Kesenian Leluhur Yang Terabaikan “DONGKREK MADIUN”

Kesenian Leluhur Yang Terabaikan “DONGKREK MADIUN”

Madiun merupakan daerah yang penuh sejarah dan kaya akan kebudayaan. Hal tersebut dapat dapat dilihat dari banyaknya monumen dan bangunan bersejarah yang ada di daerah madiun seperti candi dan bangunan-bangunan peninggalan pemerintahan kolonial Belanda. Serta masih banyak lagi bukti-bukti peninggalan sejarah dan kebudayaan pada jaman dulu.
Salah satu monumen yang paling bersejarah yaitu Monumen Kresek yang terdapat di Desa Kresek, kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Monumen ini dibangun untuk menghormati para korban keganasan pemberontakan PKI tahun 1948 di Madiun. Yang merupakan bagian dari perjalansejarah Bangsa Indonesia.
Dan tidak kalah penting dari monumen Kresek, di Madiun Juga mempunyai Budaya asli Madiun yaitu Kesenian Dongkrek. Kesenian dongkrek ini memang diangkat dari cerita rakyak di Madiun tepatnya di Desa Mejayan. Yang konon ceritanya kesenian dongkrek ini berawal cerita masyarakat Desa Mejayankabupaten Madiun yang dulu diserang wabah penyakit yang mematikanyaitu sekitar tahun 1879. Kemudian Raden Ngabei Lo Prawirodipura seorang palang (kepala desa) di daerah caruban yang berhasil mengusir roh jahat yang membawa wabah penyakit di daerah tersebut. Yang kemudian berkembang menjadi sebuah kesenian yang diberi nama “Dongkrek”.
Akan tetapi yang sangat disayangkan kesenian Dongkrek ini kurang populer. Jangankan di tingkat nasional Indonesia, di tingkat lokal Madiun sendiri kesenian Dongkrek tidak populer di masyarakat. Banyak masyarakat madiun yang tidak tahu dengan kesenian Dongkrek, padahal kesenian ini adalah kesenian asli Madiun yang diangkat dari cerita rakyat Madiun sendiridan kesenian ini satu-satunya di dunia. Sangat ironis.
Coba kita ingat kasus klaim kesenian Reog oleh negara tetangga kita sendiri yaitu Malaysia. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Faktor utamanya adalah dari kita sendiri yang kurang mencintai dan melestarikan kebudayaan-kebudayaan yang kita punya yang merupakan kekayaan yang tak ternilai. Kita lebih terlena mengikuti kebudayan-kebudayaan dari luar yang masuk di negara kita.
Sudah saatnya kita mulai melestarikan kebudayaan-kebudayaan negeri kita sendiri yang merupakan kekayaan yang kita punya. Jangan sampai kekayaan kita diambil oleh bangsa lain dan kita hanya menjadi penonton dan budak di negeri sendiri.

Sumber : idunggededotcom.wordpress.com