Indahnya Perkawinan Budaya Cina dengan Jawa

Indahnya Perkawinan Budaya Cina dengan Jawa

Seniman lukis Bambang Simbah, sibuk menata dan mengamati dua lukisan yang dipasang di sebuah aula Klenteng Eng An Kiong Malang. Sesekali ia memperbaiki tata letak kedua bingkai lukisan. Dua lukisan berjudul “Sang Paliman” dan “Ojo lali budayane” menjadi bagian dari lukisan yang dipamerkan untuk memeriahkan tahun baru Cina atau Imlek.

“Lukisan saya selalu bertema budaya Jawa. Perpaduan aliran semi realis dan semi abstrak,” kata Bambang. Perupa yang telah puluhan tahun ikut pameran ini ingin memadukan antara budaya Jawa dengan kultur Cina. Apalagi pameran dilangsungkan di dalam Klenteng mulai 18-21 Februari. Menampilkan sebanyak 110 lukisan dari 31 seniman.

Menurutnya, kultur Jawa dan Cina mudah dipadukan. Lantaran berbagai kesenian Jawa juga sering tampil dan dipelajari etnis Tionghoa. Dalam lukisan Ojo lali budoyone digambarkan gunungan wayang, keris bermotif naga dengan topeng Malang dengan sejumlah karakter.

Berbagai jenis aliran hadir untuk memeriahkan Imlek yang diselenggarakan Asta Citra Perupa Malang Art. Pameran bertajuk “Jian Niam Hua” atau pesta Imlek ini dilangsungkan selama empat hari. Sejumlah pelukis kenamaan hadir, termasuk Benjamin Tan Boon Chauan asal Singapura. Benjamin merupakan pelukis berkebutuhan khusus yang melukis dengan mulut.

Selain itu juga ditampilkan lukisan Ketua Assosiation of Mouth and Foot Painting Artists Malang, Sadikin. Sadikin juga berkebutuhan khusus, melukis menggunakan kaki. Sadikin beraliran natural sering menggambar pemandangan dan alam. Sedangkan lukisan yang dipamerkan juga beragam, mulai gambar tokoh Presiden Sukarno, lukisan spiritual bergambar Dewi Kwan Im, kesenian tradisional karawitan dan barongsai.

“Semua ikut merayakan Imlek,” kata juru bicara Klenteng Eng An Kiong, Bonsu Anton Triyono. Selama ini menurut keyakina Agama Konghucu, Imlek tak hanya sekedar ritual budaya namun merupakan ritual keagamaan umat Konghucu. Berbagai rangkaian sembahyang yang dilakukan selama menjelang Imlek.

Seperti ritual sembahyang Sang Sien yang diselenggarakan pada tujuh hari menjelang tahun baru Imlek. Upacara sebagai bentuk pelepasan para dewa menghadap Tuhan sebelum tutup tahun. Para dewa dipercaya melaporkan perilaku manusia tiga hari sebelum Imlek. Setelah itu para dewa akan kembali ke bumi untuk mendampingi umat manusia.

“Ibadah Sang Sien merupakan ibadah mengantarkan dewa ke langit,” kata Rohaniawan di Yayasan Tri Dharma Eng An Kiong, Bonsu Anton Triono. Ritual dilakukan di altar utama Klenteng dipimpin seorang rohaniawan.

Sejumlah umat memegang dupa, memanjatkan doa. Upacara ini, katanya, dilakukan sebelum menyucian patung atau rupang dewa. Ritual menyucikan rupang atau patung dewa. Ritual ini merupakan tradisi etnis Tionghoa untuk menyambut perayaan Tahun Baru Imlek.

Membersihkan rupang dan rumah ibadah, katanya, dilakukan rutin menjelang Imlek. Agar saat ibadah dan perayaan Imlek berjalan denga penuh kesakralan. Lilin berwarna merah, berukuran raksasa bertebaran di sekitar klenteng.

Pembersihan tempat ibadah merupakan simbol penyucian diri umat Konghucu. penyucian ini dilakukan saat penghuni rupang sedang naik ke surga dan berharap dewa akan memberikan keberuntungan jika rupang tersebut disucikan.

Sumber : tempo.co