Sekilas Adat Perkawinan Suku Kerinci Daerah Kota Sungai Penuh

Sekilas Adat Perkawinan Suku Kerinci Daerah Kota Sungai Penuh

Adat perkawinan Suku Kerinci Daerah Kota Sungai Penuh mempunyai hubungan sosial yang dinamis,didahului masa muda mudi,seperti ungkapan “ Adat bunga di ulang kumbang,adat buah di ulang tupai” akan tetapi menyangkut pergaulan bebas antara muda mudi,merupakan pantangan adat dan masalahnya akan ditinjau dari pucuk larang undang yang delapan.

Untuk aturan menuju jenjang pernikahan bagi muda mudi didahului tukar menukar tando ( tanda)biasanya benda yang berharga ,seperti emas berupa cincin belah rotan,dalam adat diungkap”adat tanda menahan lalu, adat cihai menahan patah”,pelaksanaanya harus tepat waktu,janji dibuat dimuliakan,janji sampai ditepati.

Dalam prosesi pernikahan peranan Tengganai sangat penting, baik Tengganai pihak perempuan maupun tengganai pihak pria.Sebelum pernikahan satu pasangan mempelai sebelumnya terlebih dahulu dilalui proses perundingan perantara yang dinamai ”Undaing Pajaleang” yakni orang yang berkata dalam air berjalan dalam tanah( semacam mak comblang)

Namun kata akhir adalah perundingan antar Tengganai kedua belah pihak yang menetapkan kata sepakat jadwalkepastian acara penikahan akan dilaksanakan.   peletakan” tanda” (Tando) dari pihak pria dan Cihai dari pihak wanita. Cihai dipegang oleh Tegane ( Tungganai ) pihak Pria dan tando di pegang oleh Tengganai( Tungganai) pihak perempuan

Menurut sepanjang adat alam Kerinci,jika pihak perempuan mungkir janji,maka tanda dibayar dua kali lipat kepada pihak pria,jika pihak pria yang mungkir janji,maka semua cihai dan tanda tinggal untuk pihak perempuan.Tanda dan Cihai dikembalikan kepada masing masing pihak tegane setelah acara akad nikah dilaksanakan.Didalam kehidupan berumah tangga semuanya telah diatur menurut hokum islam yang diperkuat oleh ketentuan adat.

Hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan tokoh tokoh adat menyimpulkan,Sejak agama Islam tumbuh dan berkembang di alam Kerinci,adat pernikahan di alam Kerinci telah dilaksanakan dengan mempedomani aturan dan ajaran agama Islam,akan tetapi adat lama yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam masih dipakai,seperti menikah dengan semenda,dalam hal ini pihak pria mengikuti istri dan tinggal bersama di rumah orang tua istri( mertua)

Pada zaman dahulu adat muda mudi sebelum melansungkan pernikahan didahului dengan b ertukar’Karang nyanyai” semacam surat cinta yang terdiri dari daun daunan dan berupa buah buahan kecil seperti enjelai,padi padi,buah siduduk. Dll. Yang mengandung makna dan pengertian tertentu Karang nyanyai mempunyai ketentuan batas muda-mudi +/- 3-4 tahun sebelummelanjutkan kejenjang pernikahan. Surat karang nyanyai juga terdapat. pada pusaka pusaka kerinci yang di tulis pada bamboo dengan aksara Incung (Rencong),di dalam tulisan itu terdapat pantun pantun cinta yang bernuansa Magis.

Kawin Semenda sebenarnya bermakna pengabdan pihak pria kepada mertuanya hal ini antara lain disebabkan karena tidak mampu membayar penuh pemberian yang semestinya kepada mertua,yang janggal di Kerinci adalah Semendo surut,yakni istri mengikuti suami dan tinggal bersama mertuanya.

Pada masa lalu ( Dahin) menurut Budayawan Alam Kerinci Iskandar Zakaria dan Depati.H.Alimin ada tradisi/kebiasaan muda mudi yang disebut masa berpacaran atau disebut masa’Besekire” atau’Bemudeou” masa berpacaran”Besekire” dilakukan sebagai proses awal untuk salng kenal mengenal tabiat dan budi pekerti masing masing sebelum memasuku jenjang berumah tangga,pada masa tempo dulu ketika aksara belum berkembang para sakire-sakire menyampaikan tanda cinta dan kasih saying melalui pesan yang simbolik dengan menggunakan media benda seperti bunga.pinang,padi. Dan untuk mencapai gerbang rumah tangga sepasang muda mudi harus melalui beberapaa tahapan yakni:

1.Masa Nyubeuk atau Nyibeiuk

2.Masa Bamudea atau betandang

3.Masa Karang Nyanyi.

Pengamatan dan survey dilapangan pada pelaksanaan pernikahan secara adat di wilayah aAdat Depati Nan Bertujuh Sungai Penuh,Dusun baru , Pondok Tinggi Kota Sungai Penuh Pelaksanaan pernikahan bagi suku Kerinci dapat dilakukan dengan dua cara yakni pernikahan ( Perkawinan ) Tegeak dudeuk dan Buleang cayea pernikahan (Perkawinan) tegeak dudeouk (Tegak duduk) adalah setelah pernikahan dilaksanakan mempelai pria lansung tinggal menetap di rumah pihak mempelai wanita (Istri) dalam hal ini peresmian pernikahan dilaksanakan pada saat setelah pernikahan/Ijab Kabul dilaksanakan.

Sedangkan pernikahan buleang cayea( bulan cair) adalah pernikahan didahulukan sedangkan peresmian dilakukan dikemudian hari sesuai kesepakatan,setelah akad nikah mempelai pria belum boleh menetap di rumah istrinya.Dalam kebiasaan suku Kerinci tempo dulu pelaksanaan acara akan nikah dilaksanakan pada malam hari,pengantin pria diantar keluarga kerumah pengantin wanita dengan diiringi karib kerabat dan tengganai rumah yang berfungsi sebagai pimpinan rombongan,pada masa lalu pengantin pria diarak oleh karib kerabat melewati jalan larik dengan diterangi oleh cahaya obor atau sinar lampu petromak. Pengantin pria disambut keluarga dan tengganai pihak pengantin wanita yang telah haadir menunggu lebih dahulu,setelah melakukan persiapan dan melakukan ramah tamah seperlunya,acara pernikahan diserahkan kepada tuan kadhi dan wali hakim, dan sebelumacara akad nikah dilaksanakan terlebih dahulu tengganai Perempuan menyampaikan’parnoa adat” dengan berbalas kata adat dengan tengganai pihak mempelai pria

Suku Kerinci daerah Kota Sungai Penuh menyebut pengantin dengan istilah “Muntein”( Muntaing).setelah acara akad nikah tegeak duduek dilaksanakan dilaksanakan acara “mulang Muntein”acara memulangkan pengantin dilaksanakan melalui’Parnoa adat ” yang disebut “Pno mulang muntein,acara ini didahulu Pno yang dilakukan oleh pihak tengganai dari mempelai pria.

Setelah tengganai pihak mempelai pria menyampaikan Parno adat memulangkan penganten,maka pihak tengganai dari mempelai wanita menerima dengan Pno adat pula.,setelah Prosesi akad nikah dan pno pno adat dilaksanakan pihak keluarga mempelai wanita mengetengahkan hidangan-jamuan makan,sama seperti acara kenduri sko,menaiki rumah baru dan peresmian pernikahan tamu tamu terhormat seperti Depati-Ninik mamak,alim ulama, cerdik pandai ditempatkan di tempat kehormatan disebelah ajoun (anjung) yakni disebelah ke ujung dari ruangan tempat makan.

Sebelum para tamu tamu kehormatan dan undangan dating terlebih dahulu tuan rumah telah menyediakan sirih-pinang lengkap dengan rokok yang diletakkan dalam dulang tinggi atau dulang rendah.Biasanya orang orang terhormat membawa rokok dan sirih sendiri yang diletakkan dalam Unco,atau Uncang yang terbuat dari pandan.Uncang ini dibawa terus kemana pergi dan ini merupakan persedian tuan rumah untuk para tamu yang lain.

Jamuan makan suku kerinci memiliki khas tersendiri,nasi dibungkus dengan daun pisang yang disebut dengan sebutan Ibeak Nasai atau “Nasei Ibeak” ,ibeak atau ibat artinya bungkus,nasai artinya nasi. Nasi ibat diletakkan atas talam bundar sebanyak 6 bungkus untuk 3 orang tamu undangan, nasi ibat diatas dulang atau talam itu memperlambankan Sko Tigo Takah,letaknya nasi   ibat tersebut berbentuk segi tiga dan diantara ketiganya diletakkan air minum dalam tempurung yang sudah dikikis sabutnya,ditengah ketiga nasi ibat tersebut diletakkan tempat basuh tangan.diatas tempat basuh tangan itu diletakkan sepiring gulai merah,biasanya gulai merah itu terdiri dari masukkan yang dicampur irisan nangka muda dan daging, sebagian lain menggunakan kentang sebagai pengganti nangka muda.

Suku Kerinci pada masa lalu hanya mengenal satu hidangan berupa masakkan gulai merah dengan maksud antara pimpinan dan rakyat,atasan dan bawahan harus merasakan satu kesatuan selera,kesatuan pendapat dan kesatuan masyarakat,serta seiya sekata,kemudik sama kemudik,kehilir sama kehilir.

Setelah nasi terhidang,air kawo diedarkan kalau kalau ada tamu yang menambah air minum.Air kawo terbuat dari daun kopi yang telah didiangkan diatas bara api sampai kering yang dimasukkan dalam tabung bambu.Air kawo di dalam tabung dituangkan sendiri oleh tamu/undangan itu sendiri.,selesai makanan di hidangkan selanjutnya tuo tengganai rumah mempersilahkan para tamu undangan untuk santap bersama dengan terlebih dahulu menyampaikan parno( Pno) adat..

Menurut adat istiadat suku Kerinci dalam melaksanakan jamuan peresmian pernikahan anaknya , undangan disampaikan melalui 2-3 orang kaum wanita dengan menyandang jangki terawang tempat sirih,yang berisi sirih dan rokok,mereka naik turun rumah dan menyodorkan jangki terawang dan secara lisan mereka menyampaikan Undangan,orang rumah yang diundang menerima undangan dengan memakan sirih bagi perempuan dan menghisap rokok bagi yang laki laki.Jika yang di undang itu kaum adat,yang datang mengundang adalah Tengganai rumah bersama sama perempuan yang membawa jangki terawang berisikan sirih pinang dan rokok.

Pelaksanaan”Kenduhei” ( Kenduri ) peresmian pernikahan di Alam Kerinci saat ini telah ,mengikuti perkembangan dan selera zaman, pihak tuan rumah menyelenggarakan pesta”Kenduri” pernikahan melaksanakan pesta telah mengikuti kehidupan social masyarakat modern.

Hidangan makanan diletakkan secara prasmanan, para tamu mengambil sendiri nasi dan lauk pauk sesuai dengan selera   ibat nasi yang semula dari daun pisang diganti dengan kertas khusus,funsi para(Paha/talam) hanya di gunakan untuk prosesi peresmian secara adat yang digunakan dalam rangkaian kenduri secara adat yang biasanya dilakukan setelah shalat Dzhuhur, sementara resepsi secara nasional dilaksanakan biasanya dimulai jam 9.00.Wib hingga jam 16.00.Wib.

Pada era   modern persiapan dan pelaksanaan pesta ‘Kenduri” pernikahan dilakukan secara praktis,namun ketentuan adat dan ico pakai adat masih tetap dilaksanakan,penyampain Pno adat masih tetap digunakan terutama di wilayah Depati nan Bertujuh dan sebagian besat wilayah adat dalam dusun dusun diwilayah alam Kerinci.

Masuknya pengaruh kebudayaan luar di alamKerinci ikut mewarnai rangkaian penyelenggaraan pesta”kenduri”pernikahan,didaerah perkotaan dan pada beberapa desa desa yang telah jauh berkembang biasanya pihak kelursa mempelai menyiapkan hiburan musik berupa organ tunggal dengan mempertunjukkan lagu lagu modern terutama dangdut dan Tale( Lagu) Kincai.dan pada akhir acara ditampilkan tari rentak kudo,tarian ini merupakan perpaduan budaya tradisional dengan memasukkan unsur gerak dan musik kreasi

Pengaruh kebudayaan Minangkabau ikut mewarnai pernak pernik penyelenggaran pesta”Kenduri” pernikahan,hal ini dapat dilihat pada bentuk pelaminan,kotak tempat amplove kado,sementara bagi suku asli Kerinci pakaian adat Alam Kerinci masih tetap dipertahankan,dan pada beberapa tempat acara,pengaruh luar ikut mewarnaipemakaian pakaian, setelah acara menggunakan pakaian adat alam Kerinci dilanjutkan pemakaian pakaian nasional,laki laki menggunakan Jas, mempelai wanita menggunakan pakaian slayer putih bergaya Eropah.

Sumber : Budhi VJ