Kota Tua Pekalongan Disiapkan Jadi Pusat Budaya

Kota Tua Pekalongan Disiapkan Jadi Pusat Budaya

Pekalongan – Pemerintah Kota Pekalongan berencana memanfaatkan kawasan kota tua di sekitar alun-alun utara sebagai pusat kebudayaan. Keberadaan wilayah di daerah tersebut sudah dipelopori dengan memanfaatkan sejumlah bangunan kuno sebagai museum batik dan kantor dewan kesenian daerah untuk pementasan seni .

“Saat ini tinggal mencari peluang pemanfaatan sejumlah bangunan kuno lain di sekitar daerah tersebut untuk kegiatan kebudayaan,” ujar Kepala Dinas Perhubungan, Periwisata, dan Kebudayaan Kota Pekalongan, Doyo Budi Wibowo saat dihubungi Senin 4 Juni 2012.

Menurut Doyo, kawasan alun-alun utara Kota Pekalongan tepatnya di Jalan Jetayu sudah dikenal sebagai tempat kesenian dan kebudayaan sejak zaman kolonial. Di tempat tersebut terdapat bangunan tua seperti, bekas kantor pusat industri gula zaman penjajahan Belanda yang sekarang dimanfaatkan sebagai museum batik nasional. Ada pula kantor pos, gereja katolik serta gedung kesenian.

“Ini untuk memaksimalkan pencitraan kawasan budaya di Jalan Jetayu, ” kata Doyo. Sehingga pemerintah daerah memberikan fasilitas terutama seniman dan budayawan untuk melakukan kegiatan.

Pemerintah sedang merancang pembangunan kawasan budaya. Termasuk detail kebutuhan anggaran. Doyo berharap konsep yang ada mampu melengkapi fasilitas untuk menunjang pemanfaatan gedung tua. Apalagi saat ini telah ada payung hukum berupa peraturan daerah tentang perlindungan bangunan tua.

Budayawan Kota Pekalongan Ehaka Kertajaya, menilai rencana pemanfaatan kawasan kota tua ini sebagai langkah positif. Meski begitu ia mempertanyakan konsep yang ingin dikembangkan oleh pemerintah daerah.

“Ini rencana yang tidak buruk tapi perlu konsep dan perencanaan yang matang,” ujar Ehaka
Ia berharap pemerintah Kota Pekalongan terbuka dalam perencanaan pemanfaatan kota tua ini. Sehingga dapat membuka usulan dari tokoh masyarakat dan budayawan lokal.

“Jangan seperti membangun masjid sebagai Islamic Centre tanpa isi dan tak ada action apa pun, karena memang tak ada konsepnya,” ujar Ehaka menjelaskan.

Menurut dia, konsep pembangunan pusat kebudayaan di Kota Pekalongan dipengaruhi masyarakat setempat. Sehingga jangan sampai terjadi pemborosan anggaran yang ujung-unjungnya keberadaan kota tua justru mangkrak di tengah jalan.

“Ini pernah terjadi pada Kompleks Jatayu yang pernah dijadikan sebagai Wapres (Warung Prestasi) sebagai galeri seni, namun setelah pengelolaannya diambil Pemkot malah tutup,” katanya.

EDI FAISOLTEMPO.CO