Toko Merah, Unik dan Berbeda

Toko Merah, Unik dan Berbeda

Kawasan Kota Tua Jakarta memang identik dengan bangunan bangunan tuanya. Banyak diantara bangunan tua tersebut yang sudah dikonservasi dan difungsikan kembali. Hasilnya, kawasan ini menjadi kawasan wisata sejarah yang patut untuk dikunjungi.

Banyak pelajaran sejarah yang dapat kita petik di kasawan ini. Berbagai museum yang dimemanfaatkan bangunan tua menghiasi kawasan ini. Sebut saja, Museum Fatahilah, Museum Mandiri, Museum BI, Museum Wayang dan bebarapa museum lainnya.

Tidak hanya museum, salah satu bangunan tua yang mencolok dikawasan ini adalah Toko Merah. Sebuah bangunan peninggalan Kolonial Belanda yang kini menjadi daya tarik tersendiri diantara bangunan bangunan lainnya.

Bangunan ini terletak di  Jalan Kali Besar, atau lebih tepatnya ke bangunan nomor 11.  Selain warna dan kondisi fisik yang berbeda jauh dengan bangunan di sisi kiri dan kanan, gedung berlantai dua ini juga memiliki fungsi baru, yaitu sebagai tempat pertemuan, konferensi, dan pameran. Gedung yang berada persis di tepi barat Kali Besar ini bernama Toko Merah.

Dari kejauhan, toko ini sudah tampak mencolok. Warna merahnya langsung menyergap sudut mata. Arsitektur ala zaman kolonial juga terlihat jelas lewat jendela-jendela yang tinggi. Toko Merah, begitu banyak orang menyebutnya, terletak di jalan persis di samping Sungai Ciliwung. Walaupun mencolok, Toko Merah tampak serasi dengan deretan gedung era kolonial di samping kiri dan kanannya.

Toko Merah adalah salah satu bangunan tertua di Kota Tua Jakarta, dibangun pada 1730. Gedung yang berlokasi di Jalan Kali Besar Barat No 107 ini dulunya adalah rumah seorang Gubernur Jenderal VOC, Willem Baron van Imhoff.

Dari situs resmi pariwisata Indonesia yang dikutip detikTravel, Kamis (6/9/2012), sang Gubernur Jenderal tinggal di rumah ini dari tahun 1743-1750. Setelah itu, bangunan ini sempat dijadikan sekolah akademi maritim hingga tahun 1755.

toko-merah

Dari luarnya saja, nuansa China sangat terlihat lewat dominasi warna merah. Hal itu karena bangunan ini sempat dibeli oleh seorang pedagang China, tepatnya pada 1851. Sang pedagang China lalu mengecat eksterior dan interior bangunan itu dengan warna merah. Semenjak itu, bangunan tersebut disebut Toko Merah.

Membayangkan aktivitas saat masa perdagangan itu terasa bagai magis. Saya membayangkan kapal-kapal kecil melaju di atas Sungai Ciliwung, melipir persis di depan Toko Merah. Para pekerja lalu mengeluarkan aneka dagangan, mengangkutnya ke atas gerobak yang ditarik sepasang kuda. Saat itu Toko Merah punya 6 kapal, 8 gerobak, dan 8 pasang kuda untuk mengangkut barang dagangan ke belakang tokonya.

Seiring berjalannya waktu, toko Merah sempat terbengkalai. Kedua pintu masuk di bagian depan bangunan ditutup dan digembok. Wisatawan yang datang hanya bisa mengagumi kecantikan Toko Merah dari luarnya saja. Berfoto ria di depan bangunan, tanpa tahu sejarah yang tergores di tembok batanya.

Untunglah sekarang Toko Merah kembali dipugar. Interiornya diperbaiki, dijadikan tempat konferensi dan pameran. Di lantai 2, terdapat sebuah ruangan luas yang cocok untuk konferensi dan pertunjukan. Turis yang ingin wisata sejarah di Toko Merah bisa datang saat ada pameran atau acara yang digelar di sana. (Adrial – Dari Berbagai Sumber)