Bukittinggi, Jam Gadang Hingga Kini Menjadi Ikon Sekaligus Tujuan Wisata Di Bukittinggi.

Bukittinggi, Jam Gadang Hingga Kini Menjadi Ikon Sekaligus Tujuan Wisata Di Bukittinggi.

MEMASUKI usia ke-230, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, belum kehilangan pesona. Kota yang sejak 30 tahun lalu dicanangkan sebagai kota wisata itu masih gagah diapit gunung api Singgalang dan Marapi. Bagi kebanyakan wisatawan, melancong ke Sumbar kurang lengkap jika belum ke Bukittinggi.

Daya tarik Bukittinggi, yang pernah dijuluki kota perjuangan karena menjadi kota kelahiran tokoh nasional, seperti Mohammad Hatta, Sjahrir, Muhammad Nasir, dan Tan Malaka, serta sarat sejarah sejak zaman kolonial hingga kemerdekaan, memang terasa. Setiap akhir pekan, termasuk hari libur, kawasan Lembah Anai di Padang Panjang yang menjadi jalur masuk ke Bukittinggi dari selatan penuh antrean kendaraan. Rangkaian sepeda motor, mobil pribadi, dan bus pariwisata kian terasa begitu masuk kawasan Padang Luar, sekitar 7 kilometer dari pusat kota Bukittinggi. Kondisi serupa juga terlihat dari arah utara (Pekanbaru, Riau) dan timur (Medan, Sumatera Utara).

Tiba di pusat kota, wisatawan biasanya menyebar ke berbagai tempat yang menawarkan pemandangan, sejarah, budaya, kuliner, dan belanja. Menara Jam Gadang yang dirancang arsitek Yazid Abidin atau Angku Acik dari Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumbar, masih menjadi magnet utama. Menara setinggi 26 meter itu berdiri kokoh sejak tahun 1826 dan menjadi pusat kegiatan publik di Bukittinggi.

”Sebelum dicanangkan sebagai kota wisata, sektor pariwisata sudah menjadi sumber ekonomi masyarakat Bukittinggi. Sayangnya, upaya pengembangan wisata sebagai ikon kota pada saat itu belum maksimal. Kekhawatiran masyarakat, jika ada orang asing berkunjung dapat merusak agama dan tatanan nilai, menjadi hambatan,” ungkap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bukittinggi Melfi Abra, Selasa (24/6/2014), di Bukittinggi.

Oleh karena itu, pemerintah kala itu memaksimalkan sosialisasi untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang wisatawan. Semua pihak yang punya kepentingan ikut turun untuk meyakinkan warga bahwa pariwisata bisa menjadi penguat. Upaya itu membuahkan hasil saat masyarakat terbuka dan terlibat. Bukittinggi pun kemudian dicanangkan sebagai kota wisata pada
11 Maret 1984.

Perubahan terjadi di Bukittinggi dan berlangsung sampai sekarang. Euforia masyarakat yang merasakan manfaat dari pariwisata menumbuhkan industri kreatif di berbagai bidang, seperti seni pertunjukan, kerajinan, dan kuliner.

Fasilitas pendukung juga bertumbuh, seperti hotel, rumah makan, dan jasa. Hingga tahun 2012, di Bukittinggi tercatat ada 60 hotel dengan berbagai tingkatan, yaitu 15 hotel berbintang dan 45 hotel nonbintang. Jumlahnya meningkat dari 57 hotel tahun 2011. Tempat kuliner saat ini mencapai 34 rumah makan.

Posisi Kota Bukittinggi sebagai persinggahan perjalanan dari Medan dan Pekanbaru menuju Padang atau sebaliknya berperan besar dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisata. Data Badan Pusat Statistik Kota Bukittinggi menunjukkan, kunjungan wisatawan mancanegara dan Nusantara meningkat. Meski sempat turun hingga angka 82.135 orang saat gejolak 1988, wisatawan yang berkunjung hingga tahun 2013 mencapai 436.213 orang per tahun.

Industri kreatif tumbuh

Tingginya minat wisatawan memacu tumbuhnya industri kreatif. Ikon Bukittinggi adalah bordir kerancang, yaitu bordir halus dengan lubang-lubang yang terbentuk dari jalinan benang bordir, seperti pada mukena, jilbab, baju kurung, dan baju koko. Sentra kerajinan ini disebut Kampung Bordir Kerancang, yang terletak di dua kelurahan, yaitu Campago Guguk Bulek dan Manggis Ganting, Kecamatan Mandiangin.

Pasangan pemilik usaha Bordir Kerancang Ipuh Mandiangin, Indra (33) dan Neli Pusnimar (27), mengatakan, permintaan bordir kerancang tidak pernah sepi. Setiap minggu, mereka menerima sampai tiga pesanan beragam bordir. Setiap bulan, mereka bisa mengerjakan sekitar delapan bordir pada kain mukena. ”Pemesan datang dari pedagang di kawasan Pasar Atas, Bukittinggi. Mereka biasanya menjual itu kepada wisatawan yang datang,” kata Indra.

Selain kerajinan, kreasi kuliner tak bisa dilepaskan dari Bukittinggi. Makanan khas yang menjadi daya tarik wisatawan adalah nasi kapau, ketupek kapau, kerupuk sanjai, karak kaliang, kerupuk kulit, dende kering, dan belut kering. Salah satu sentra kuliner yang terkenal adalah kawasan Los Lambuang Pasar Lereng. Belasan pedagang akan membuka lapak sejak pukul 09.00 hingga 18.00, menjual nasi kapau atau nasi rames khas Nagari Kapau, Sumbar. Pada hari libur, ratusan orang menyerbu pusat kuliner itu.

” Harapannya, pemerintah bisa memaksimalkan promosi sehingga pada hari biasa tetap banyak wisatawan yang datang ke sini,” ujar Nik Er (53), penjual nasi kapau.

Posisi Bukittinggi juga menumbuhkan toko oleh-oleh, seperti sanjai, di sepanjang jalur yang dilewati wisatawan dari sejumlah daerah luar Sumbar. Dari arah Pekanbaru, toko sanjai banyak terdapat di Tanjung Alam, Kabupaten Tanah Datar. Dari arah Medan, toko serupa banyak ditemukan di kawasan Gadut, Kabupaten Agam.

Melfi menambahkan, fokus ke depan adalah pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Selain agar tidak selalu bergantung kepada pemerintah, rencana itu sekaligus untuk memacu ide kreatif dari masyarakat.

Menurut anggota Badan Promosi Pariwisata Sumbar asal Bukittinggi, Eddie Novra Cha, rencana itu bagus. Namun, pemerintah perlu memperhatikan perparkiran di Bukittinggi yang kini belum tertata dengan baik.

Sumber: Kompas.com