Mesjid Tua Suku Kerinci bukti seni dan kebudayaan yang anggun

Mesjid Tua Suku  Kerinci bukti seni dan kebudayaan yang anggun

Sungai Penuh. Bupati Kerinci DR.H.Adirozal,M.Si mengemukakan bahwa  masyarakat suku Kerinci di masa lampau  telah dikenal sebagai masyarakat yang agamis dan telah memiliki tingkat kebudayaan yang tinggi, pada abad ke 15- 17 masyarakat Suku Kerinci  telah memiliki  tingkat kreatifitas yang tinggi,hal ini ditandai dengan  dibangunnya sarana ibadah/Mushalla/Masjid yang memiliki arsitektur  dan motife ukiran khas  masyarakat suku Kerinci

Hal ini disampaikan  Bupati Kerinci DR.H.Adirozal,M.Si didampingi Ketua DPRD Kabupaten Kerinci  H.Liberty,M.Hum dan Camat Keliling Danau Drs.Rafuan Kamal dalam wawancara khususnya dengan penulis Budhi VJ Rio Temenggung di kemah Jambore PKK Kecamatan Keliling Danau usai  membuka dengan resmi Jambore PKK Tingkat Kabupaten Kerinci di Danau Kerinci Sabtu 29-30 Maret 2014.

Menurut  DR.Adirozal,M.Si, Masjid Keramat Koto Tuo Pulau Tengah terletak di Dusun Koto Tuo, Desa Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau , Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi Bedasarkan sumber dari orang Belanda (1895) menyebutkan, bahwa masjid ini merupakan salah satu masjid tertua dan berasitektur termegah dan unik di Kerinci. Berkontruksi kayu dengan atap berbentuk tumpang serta interiornya didominasi bahan kayu yang diukir dengan hiasan sulur-suluran dan geometris. Seiring dengan perjalanan waktu pada tahun 1926,  lantai masjid diganti dengan semen, sedang atap ijuk diganti dengan seng. Atap masjid berbentuk tumpang tiga masih bertahan hingga saat ini, dengan puncak berupa mustaka berbentuk bawang. Secara keseluruhan denah masjid, bujur sangkar berukuran 27 x 27 m dengan masing-masing sisi dibatasi oleh dinding, baik yang masih berupa kayu maupun yang sudah digandi dengan tembok.  Dinding bagian timur terbuat dari tembok, selebihnya masih terbuat dari kayu. Dinding tembok berhias tempelan ubin keramik, dan baluster kayu yang berfungsi sebagai ventilasi. Sedangkan dinding yang masih terbuat dari kayu, setiap sudut terdapat hiasan sulur-suluran.

Sebelum memasuki ruang masjid terdapat tangga dihias dengan tempelan tegel keramik. Pintunya sendiri berjumlah 2 buah, berdaun ganda berukir motif geometris dan tempelan tegel keramik. Memasuki ke ruang dalam, secara umum kontruksi masjid ditopang oleh 25 buah tiang kayu yang berbentuk segi delapan dan berhias ukiran motif tumpal. Satu buah tiang saka guru yang dikelilingi oleh 2 kelompok tiang yang masing-masing berjumlah 4 dan 20 buah tiang. Tiang saka guru tersebut pada tahun 1927-1928 mulai mengalami perubahan, diberi lapisan semen setinggi 4,5 m dan dihias dengan keramik bermotif flora dan geometris. Namun tempat adzan yang berada di atas tiang utama tetap dipertahankan, tempat muadzinnya sendiri mirip sebuah panggung kecil, bagian tepi terdapat pagar keliling yang berhiaskan ukiran motif sulur-suluran.

Sebagai pelengkap ruang masjid, yaitu terdapat sebuah mihrab dan mimbar. Mimbar masjid berukuran 2,24 x 1,48 m dilengkapi tangga berhias motif sulur-suluran. Mimbar ini mempunyai 4 buah tiang berbentuk segi delapan semakin ke atas makin kecil dan berhias ukiran motif sulur-suluran. Pada bagian mihrab berdenah segi lima dan dihias dengan ukiran motif sulur-suluran, tempelan tegel keramik, dan pada sisi luar atapnya berbentuk kubah berpuncak mustaka

Sedangkan  di Lempur Tengah  hingga saat ini masih  bediri  bangunan  Masjid Kuno  yang konon dibangun pada awal abad ke 19  M, kemudian sejak tahun 1940 sudah tidak difungsikan lagi karena masyarakat telah membangun masjid yang lebih besar. Masjid Kuno Lempur Tengah sangat unik, dan termasuk masjid kayu yang dianggap masih utuh. Sebagaimana layaknya bangunan kayu di Kerinci, arsitektur bangunan termasuk kategori rumah panggung. Hal ini tampak  pada bagian lantai terbuat dari susunan papan kayu, meskipun bagian kolong telah ditutup dengan dinding bata.

Keunikan lain dari Masjid lempur Tengah, yaitu interior ruang masjid dan dinding luar penuh dengan pahatan motif geometris dan flora. Termasuk adanya motif terawangan sulur gelung yang terdapat pada keempat sudut dinging. Sedangkan atapnya sendiri berbentuk tumpang dua dengan kemuncak berbentuk gada. Atap tersebut ditopang oleh 12 tiang kayu berbentuk segi delapan. Empat buah tiang saka guru berpahat motif tumpal, sulur-suluran, dan tali, sedang delapan buah tiang saka rawa.

Masjid Kuno Lempur Mudik terletak di Desa Lempur Mudik, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Secara astronomis berada pada koordinat 01º15’22” LS dan 101º32’34.45” BT. Masjid ini dibangun pada abad ke-19 M, seperti halnya masjid kuno Lempur Tengah, demikian pula Masjid Kuno Lempur Mudik sejak tahun 1931 sudah tidak difungsikan dan tergantikan dengan masjid baru yang lebih besar dan luas. Semula masjid ini terbuat dari kayu dan beratap ijuk, namun sekarang telah diubah menjadi bangunan semi permanen dengan lantai semen dan beratap seng. Masjid Kuno Lempur Mudik memiliki atap berbentuk tumpang 2, pada bagian kemuncak berbentuk bulan sabit dan bintang.

Masjid berdenah bujur sangkar berukuran 11 x 11 m, kontruksinya ditopang oleh 16 buah tiang kayu yang berbentuk segi delapan.  Empat buah tiang saka guru berdiameter 0,75 m dan dua belas saka rawa masing-masing berdiameter 0,61 m. Keseluruhan tiang dan permukaannya dipahat dengan motif sulur-suluran,  sedangkan pada dinding kayu berukir motif flora, tali, medalion, dan baluster. Ukiran ini merupakan hasil seni pahat khas masyarakat Kerinci, dan yang sangat mengesankan yaitu ukiran terawangan sulur gelung yang ditempatkan pada keempat sudut dinding bangunan. Kekhasan Masjid Lempur Mudik yang mempunyai kesamaan dengan masjid-masjid kuno di Kerinci, yaitu adanya tempat muadzin mengumandangkan adzan yang berupa panggung kecil dan terletak menempel tiang saka guru.

Oleh: Budhi VJ Rio Temenggung Tuo