Keraton Surakarta Akan di Daftarkan ke UNESCO

Keraton Surakarta Akan di Daftarkan ke UNESCO

Diawal tahun 2013 ini, Keraton Surakarta Hadiningrat beserta kawasan yang luasnya lebih dari 90 hektare, akan didaftarkan ke badan dunia UNESCO di Paris, Prancis, sebagai salah satu World Monuments Watch. Upaya menjadikan bangunan bersejarah peninggalan Dinasti Mataram Islam ini sebagai kawasan heritage untuk mendapatkan pengawasan badan dunia  agar mendapat dukungan pelestariannya.

’’Ya, itu karena memang baru sekarang terbuka kesempatan dari UNESCO, lebih baik kami memanfaatkan dukungan pengawasan untuk pelestarian itu,’’ kata GKR Wandansari Koes Moertijah.

Menurut Pengageng Sasana Wilapa yang akrab disapa Gusti Moeng itu, sebenarnya sejak lama keraton berharap ada perhatian khalayak luas untuk keperluan pelestariannya. Mengingat, kawasan heritage yang masuk kategori living monuments/museum ini memiliki nilai strategis sejarah.

Karena itu, lanjut dia, ketika seorang kerabat dari Malaysia yaitu Prof Fariz menjelaskan kisah upayanya mendaftarkan sebuah bangunan heritage di Malaysia ke UNESCO dan memberi saran kepada keraton, tawaran dan ajakan itu disambut dengan mengajak sosiolog lulusan sebuah universitas di Paris (Prancis) untuk bergabung dalam tim penyusunan perencanaan proposal agar keraton mendapatkan World Monuments Fund.

’’Ada sejumlah nama tokoh ahli di bidangnya dari dalam dan luar negeri, yang kami libatkan dalam tim penyusunan proposal untuk mendaftar ke UNESCO. Tim itu diketuai Prof Fariz. Pertengahan Februari nanti (proposal) diharapkan sudah selesai dan Maret didaftarkan,’’ timpal KP Edy Wirabhumi selaku penanggung jawab pendaftaran keraton di UNESCO di tempat terpisah.

Disebutkan, selain Prof Fariz, sejumlah ahli dari luar dan dalam negeri dilibatkan. Dalam waktu dekat mereka akan diundang ke Solo untuk bertemu dan berdiskusi dan menyusun perencanaan proposal.

Berkait dengan itu, lanjut Pimpinan Lembaga Hukum Keraton Surakarta (LHKS) itu, keraton juga menyiapkan seorang ahli kepurbakalaan yang akan bergabung dalam tim tersebut. Drs Respati Harjayanto, seorang pensiunan dari Kantor BP3 Jateng tahun ini, belum lama resmi menjadi abdi dalem yang ahli di bidang yang kini sangat dibutuhkan keraton untuk urusan-urusan pelestarian bangunan peninggalan sejarah itu.

 

Perjalanan Sejarah Keraton

Pada 1742 terjadilah pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang Cina yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi di Kartasura dan berhasil menduduki Keraton Kartasura. Raden Mas Garendi adalah putra Pangeran Teposono, sedangkan Pangeran Teposono adalah putra Susuhunan Amangkurat II (Amangkurat Amral). Pemberontakan di Kartasura ini dikenal dengan peristiwa Geger Pacinan atau bedahnya Keraton Kartasura atau awal jatuhnya Keraton Kartasura. Ketika para pemberontak menduduki Keraton Kartasura yang ketika itu diperintah oleh Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II, Susuhunan Paku Buwono II berikut pengawal dan abdi dalem yang setia, mengungsi ke Ponorogo, Jawa Timur. Setelah Raden Mas Garendi berhasil menduduki Keraton Kartasura dikenal dengan nama atau sebutan Sunan Kuning atau Sunan Amangkurat V. Disebut Sunan Kuning, karena Mas Garendi memimpin orang-orang Cina yang berkulit kuning yang memberontak.

Susuhunan Paku Buwono II berhasil merebut kembali Keraton Kartasura dari kaum pemberontak, namun Keraton Kartasura sudah dalam keadaan rusak sehingga tidak pantas untuk dijadikan keraton lagi. Melihat keadaan Keraton Kartasura yang telah rusak ini, Susuhunan Paku Buwono II berkehendak memindahkan Keraton Kartasura ke tempat lain dan pilihan jatuh di Desa Sala, letaknya ± 14 kilometer sebelah timur Keraton Kartasura, walaupun ketika itu Desa Sala masih berujud rawa-rawa, masih tergenang air. Menurut petunjuk gaib, Desa Sala pantas dijadikan keraton yang baru sebagai kelanjutan Keraton Kartasura.

Demikianlah atas kehendak Susuhunan Paku Buwono II didirikan atau dibangun sebuah keraton yang baru di Desa Sala dan selanjutnya dalam pisowanan seusai pembangunan keraton yang baru, Susuhunan Paku Buwono II secara resmi mengganti Desa Sala dengan nama Keraton Surakarta Hadiningrat atau Nagari Surakarta Hadiningrat, meneruskan Keraton Kartasura atau melanjutkan Keraton Mataram atau Dinasti Mataram. Mataram di sini adalah keraton yang didirikan oleh Kanjeng Panembahan Senopati in Ngalogo pada akhir abad ke-16. Para Susuhunan Paku Buwono yang memerintah Keraton Surakarta adalah keturunan atau trah “pancer kakung” (garis laki-laki) Panembahan Senopati ing Ngalogo. Panembahan Senopati dikenal sebagai Wong Agung Ing Ngeksiganda (orang besar dari Mataram).

Adapun tahun berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat diambil dari kepindahan Keraton Kartasura ke Desa Sala, pada hari Rabu Tanggal 17 Suro Tahun Je 1670, sinengkalan “Komuling Pudya Kapyarsihing Nata” (Tahun Jawa 1670) atau 17 Februari 1745.

Menurut jangka atau ramalan yang dipercaya oleh masyarakat Jawa tradisional, Desa Sala akan membawa keberkahan dan keselamatan sehingga pantas untuk dibangun sebuah keraton sebagai penerus Keraton Kartasura. Raden Tumenggung Honggowongso, seorang abdi dalem Susuhunan Paku Buwono II dan juga ahli kebatinan (spiritual), meramalkan bahwa Keraton Surakarta berusia 200 tahun. Bahwa telah ada “weca” (ucapan menjadi kenyataan) yang menyebutkan bahwa apabila sebuah keraton didirikan di Desa Sala, maka “sanadyan kari sak megaring payung, tetep lestari” (meskipun tinggal selebar payung, tetap berdiri/tetap ada). Maksudnya, adalah jika Keraton Surakarta berdiri di Desa Sala, keraton tetap ada, eksis, meskipun daerah kekuasaannya tinggal selebar terbukanya payung.

Keraton Surakarta untuk pertama kali diperintah oleh Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II. Susuhunan Paku Buwono II merupakan raja terakhir Keraton Kartasura dan pendiri Keraton Surakarta. Susuhunan Paku Buwono II adalah putra nomor sepuluh dari Susuhunan Amangkurat Jawa yang memerintah Keraton Kartasura, lahir dari prameswaridalem/garwa padmi (permaisuri). Sebelum menjadi Paku Buwono II, bernama Raden Mas Gusti Proboyoso.

Susuhunan Paku Buwono II memerintah Keraton Surakarta hanya empat tahun lamanya (1745 – 1749) dan menurunkan seluruh Susuhunan Paku Buwono berikutnya sampai sekarang. Dengan demikian, Susuhunan Paku Buwono II merupakan leluhur atau cikal bakal para Susuhunan Paku Buwono yang bertahta di Keraton Surakarta.

Sejak Susuhunan Paku Buwono II memerintah Keraton Surakarta, Keraton Surakarta berturut-turut diperintah oleh keturunan Paku Buwono II dari “pancer kakung” (garis laki-laki) yakni: Susuhunan Paku Buwono III (1749 – 1788), Paku Buwono IV (29 November 1788 – 1 Oktober 1820), Paku Buwono V (10 Oktober 1820 – 5 September 1823), Paku Buwono VI (15 September 1823 – 14 Juni 1830), Paku Buwono VII (14 Juni 1830 – 10 Mei 1858), Paku Buwono VIII (17 Mei 1858 – 28 Desember 1861), Paku Buwono IX (30 Desember 1830 – 17 Maret 1893), Paku Buwono X (30 Maret 1893 – 20 Februari 1939, Paku Buwono XI (1939 – 1945), Paku Buwono XII (12 Juli 1945 – 11 Juni 2004) dan Paku Buwono XIII (2004) yang sekarang memerintah.

Para Susuhunan Paku Buwono memerintah Keraton Surakarta Hadiningrat, berdasarkan keturunan/trah Susuhunan Paku Buwono sebelumnya atau keturunan pancer kakung Susuhunan Paku Buwono II, secara turun-temurun, memerintah seumur hidup, berdasarkan hak asal-usul atau hak tradisional dan bersifat istimewa. Hak asal-usul di sini artinya keturunan atau trah “pancer kakung” Susuhunan Paku Buwono sebelumnya atau terdahulu. Sifat istimewa adalah untuk membedakan dengan lembaga atau bentuk pemerintahan lain atau menunjukkan adanya jabatan “ratu” . (Adrial- dari berbagai sumber)