Subak di Bali Sebagai Warisan Budaya Dunia

Subak di Bali Sebagai Warisan Budaya Dunia

Mengunjungi Bali tidak melulu menikmati keindahan pantai, upacara adat, atau tarian tradisional. Ada sisi lain dari Bali yang kini diakui dunia sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada Juni 2012, yaitu subak. Subak merupakan salah satu sistem kemasyarakatan adat Bali yang khusus mengatur sistem pengairan sawah (irigasi) dan ini tidak kalah menarik untuk disimak.

Untuk mendukung sistem irigasinya, beruntunglah Pulau Dewata ini diberkati dengan 150 sungai yang mengalir sepanjang tahun dan itu lebih dari cukup untuk mengairi berhektar-hektar sawahnya. Akan tetapi, irigasi sawah tidak akan berhasil jika tidak diikuti campur tangan manusia. Karenanya, petani Bali mengenal sistem pengairan sawah yang unik ini sebab diturunkan dari generasi ke generasi selama berabad lamanya. Prasasti kuno telah mencatat bahwa sistem irigasi telah dikenal sejak tahun 944 Masehi.

Saat mengunjungi Bali, sempatkan pergi ke dataran tinggi dimana dari sana Anda akan terpukau keindahan ribuan hektar sawah menghijau subur. Kontur sawah berundak cantik serupa teras-teras bertingkat dari atas bukit hingga ke lembah telah menyajikan pemandangan alam sungguh menawan. Datanglah ke Ubud dan Tegallalang (jaraknya sejauh 15 km ke arah Utara Ubud) atau jelajahilah lereng sebelah Timur Gunung Agung di Amlapura dan bersiaplah terpukau pemandangannya.

Uniknya, sistem pengairan Bali (subak) tidaklah ditetapkan atas perintah raja, melainkan diinisiasi penduduk desa melalui koperasi desa, yang disebut “subak”. Petani sangat tergantung pada sistem irigasi ini. Di lingkup terkecil, setiap petani adalah anggota dari subak yang sawahnya mendapat suplai air dari bendungan tertentu. Kepala Subak, yang disebut Klian Subak dipilih oleh anggotanya.

Dalam subak yang lebih besar yang disuplai oleh sebuah kanal, tingkat terendah disebut tempek. Subak-subak tersebut akan terhubung dengan pura gunung atau pura masceti yang menjadi bagian dari salah satu dari dua candi danau. Dua candi danau yang dimaksud adalah Pura Batu Kau yang mengkoordinasikan irigasi di Bali Barat dan Pura Ulun Danau yang mengkoordinasi irigasi di Utara, Timur dan Selatan Bali.

Pura danau tersebut akan menyelenggarakan festival setiap 105 hari, itu terkait 105 hari musim menanam padi di Bali. Siklus ini juga menentukan waktu membuka dan menutup saluran air guna memastikan bahwa air dialokasikan secara efisien dan adil. Akan tetapi, setiap anggota subak biasanya mengadakan pertemuan untuk memutuskan waktu tanam. Petani kemudian mulai menanam secara berturut-turut setelah setiap 10 hari.

Di Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali, beras atau nasi adalah makanan pokok. Beras juga merupakan bagian penting dari upacara sosial dan keagamaan. Tidak mengheranan, budaya masyarakat adat ini tidak hanya di Bali tapi juga ada di Jawa dan pulau penghasil beras lainnya, terutama yang mengenal Dewi Sri sebagai Dewi Padi.

Budaya subak Bali merupakan manifestasi luar biasa petani Bali. Tradisi pengairan sawah ini menggabungkan nilai-nilai tradisional suci dengan sistem kemasyarakatan yang terorganisasi. Subak juga merupakan manifestasi dari Tri Hita Karana, sistem kosmologis Bali yang sebagian besar masyarakatnya menganut ajaran Hindu. Hal tersebut merupakan refleksi nyata dari keyakinan masyarakat Bali yang berakar pada konsep kesadaran bahwa manusia harus selalu menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dan Tuhan, manusia dan sesama manusia, dan antara manusia dan alam dalam kehidupan sehari-hari.

Subak di Bali menggambarkan kemampuan masyarakat adatnya menerjemahkan sistem kosmologis mereka dalam kehidupan nyata sehari-hari. Hal itu menjadi tercermin dalam perencanaan dan pemanfaatan lahan, penataan pemukiman, arsitektur, upacara dan ritual, serta seni dan juga organisasi sosial. Implementasi konsep tersebut juga terbukti menciptakan pemandangan alam yang mengagumkan dan memiliki nilai budaya tinggi.

 Sumber : indonesia.travel