Pesona Candi Gunung Kawi, Gianyar

Pesona Candi Gunung Kawi, Gianyar

Pesona Bali sebagai Pulau Dewata memang tidak pernah pudar. Alam yang menyelimuti pulau ini menjadi daya tarik untuk dikunjungi. Pantai yang indah, budaya yang kuat serta keramah tamahan masyarakat Bali mengantarkan pulau ini menjadi salah satu destinasi unggulan dunia.

Tidak hanya pantai dan panorama alam, bangunan berupa candi juga menghiasi pulau ini. Jika kita hanya mengenal candi di dalam bukit berada di India atau China, namun tidak demikian. Di pulau Bali kita juga dapat menemukan hal serupa, yaitu candi di dalam bukit yang bernama Candi Gunung Kawi.

Candi ini terdapat  di Kabupaten Gianyar, yang detail bangunannya terpahat unik diantara bebatuan di tepi bukit nan hijau.

Candi Gunung Kawi tidak dibuat dari susunan batu, melainkan memanfaatkan dinding batu cadas di tepi sungai sebagai media untuk membuat rumah ibadah para penganut Hindu tersebut.

Dinding batu tersebut dipahat dan dibentuk menyerupai dinding-dinding candi. Tak hanya itu, dinding-dinding batu tersebut juga dilengkapi dengan ruangan tempat bermeditasi.

Menurut perkiraan para ahli, candi ini dibuat sekitar abad ke-11 M, yaitu pada masa pemerintahan Raja Udayana hingga pemerintahan Anak Wungsu.

Versi lainnya yang berasal dari cerita rakyat setempat menyebutkan bahwa pura atau candi Tebing Kawi ini dibuat oleh orang sakti bernama Kebo Iwa. Kebo Iwa merupakan tokoh legenda masyarakat Bali yang dipercaya memiliki tubuh yang sangat besar.

Candi Gunung Kawi memang unik dan mengesankan. Kesan itu setidaknya dimulai sejak anda menuruni 315 anak tangga di tubir Sungai Pakerisan. Suasana asri yang nampak dari rerimbunan pohon di tepi sungai, juga gemericik air dari sungai yang dikeramatkan di Bali ini akan membuat Anda seolah disambut oleh simfoni alam.

Sesampainya di kompleks candi, Anda akan menyaksikan dua kelompok percandian yang dipisahkan oleh aliran Sungai Pakerisan. Candi pertama terletak di sebelah barat sungai, menghadap ke timur, yang berjumlah empat buah.

Sedangkan candi kedua terletak di sebelah timur sungai, menghadap ke barat, yang berjumlah lima buah. Pada kompleks candi di sebelah barat, juga dilengkapi kolam pemandian serta pancuran air.

Menyaksikan dua kompleks candi ini, Anda akan dibuat takjub oleh pemandangan dinding-dinding batu cadas yang dipahat rapi membentuk ruang-ruang lengkung yang di dalamnya terdapat sebuah candi. Candi-candi ini sengaja dibuat di dalam cekungan untuk melindungi dari ancaman erosi.

Situs lainnya yang masih satu kompleks dengan Candi Gunung Kawi adalah gapura dan tempat pertapaan yang disebut Geria Pedanda. Di tempat ini Anda dapat menyaksikan beberapa gapura dan tempat pertapaan.

Kompleks Candi Gunung Kawi memang sengaja dibuat untuk persemayaman Raja Udayana dan anak-anaknya. Namun makna persemayaman di sini bukan sebagai kuburan untuk raga sang Raja dan keluarganya, melainkan dalam pengertian simbolis, yakni untuk penghormatan kepada sang raja.

Oleh sebab itu, mengunjungi tempat ini  akan mendapatkan suasana tenang dan damai. Kompleks Candi Gunung Kawi memang merupakan tempat ideal untuk bermeditasi, sembahyang, atau untuk sekedar berwisata.

Jalur menuju Candi Gunung Kawi merupakan jalur yang sama menuju Istana Tampak Siring. Lokasi candi terletak sekitar 40 kilometer dari Kota Denpasar dengan perjalanan sekitar 1 jam menggunakan mobil atau motor. Sementara dari Kota Gianyar berjarak sekitar 21 kilometer atau sekitar setengah jam perjalanan.

Lintas Sejarah

Menurut sejarahnya bahwasanya diantara raja-raja Bali yang memerintah Bali, yang paling terkenal adalah dari dinasti Warmadewa, Raja Udayana adalah berasal dari dinasti ini dan beliau adalah anak dari Ratu Campa yang diangkat anak oleh Warmadewa. Setelah dewasa beliau menikah dengan putri dari empu sendok dari jawa timur(kediri) yang bernama Gunapriya Dharma Patni, dari perkawinan ini beliau menurunkan Erlangga dan Anak Wungsu. Akhirnya setelah Erlangga wafat tahun 1041, kerajaannya di jawa timur dibagi 2(dua). Pendeta budha yang bernama Mpu Baradah dikirim ke Bali agar pulau Bali diberikan kepada salah satu putra Erlangga, tetapi ditolak oleh Mpu Kuturan.

Selanjutnya Bali diperintah oleh Raja Anak Wungsu antara tahun 1049-1077 dan dibawah pemerintahanya Bali merupakan daerah yang subur dan tentram.

Setelah beliau meninggal dunia abunya disimpan dalam satu candi dikomplek Candi Gunung Kawi. Tulisan yang terdapat di pintu masuk situs ini berbunyi ” Haji Lumah Ing Jalu” yang berarti Sang Raja dimakamkan di “Jalu” sama dengan “susuh” dari (ayam jantan) yang bentuknya sama dengan Kris, maka perkataan ” Ing Jalu” dapat ditafsirkan sebagai petunjuk ” Kali Kris” atau Pakerisan. Raja yang dimakamkan di Jalu dimaksud adalah Raja Udayana, Anak Wungsu, dan 4 orang permaisuri Raja serta Perdana Mentri raja.

Raja bagaikan seorang ayah mengayomi kehidupan rakyatnya mendapatkan rasa aman dan kesejahteraan secara adil akan dihormati oleh rakyatnya sampai sang raja menjadi roh suci atau Dewa Pitara. Penghormatan pemimpin bagaikan menghormati ayah kandung seperti itu karena rakyat benar-benar merasa mendapatkan perlindungan dari pemimpinnya seperti anak mendapatkan perlindungan dari ayahnya sendiri.

Demikianlah Raja Udayana dihormati oleh rakyatnya di Pura Gunung Kawi. Pura ini merupakan Pura Padharman dari Raja Udayana. Artinya, pura ini untuk menstanakan roh suci atau Dewa Pitara keluarga Raja Udayana. Mengapa pura ini disebut Gunung Kawi. Karena yang dikawi atau yang diukir adalah lereng gunung di Sungai Pakerisan.

Kata ”kawi” berarti mengarang kalau kata-kata bijak yang dirangkai menjadi syair yang indah dan penuh makna. Kalau lereng bukit yang dikawi maka kata ”kawi” itu berarti mengukir. Konon yang mengukir lereng bukit Sungai Pakerisan itu menjadi candi adalah Kebo Iwa, tokoh ahli bangunan atau arsitek pada zaman pemerintahan keluarga Raja Udayana. Kebo Iwa membuat ukiran candi sampai menjadi Pura Gunung Kawi dengan menggunakan kukunya. Demikian dinyatakan dalam buku hasil sejarah penelitian pura oleh IHD (sekarang Unhi).

Proses menstanakan roh suci atau Dewa Pitara itu dalam kitab Negara Kertagama disebut Dinarma atau Dharmakan. Dalam Lontar Purwa Bumi Kamulan disebut Ngalinggihang Dewa Pitara. Menstanakan Dewa Pitara ini sebagai sistem pemujaan leluhur sebagai tangga untuk memuja Tuhan. Karena dalam Sarasamuscaya 250 dinyatakan bahwa orang yang sungguh-sungguh berbakti pada leluhurnya dijanjikan empat pahala mulia. Empat pahala itu adalah Kirti (sejahtra). Bala (kuat fisik), Yusa (umur panjang) dan Yasa (dapat berbuat jasa dalam hidup ini).

Raja Udayana adalah raja dari Wamsa Warmadewa. Raja ini memerintah Bali bersama dengan permaisurinya bernama Mahendradata dengan gelar Gunapriya Dharma Patni yang berasal dari Jawa Timur. Sejak pemerintahan suami-istri pada abad XI ini prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja di Bali tidak lagi hanya menggunakan bahasa Bali, tetapi sudah menggunakan bahasa Jawa Kuno. Ini artinya pengaruh Hindu Jawa telah masuk ke Bali. Kesusastraan Hindu Jawa pun mulai semakin kuat mempengaruhi kesusastraan Bali.

Sejak itulah secara pelan-pelan penduduk Hindu di Bali mengenal yang namanya ‘’sekar alit, sekar madia dan sekar agung”. Kesusastraan Jawa Kuna dengan muatan cerita Ramayana dan Mahabharata mulai masuk lebih intensif dari Jawa ke Bali. Demikian pula istilah pura masuk dan digunakan di Bali meskipun saat itu belum digunakan untuk menamakan tempat suci.

Istilah pura saat itu baru digunakan untuk menyebutkan ibu kota kerajaan. Karena itu ada sebutan Linggarsa Pura, Sweca Pura dan Smara Pura. Pada abad ke-16 Masehi istilah pura baru digunakan sebagai sebutan tempat pemujaan. Sejak itulah baru ada istilah Pura Kahyangan untuk menyebutkan tempat pemujaan Hindu.

Pura Gunung Kawi dalam wujud candi yang dipahatkan di tebing Sungai Pakerisan. Dalam prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Marakata, putra Raja Udayana, yaitu Prasasti Songan Tambahan dinyatakan: Sang Hyang Katyagan ing Pakerisan mengaran ring ambarawati. Kemungkinan nama itu adalah nama Candi Pura Gunung Kawi saat itu. Sedangkan nama Gunung Kawi mungkin muncul belakangan.

Pura Candi Gunung Kawi dibagi menjadi empat kelompok. Ada kelompok lima candi dipahatkan di tebing timur Sungai Pakerisan berjejer dari utara ke selatan. Kelima candi ini menghadap ke barat. Pahatan candi yang paling utara ada tulisan yang berbunyi ”haji lumah ing jalu”. Kemungkinan candi yang paling utara untuk stana pemujaan roh suci Raja Udayana. Sedangkan yang lain-lainnya adalah stana anak-anak Raja Udayana yaitu Marakata dan Anak Wungsu serta permaisurinya.

Di pintu masuk candi sebelah selatan dari Candi Udayana ada tulisan ”rwa anakira”. Artinya, dua anak beliau. Candi inilah yang ditujukan untuk stana putra Raja Udayana yaitu Marakata dan Anak Wungsu.

Sementara di tebing barat Sungai Pakerisan terdapat empat kelompok candi yang dipahatkan di tebing Sungai Pakerisan itu berjejer dari utara keselatan menghadap ke timur. Menurut Dr. R. Goris, keempat candi ini adalah sebagai padharman empat permaisuri raja. Di samping itu ada satu pahatan candi lagi terletak di tebing barat daya Sungai Pakerisan.

Di candi itu ada tulisan dengan bunyi ”rakryan”. Kemungkinan candi ini sebagai padharman dari seorang patih kepercayaan raja. Karena itulah diletakkan di sebelah barat daya. Di sebelah selatan candi kelompok lima terdapat wihara berjejer sebagai sarana bertapa brata. Raja Udayana dengan permaisurinya berbeda sistem keagamaannya. Raja Udayana lebih menekankan pada ke-Budha-an, sedangkan Gunapriya Dharma Patni lebih menekankan pada sistem kerohanian Siwa. Hal inilah yang menyebabkan agama Hindu di Bali disebut Agama Siwa Budha.

Keberadaan Pura Candi Gunung Kawi ini yang menempatkan dua sistem keagamaan Hindu yaitu sistem Siwa dan sistem Budha sebagai suatu hal yang sangat baik untuk direnungkan demi kemajuan beragama Hindu ke depan. Di samping itu Raja Udayana sangat menerima baik adanya unsur luar yang positif untuk menguatkan budaya Bali saat itu. Seandainya Raja Udayana saat itu menolak apa yang datang dari luar Bali tentunya umat Hindu di Bali tidak mengenal kesusastraan Hindu seperti sekarang ini.

Misalnya ada berbagai jenis karya sastra Parwa dan Kekawin dalam bahasa Jawa Kuno dengan muatan cerita Ramayana dan Mahabharata. Karya sastra Jawa Kuno ini amat besar jasanya dalam memperkaya kebudayaan Hindu di Bali sehingga Bali memiliki kebudayaan yang sangat tinggi sampai sekarang. Semua unsur itu dipadukan dengan budaya Bali yang telah ada sebelumnya. Demikianlah bijaknya Raja Udayana pada zaman dahulu.

Disebelah tenggara dari komplek candi ini terletak Wihara (tempat tinggal atau asrama para Biksu/pendeta Budha). Peninggalan Candi dan Wihara di Gunung Kawi ini diperkirakan pada abad 11 masehi dan juga wujud toleransi hidup bergama pada waktu itu yang patut menjadi contoh dan tauladan bagi kita di masa ini, belajar dari kearifan masa lalu. (Adrial – Dari berbagai sumber)