karyanya antara lain Ngadeg Jejeg (2003), Sapu Jagad (2010), Kidung Dewi Sri (2012), dan Swara Bumi (2013).

Mempersiapkan karnaval dan pergelaran tari kolosal bukan pekerjaan mudah. Fafa Gendra Nata Utami, produser dan pemimpin proyek pergelaran tari Adeging Kutha Sala, menuturkan, tim kreatif harus pontang panting bekerja. Pasalnya, tim hanya memiliki waktu satu bulan untuk menyelesaikan pekerjaan besar ini. Dalam waktu singkat harus merangkul penari, pemusik, dan ratusan peserta pendukung. Tim segera melakukan riset singkat sejarah perpindahan keraton dari Kartasura ke Sala. Para seniman berlatih intensif setiap hari pukul 15.00 hingga pukul 17.00 di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo.

”Karnaval dan pentas tari ini mengisahkan isi sejarah Solo sehingga kami tidak mau salah menggambarkannya meskiini dalam pentas seni. Karena itu, sebelumnya dilakukan riset dari aneka sumber, pustaka, mewawancarai pangeran keraton dan sejarawan,” ujar Fafa.

Mengumpulkan 270 seniman tari profesional untuk berlatih bersama juga tidak mudah. Apalagi, tak sedikit dari mereka telah memiliki nama. ”Ini kerja besar, tetapi dengan waktu sangat pendek. Ini sangat menantang,” katanya.

Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mengajak segenap masyarakat Solo bersama-sama membangun budaya gotong royong, budaya memiliki, merawat, menjaga, dan mengamankan Kota Solo. Ini untuk mencapai visi masyarakat Kota Solo yang waras (sehat jasmani dan rohani), wasis (pintar), wareg (kenyang), mapan (sejahtera), dan papan (tempat tinggal layak).

Hasil kerja keras tim dan para seniman menuai hasil. Pentas tari menawan dan mendapat sambutan warga meski ada sejumlah kekurangan teknis.

Sumber : travel.kompas.com