Demam Akik

Demam Akik

Demam Akik  Oleh Suryadi

“Batuan kalsedon (SiO2) yang tersusun berlapis-lapis dan berbagai warna, biasanya perhiasan”, demikian penjelasan sederhana salah satu edisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tentang kata akik, benda yang sekarang sedang membuat demam banyak orang di Indonesia.

Tapi jelas bahwa batu akik tidak sekedar punya makna sesederhana itu. Budaya batu akik adalah bagian dari kultur perhiasan orang Indonesia yang terkait dengan berbagai hal. Di Sumatera Barat, misalnya, budaya cincin akik sudah lama menjadi bagian dari identitas laki-laki Minangkabau. Memang batu akik tidak bisa dilepaskan dari budaya maskulinitas. Jenis batu mulia ini, yang terdiri dari berbagai warna dan beragam nama, baik yang diikat dengan emas maupun perak atau suasa, sering bertengger di jari manis dan/atau jari tengah kaum lelaki. Ada lelaki penggila batu akik yang memasang cincin akik di seluruh jari tangannya, dengan berbagai ukuran, yang kadang-kadang kelewat besar untuk ditenggerkan di jari manusia.

manfaat.co.id

Saya berasal dari etnis Minangkabau. Dalam konteks budaya Minangkabau, cincin akik asosiatif dengan kaum lelaki. Masih segar dalam ingatan saya, ketika di kampung dulu (di tahun 1970-an sampai 1990-an), kalau ada perempuan yang bercincin akik, maka orang menganggapnya bersifat kajantanjantanan  (kelelaki-lelakian), atau tomboy dalam istilah sekarang. Akan tetapi, tampaknya kini kalau ada wanita bercincin akik, orang menganggapnya hal yang biasa saja. Dunia memang terus berubah.

Nama akik itu sendiri belum diketahui asal usulnya secara pasti. Seorang teman di laman Facebook saya mengatakan bahwa akik berasal dari kata Arab ‘aqiq’ yang berarti ‘warna merah tua’. Akan tetapi mungkin juga ada semacam onomatope yang terkandung pada nama akik. Kawan tersebut mengatakan pula bahwa di kalangan ulama ada kegemaran menyimpan jenis batu akik tertentu. Mungkin ini semacam hobi, tapi siapa tahu mungkin juga ada nilai-nilai religius yang mereka percayai dari batu akik. Mungkin juga ada landasan tekstual dalam kitab-kitab fikih yang membuat para sejumlah ulama menyukai batu akik tertentu.

Di Minangkabau, seingat saya, batu akik asosiatif dengan kaum parewa, yaitu kaum yang condong mempertahankan adat dan bersikap agak abangan dalam soal agama. Saya masih ingat, di tahun 1970-an dan 80-an, para pemilik pedati, misalnya, selalu bercincin akik di jari mereka. Sampai batas tertentu cincin ini menjadi semacam senjata juga, selain berfungsi sebagai perhiasan: senyampang terjadi perkelahian, kalau cincin batu itu mendarat di jidat lawan, bisa menimbulkan bengkak besar (batonyong).

Kenyataan yang tampak menunjukkan bahwa budaya batu akik berkelindan pula dengan unsur-unsur yang bersifat magis dan supranatural, suatu arketip kepercayaan lama yang masih terus merentang benang merahnya hingga ‘Zaman Blackberry’ ini. Sudah sering kita dengar bahwa ada batu akik yang dianggap cocok dipakai oleh orang tertentu dan ada yang dianggap tidak atau kurang cocok dan bisa mendatangkan ketidakberuntungan kepada si pemakai. Batu akik yang cocok dipercayai dapat memberikan syafaat dan keberuntungan kepada pemakainya. Bagi seorang peneliti, dongeng-dongeng (jualan/bualan pedagang batu akik) seputar batu akik ini tentu menarik untuk direkam dan dianalisa.

Fitri Dahlia di laman Facebook saya menjelaskan bahwa bagi penjual atau pembeli, apalagi kolektor batu akik, yang paling utama adalah penjiwaannya. Para pencandu batu akik memiliki keterikatan batin yang kuat dengan jenis batu akik tertentu. Ibarat melihat lawan jenis yang menimbulkan rasa kesengsem: bila jatuh hati pada pandangan pertama, maka segala cara akan dilakukan untuk memilikinya. Dalam keadaan seperti itu, mistis, misteri, dan sugesti saling bercampur dan saling mendukung, bahkan bisa jatuh ke musyrik, jika dipandang dari perspektif agama (Islam).

Suara Pembaruan

Batu akik kecintaan akan disayang, kadang melebihi rasa cinta kepada istri: batu-batu akik koleksi pribadi akan disimpan di tempat yang terbaik, dengan tataan dan susunan yang rapi jali, dikeluarkan pada waktu-waktu tertentu, diseka-seka dan dibelai mesra, dipandang dengan penuh cinta, diajak bicara, terkadang dibawa ke tempat tidur seolah batu itu bernyawa seperti manusia, membuat kehangatan kepada pasangan di ranjang turun jadi suam-suam kuku.

Banyak pertanyaan yang dapat diajukan seputar budaya batu akik ini, misalnya tentang produsen (pencari dan penjual) dan konsumen (pembeli, pemakai): siapa, dari kelas sosial dan etnis apa mereka berasal. Juga Nilai ekonominya. (Konon ada batu akik yang harganya sampai ratusan juta rupiah).

Apa hubungan batu akik dengan personal dan social identity? Saya lihat banyak pejabat publik dan politkus yang jarinya dihiasi dengan cincin akik besar berlapis emas dan suasa dari jenis yang terbaik. Apakah dapat dikatakan bahwa besar kecilnya cincin akik di tangan seseorang – politikus misalnya – dan jenis logam mulia pengikatnya merepresentasikan tebal-tipisnya isi kantong orang itu?

Sudah makin jelas pula sekarang adanya kaitan antara budaya batu akik dengan dinamika politik lokal. Dalam sebuah laporan media disebutkan pejabat daerah menghadiahkan cincin akik yang terbaik kepada pejabat di atasnya dalam kunjunan sang ‘patron’ ke daerahnya. “Alis Marajo Hadiahi Muslim Kasim dan Marlis Batu Akik Lumuik Suliki”, demikian laporan media online Minang Terkini (http://www.minang-terkini.com/2015/01/alis-marajo-hadiahi-muslim-kasim-dan.html; diakses 22-1-2015). Bupati Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Alis Marajo, yang dikutip oleh media ini mengatakan:

minang-terkini.com

[P]eranan batu akik sekarang ini mampu untuk meningkatkan tali silaturrahmi antar berbagai pihak, baik para pejabat dengan masyarakat, maupun kalangan anggota dewan dengan konstituennya. Batu akik juga merupakan ajang sebagai pendekatan antar berbagai kalangan. Batu akik sudah banyak diminati dan menjadi rebutan berbagai kalangan masyarakat di Sumatera Barat.

Mungkin menarik menulis ‘politik batu akik’ atau ‘akik dan politik lokal Indonesia’. Di samping hal-hal yang bersifat praktis mengenai penggunaan baru akik, banyak pula bertebaran mitos di seputar budaya batu akik ini. Mitos-mitos seputar batu akik tersebut tentu penting pula didokumentasikan dan digali, suatu sisi menarik dari kosmologi lokal bangsa kita. Juga penting kiranya untuk diketahui, bagaimana pandangan masyarakat, khususnya kalangan Islam, terhadap mitos-mitos seputar batu akik tersebut.

Konon ada pula sekarang Batu Akik Award, di samping adanya pameran-pameran batu akik.Ini tentu aspek duniawi lain dari dunia para pencandu batu akik. Di sini kita melihat aspek budaya dan juga aspek ekonomi batu akik. Demikian pula halnya dengan nama-nama yang diberikan kepadanya – lumuik  Sungai Dareh, Lumuik Suliki, Lumuik karang, badar besi, dan dalimo, untuk sekedar menyebut contoh – yang tentusaja menarik pula dianalisa secara linguistik.

Saya coba menelusuri literaturklasik mengenai budaya batu akik dalam masyarakat kita, tapi belum saya temukan. Dugaan saya, budaya batu akik ini muncul kerena akses masyarakat umum kesumber-sumber emas dan intan milik mereka diambil alih oleh kuasa asing pada akhir abad 19. Argumen ini didukung oleh kemunculan kata akik pada sebuah pantun Minang kabau dari periode itu:

Bacincin parmato akiak,                                 Bercincin permata akik,

Talatak di ateh atok,                                           Terletak di atas atap,

Matolah pueh dekmancaliak,                         Mata sudah puas melihat,

Tangan takbuliah mangakok.                [Tapi] tangan belum boleh memegang.

Kalau kita mau menautkan makna kiasan (metaphor) pantun itu dengan argumen saya di atas, maka pantun itu mengandung semacam makna sindiran bahwa emas hanya dapat dilihat, tapi tak bisa dimiliki. Ini mengingatkan kita pada munculnya budaya minum kawa (kopi daun) karena buah kopinya sudah dikuasai oleh penjajah Belanda.Namun, hipotesi sini tentu perlu dibuktikan lebih jauh.

Kini demam batu akik sedang melanda masyarakat kita. Ratusan postingan (dalam bentuk tulisan, visual, atau gabungan keduanya) berseliweran di media sosial Facebook setiap hari, yang merefleksikan kegandrungan baru terhadap batuakik.(Nasibnya berbeda dengan budaya gelang akar bahar yang sekarang boleh dikatakan sudah lenyap).Hal ini mungkin akan dapat mengubah peta konsumen batu akik dan juga statusnya yang semula hanya asosiatif dengan kalangan masyarakat bawah.

Berbagai komentar di media sosial tersebut juga menunjukkan keberagaman persepsi terhadap budaya batu akik. Walaupun demikian, aspek maskulinitas batu akik itu tetap tampak, sebagaimana terefleksi dalam sebuah postingan berbahasa Minangkabau di Facebook yang kemudian membiak yang terjemahan Bahasa Indonesianya kurang lebih sebagai berikut: ‘Jika suami atau pacar Anda tidak pulang-pulang selama beberapa hari, maka janganlah khawatir benar, sebab berkemungkinan besar mereka berada di tempat tukang asah batuk akik.” Postingan ini lucu sekali, dan, sekali lagi, mengilatkan asosiasi batu akik dengan kaum pria. Ada pula yang secara bergurau (tapi perlu dimaknai lebih dalam) menyebutkan di Facebook bahwa masyarakat kita sekarang kembali ke zaman batu.

Sejauh pengamatan saya, kebanyakan postingan mengenai batu akik di Facebook berasal dari orang-orang yang berlatar etnis Minangkabau. Prof. Abdul Hadi WM mengatakan bahwa para pedagang batu akik di Jakarta memang berasal dari etnis Minangkabau. Sejauh manakah tradisi batu akik ini juga eksis di kalangan etnis lain di Indonesia? Ini tentu akan dapat ditelusuri melalui penelitian yang mendalam.

Singkat kata, kebiasaan bercincin akik dalam masyarakat kita adalah satu objek kajian budaya yang menarik. Banyak hal yang bisa diungkapkan dari tradisi modern ‘pemujaan’ terhadap batu mulia ini.

* Versi yang lebih pendek artikel ini dimuat dalam rubrik ‘renung’ Padang Ekspres, Minggu,

4 Januari 2015

Sumber :

Oleh Suryadi

(Leiden University, Belanda)