Peninggalan Budaya Suku Kerinci

Peninggalan Budaya Suku Kerinci

Sungai Penuh, Salah satu keunikkan masyarakat suku Kerinci memiliki   satu bahasa yang disebut bahasa Kerinci ,dan dimasa lalu masyarakat Kerinci memiliki   satu aksara yang disebut aksara Incung, Bahasa Kerinci mempunyai bermacam logat/dialeg , dan hingga saat ini tercatat sekitar 170 buah logat/dialeg dan memiliki bentuk dan karakter yang berbeda dengan logat-dialeg dengan suku bangsa yang lainnya

Hampir disetiap jengkal pelosok alam Kerinci terdapat beragam benda budaya antara lain batu megalith,selindrik,punden berundak,menhir dan berbagai artefak artefak termasuk prasasti Kerinci yang ditulis pada daun lontar,tanduk,ruas bambu dan ratusan benda budaya yang berumur ribuan tahun.

Dalam bidang Seni dan Kebudayaan Alam Kerinci menyimpan maha karya bercita rasa tinggi seperti ukiran yang terpahat di batu batu selindrik, ukiran flora/patma di rumah rumah tua,bangunan masjid tua.Untuk kesenian/kebudayaan yang bersifat ritual di Bumi Kerinci masih menyimpan cerita misteri yang belum digali ,dilestarikan dan di kembangkan dengan seutuhnya.

Beberapa tinggalan kebudayaan hasil olah seni yang masih tumbuh dan berkembang di bumi Alam Kerinci antara lain adalah, tari asyek,tari naik niti mahligai,upacara ngayun luci,upacara mintak ahi hujan,upacara alu kumau,upacara nanak ulu tahun dan tari ngagah harimau

Pada awal masa Islam kerajaan Melayu Jambi maupun kerajaan Pagaruyung (Minangkabau )berebut pengaruh terhadap kerajaan Depati IV yang pada kemudian hari banyak memberikan Pengaruh dan Konstribusi terhadap Kebudayaan Kerinci. Dalam pepatah adat Kerinci dikenal seloko/pepatah yang berbunyi” Undang Dateang dari Minangkabau betalei galeh: Telitai Dateang dari Jamboi betajek satang ,maksudnya aturan adat datang dari Minangkabau,sedangkan tata pemerintahan dari Jambi. Sebaliknya sebelum datangnya pengaruh dari luar,masyarakat di alam Kerinci telah memiliki dan mengembangkan kebudayaannya sendiri termasuk dalam kepercayaan.

Berbagai bentuk tinggalan masa Purbakala terutama tinggalan masa Megalithikum berupa batu batu besar yang digunakan sebagai tempat pemujaan pada masa lalu dapat ditemui diberbagai dusun di Alam Kerinci.Tinggalan sejarah berupa batu batu besar,silindrik banyak ditemui disekitar pinggiran danau Kerinci, hasil pengamatan dan wawancara dengan budayawan dan sumber bacaan dapat diketahui bahwa suku Kerinci pada masa lalu telah memiliki kepercayaan berupa kepercayaan animisme dan dinamisme dengan beragam bentuk upacara pemujaan.

Dalam kepercayaan masa Purba diketahui bahwa orang suku Kerinci memuja roh roh nenek moyang serta kekuatan ghaib, orang suku Kerinci sangat menghormati roh roh nenek moyang dan alam,roh roh dan alam sangat mereka hargai,sekaligus mereka takuti. Untuk menyampaikan permohonan dan harapan serta untuk menjaga keselamatan, nenek moyang suku kerinci mengadakan acara ritual dan pemujaan yang melibatkan segenap lapisan masyarakatnya dengan melakukan berbagai ritual kebudayaan yang mereka miliki yang disalurkan lewat mantra,musik,tari,sastra dan seni rupa.

Budayawan dan Seniman Alam Kerinci Depati Zurhatmi Ismail,menyebutkan dari catatan tertulis yang terdapat dalam Tambo Kerinci,dapat kita ketahui bahwa musik atau lagu sangat memegang peranan penting dalam setiap acara ritual,hal ini mengingat syair pemujaan,mantra,ratapan(Ratak) disampaikan dalam bentuk lantunan lagu.misalnya pada acara penguburan,mayat diarak kepemakamam diiringi musik berupa gong,gendang serta tauh dan ratapan yang dinyanyikan.

Sejak zaman dahulu orang suku Kerinci telah mengenal lagu ( Tale) dalam berbagai kegiatan masyarakat suku Kerinci seperti acara ritual,kegiatan social kemasyarakatan,upacara adat hubungan pribadi antar warga dan hubungan dengan alam,peranan lagu (Tale) ikut mempengaruhi kehidupan social budaya masyarakat suku Kerinci.

Dalam kepercayaan purba orang suku Kerinci memuja roh roh nenek moyang serta kekuataan alam,orang suku Kerinci sangat menghormati roh roh para leluhur sekaligus mereka takuti,untuk menjaga keselamatan negeri dan keselamatan masyarakat dan individu sertauntukmemudahkan mereka dalammendapatkan kebutuhan hidup mereka mengadakan upacara persembahan dan pemujaan yang melibatkan segenap lapisan masyarakat di dalam komunitas mereka dengan melakukan ritual yang merangkul berbagai cabang kebudayaan yang meliputi seni musik,tari sastra dan seni rupa.

Dari catatan tertulis yang terdapat dalam Tambo Kerinci dapat diketahui bahwa musik dalamhal ini lagu memegang peranan penting dalam setiap kegiatan upacara upacara ritual,hal ini dapat kita lihat dalam syair syair pemujaan terhadap roh roh nenek moyang,mantradan rarapan ( Ratak)disampaikan dalam bentuk lagu.

Sisa   peradaban   dan kebudayaan pada masa lampau   dapat kita saksikan pada upacara asyeak (Asyik ) ,yakni upacara pemujaan roh nenek moyang dan pemujaan alam yang digunakan sebagai sarana untuk meminta keselamatan dan kebahagian,meminta perlindungan terhadap roh roh jahat,meminta berkah pengobatan,kesuburan tanah atau untuk tolak bala.

Penyampaian mantra asyek diungkapkan melalui syair lagu. pada masa lampau kebudayaan Asyek berkembang subur di setiap pelosok dusun,sesuai dengan   perkembangan zaman kebudayaan asyek mulai ditinggalkan, upacara ini hanya dilaksanakan pada beberapa dusun dan telah dijadikan sebagai atraksi budaya yang dilaksanakan pada berbagai event seni dan kebudayaan.

Di Kerinci ditemui jenis   instrument music ” Kelintang Perunggu ” yang terdapat di daerah Hiang, yang mirip dengan music kromong yang ada di Mandiangin Kabupaten Sarolangun.didaerah suku batin disebut “Kelintang”. Diperkirakan musik Kelintang Perunggu ini masuk di Alam Kerinci pada masa Kerajaan Melayu tua yang beragama Budha berkuasa di Kerajaan Jambi .Orang Suku Kerinci menyebut alat musik jenis ini dengan sebutan Canang atau Mimong.

Masyarakat di bumi Alam Kerinci memiliki banyak upacara dan kesenian tradisional,upacara adat dan kesenian tradisional disetiap wilayah adat atau negeri mengalami sedikit perbedaan, tergantung dengan ico pakai   masing masing   Neghoi   ( Negeri//dusun ) .pada prinsipnya upacara adat dikelompokkan menjadi tiga bagian yang dikenal dengan sebutan,.Upacara adat titian teras bertangga batu,.Upacara adat cupak gantang gawe kerapat dan Upacara adat tumbuh-tumbuh roman roman

Menurut Depati H.Alimin Upacara adat”Titian teras bertangga batu”bermakna,suatu upacara adat yang dilakukan secara berkesinambungan dari satu generasi ke generasi yang berikutnya,upacara adat ini dapat kita saksikan pada acara “Kenduri Sko”,penobatan Depati,ninik mamak,tindik dabur dan sunat rasul,khatam Al Qur’an, pernikahan,kehamilan,kelahiran,aqiqah,kerat pusat,turun keair dan upacara kematian.

Upacara adat” Cupak gantang gawe kerapat”memiliki pengertian yakni suatu upacara adat meliputi mata pencaharian hidup dan sosial kemasyarakatan yang dilaksanakan secara gotong royong.Upacara ini dapat kita lihat pada kegiatan membangun /mendirikan rumah baru” ngihit pamoun”( menarik ramuan kayu untuk bahan bangunan rumah)merendam ramuan kayu,,gotong royong membersihkan tali air ( irigasi ) sawah, menanam benih padi,menuai padi, menolak bala,kenduri sudah tuai,kenduri tengahPadang dan beberapa upacara ritual lainnya.

Sedangkan upacara adat”tumbuh tumbuh roman roman “ memiliki pengertian suatu upacara yang dilaksanakan dalam keadaan tertentu dengan pokok pokok masalah yang tumbuh (timbul) pada bentuk rupa dan bersifat khusus.Upacara ini dapat kita lihat pada upacara tari Asyek negeri,Talea naik haji,mengangkat anak angkat,pelanggaran hukum adat,melepas nazar, dan upacara silang sengketa.