Bupati Kerinci Ajak Masyarakat Rawat Dan Kembangkan Budaya Kerinci

Bupati Kerinci Ajak Masyarakat Rawat Dan Kembangkan Budaya  Kerinci

Sungai Penuh, Bupati Kerinci DR.H.Adirozal,M.Si dan Ketua DPRD Kerinci H.Liberty,M.Hum himbau dan ajak segenap masyarakat Kerinci untuk ikut serta berperan secara aktif dalam merawat dan melestarikan peninggalan peninggalan budaya suku Kerinci.

Hal ini disampaikan Bupati Kerinci Adirozal dan Liberty menjawab pertanyaan penulis Budhi VJ Rio Temenggung disela sela kegiatan Jambore PKK tahun 2014 yang digelar selama 2 hari mulai 29-30 Maret 2014 di kawasan pusat kegiatan FMPDK diobjek wisata Danau Kerinci-Sandaraan Agung.

Menurut Bupati Kerinci DR.H.Adirozal,M.Si, alam Kerinci merupakan sebuah daerah yang memiliki kebudayaan yang tinggi,dan tinggalan tinggalan sisa peradaban masa lampau   hingga saat ini masih tersimpan dan tersebar hingga kepelosok Ranouh Kincai, Pada mulanya suku bangsa Kerinci pernah menganut system kekeluargaan yang tertua di dunia, yaitu system keibuaan ( Materilineal. Kemudian menganut sistim kekeluargaan bersegi dua ( Parental) yang lebih berperikemanusiaan, tetapi belum dapat diketahui tuanya suku bangsa ini termasuk type mana suku bangsa Kerinci itu.

Penelitian Arkelogi Jakarta. Agus Widiatmoko,SS. Balai pelestarian penelitian Purbakala jambi dengan konsultan peneliti Poff. Dr.Wolfgang Marshell, pakar Arkeologi Switzerland.menunjukkan bukti sejarah dan prasejarah itu dulunya, di pulau Sumatera ( Pulau Perca) hanya terdapat disekitar Danau Kerinci, benda itu berupa Kapak Ganggam, Flakes Obsidian, disebut Mikrolith, Batuyang indah, Permata. Bukti serupa ditemukan juga didataran tinggi Asia Tenggara, tempatnya menurut Prof. Kern adalah di Tonkin, dan menurut V.H. Golden berasal dari Yunan, menjelaskan terdapat ada hubungan Kebudayaan Kerinci dengan dataran tinggi Asia Tenggara.

Bukti- bukti ditemukan itu dibenarkan oleh Dr. Bener Bron serjana Kesenian berkebangsaan Amerika dalam penelitianya tahun 1973, bahkan beliau berkata,” Kerinci sudah terkenal didunia. Karena bukti sejarahnya yang tua,”. Kemudian diperkuat pula oleh hasil penelitian Mr. Bill Watson, sarjana kebangsaan Inggris dalam penelitian tahun 1975. Dari bukti ditemukan itu dapat dikemukakan bahwa suku bangsa Kerinci dilihat dari Antroplogi fisik adalah Melayu tua. Sedangkan bukti kebudayaan menurut antroplogi budaya mereka telah melalui zaman Mezolitikum (Zaman batu Menengah)yang dioperkirakan 400 tahun sebelum nabi Isya.

Ketua DPRD Kabupaten Kerinci H.Liberty,M.Hum mengungkapkan selain meninggalan banyak artefak yang tersebar di engclave Kerinci , masyarakat suku Kerinci (Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh ) telah memiliki tulisan yang dinamakan “ Incong” terdapat pada Gading Gajah Hiang, Tanduk kambing, yang menceritakan asal usul orang Kerinci, mengenai adat istiadat, batas Wilayah. Selain itu bangsa Melayu Tua lebih senang didataran tinggi, yang pada umumnya adalah rakyat pegunungan

Budhi VJ Rio Temenggung Penerima PIN Emas dan Anugerah Kebudayaan Tingkat Nasonal tahun 2013 mengemukakan berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh budayawan alam Kerinci Iskandar Zakaria ,Depati H.Alimin dan sejumlah literatur mengungkapkan bahwa pada Zaman Neolitikum ( Zaman batu baru) nenek moyang suku bangsa Kerinci sudah bertempat tinggal tetap, tetapi tidak lagi mengumpulkan makanan ( Food Gathering) tapi sudah menghasilkan makanan ( Food Produkting), artinya sudah bercocok tanam, beternak.Sementara itu tahun 2003 ditemukan pula di Gunung Raya, Sungai Hangat,tepatnya di SLTP tiga. berupa artefak, fragmentaris, ekofak Dynasti cina terdiri dari gerabah keramik Cina dan obsidian, batu asahan.manik-manik, pisau kecil, batu bulat, ekofak terdiri rahang gajah dan tanduk rusa.

Demikian juga dengan Tamiai berupa batu patah sebelah utara dengan ukuran 2,27 meter x 1,5 meter, makam kuno dengan panjang arah barat timur 125 meter.Temuan ini, kata Alimin, Budaya sejarah dan purbakala berdasarkan kesejarahan material diduga 500 tahun sebelum Masehi. Ini dilihat pula pada periode sejarah data keramik cina dinasti sung, Qin, Ming, yuan. Masa ini berlangsung pada periode tahun 960- ,1279.”Kata Budhi Vj Aktifis kemanusiaan dan kebudayaan”

Peneliti asal Amerika Serikat yang melakukan penelitian pada tahun 1973 bersama tim lembaga Purbakala dan peninggalan Nasional menyebutkan ” Suku Bangsa Kerinci “ lebih tua dibandingkan dari Suku Bangsa INKA ( Indian) di Amerika,- salah satu bukti adalah tentang manusia Kecik Wok Gedang Wok yang belum memiliki nama panggilan secara individu, sedangkan Bangsa / Suku Indian telah memiliki nama seperti   Big Buffalo ( Kerbau Besar ) Little Fire (Api Kecil).           Para Ahli Arkeologi menyatakan manusia Homo Sapiens – telah menghuni Alam Melayu sejak 35.000 Tahun yang silam. Kelompok manusia ini dapat di golongkan dalam ras dan rumpun Melayu Polinesia,- mencermati pendapat ahli Arkeologi, maka di duga manusia yang masuk ke Alam Kerinci termasuk ke dalam rumpun Melayu Polinesia.        Pendapat DR. Bennet Bronson yang menyebutkan manusia ”Kecik Wok Gedang Wok” telah ada jauh sebelum kedatangan gelombang perpindahan   suku suku bangsa dari Asia Tenggara ke Indonesia sangat beralasan.

Salah satu daerah pedalaman yang dimasuki ras proto melayu temasuk Alam Kerinci yang daerahnya telah didiami manusia Kecik Wok Gedang Wok, dalam perkembangannya   kedua komonitas   ini telah terjadi percampuran darah yang kemudian melahirkan “Nenek Moyang Orang Kerinci” dan seiring dengan perkembangan keturunan Nenek Moyang Orang Kerinci membuat pusat pusat pemukiman yang tersebar di sejumlah pelosok Alam Kerinci. menurut sejarahwan dan ahli Arkeologi sebelum Abad Masehi telah tumbuh dan berkembang pemukiman yang didiami manusia

Pesatnya perkembangan manusia telah melahirkan banyak kantong kantong pemukiman, kantong pemukiman menjadi Negeri, dan kemudian negeri negeri ini memiliki sistim tata pemerintahan yang mengatur tata kehidupan masyarakat pada saat itu