Candi Banyunibo Yogyakarta

Candi Banyunibo Yogyakarta

Matahari bersinar di atas kepala. Cahayanya membentuk guratan-guratan di sepanjang tembok. Suara burung yang bertengger terdengar riuh. Hamparan sawah dan ladang membentang. Bau rumput tercium lembut, terbang bersama angin kering. Sebuah candi menjulang, menunjukkan keanggunan diantara senyap yang merayap.

Candi Banyunibo ini dibangun saat kerajaan Mataram Kuno berjaya. Dalam bahasa Jawa, Banyunibo artinya air yang menetes.

Candi ini diperkirakan dibangun di abad ke-9. Atap dan relief menjadi penandanya. Selain satu buah bangunan induk, Candi Banyunibo dikelilingi enam buah candi pendamping atau disebut juga perwara. Tiga perwara di sisi selatan, sisanya di sebelah timur.

Bangunan utama candi berukuran sekitar 15 meter x 14 meter dengan ketinggian 14 meter. Sedangkan kaki candi sendiri tingginya 2,5 meter, dibangun di atas batu, lalu terdapat sebuah jalur yang digunakan mengelilingi candi saat ritual keagamaan.

Ada juga saluran air (jalawadra) yang terletak di setiap sisi candi, kecuali sisi sebelah barat. Jalawadra ini berhiaskan kepala raksasa (kala makara). Pada pintu masuk candi sendiri terdapat relief seekor singa.

Sedangkan pada bagian barat candi terdapat tangga yang digunakan sebagai jalan masuk. Selain menggambarkan relief Hariti yang menjadi dewi simbol kesuburan dalam agama Budha, ada gambar lain dimana seorang perempuan yang dikelilingi anak-anak. Vaisravana, suami Hariti ditunjukkan dalam posisi duduk.

Candi ini ditemukan runtuh pada November, 1940. Lalu dilakukan ekskavasi dan selesai dua tahun kemudian. Sampai tahun 1942 baru berhasil disusun atap dan pintu candi. Lalu, pada tahun 1962 proses itu dilanjutkan lewat pembangunan dasar, kaki, dan tubuh candi. Pemugaran ini berhenti pada 1978 saat semua bagian candi tersusun sempurna.

Candi yang berada di  Dusun Cepit, Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta ini jarang dikunjungi wisatawan. Selain karena letaknya yang terpencil, tak ada kendaraan umum yang secara khusus melewati candi ini.

Bagi yang ingin menikmati semilir angin dan ketenangan sembari merasakan keagungan alam semesta ini bisa berkendara dan mengikuti papan petunjuk di sekitar Candi Prambanan. Jaraknya hanya 5 kilometer ke arah  selatan.

Sumber : gudeg.net