Indahnya Budaya Minangkabau Dalam Sulaman

Indahnya Budaya Minangkabau Dalam Sulaman

Tempat tidur beserta perlengkapannya ini berusia 100 tahun lebih yang digunakan oleh orangtua Minarsih Soedarpo saat menjadi pengantin. Ini adalah salah satu koleksi milik Minarsih yang dipamerkan dalam pameran Prosesi Minangkabau: Menyulam Keindahan Budaya Matrilinial di Museum Tekstil, Jakarta. Selain koleksi milik Minarsih ada pula koleksi Yenni Santoso, Koleksi Fadli Zon, koleksi Meutia Hatta, Studio songket Erika Rianti, dll.

Kepala Museum Tekstil, Indra Riawan, M. Hum dalam sambutan pembukaannya berharap dapat memperkenalkan wastra tradisional Indonesia khususnya budaya Minangkabau kepada masyarakat. “ Ini sebagai perwujudan apresiasi dan upaya memperkenalkan kebudayaan matrilineal Minangkabau, sebagai identitas kultural yang memilki harkat dan martabat yang tinggi,” jelas Indra.

Selain memamerkan kain-kain, juga ada peragaan busana Selendang Sulaman Tangan Suji Cair, Bazar kuliner Minangkabau, Diskusi Budaya dengan tema Warisan Budaya Minangkabau dan Perkembangannya, Demo/workshop menyulam serta lomba membatik dengan motif Minangkabau.

Selain itu juga peragaan prosesi adat Minangkabau. Prosesi itu meliputi prosesi perkawinan, prosesi pengangkatan penghulu, prosesi kematian, prosesi hoyak tabuik, prosesi alek nagari ulu ambek. Semua prosesi ini merupakan refleksi dari pelaksanaan system kekerabatan matrilineal Minangkabau, yang  secara dinamis mengalami proses dialektik dengan agama Islam. Hal ini sesuai dengan pepatah Minang:  “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi kan Kitabullah”.  Pameran ini berlangsung hingga 18 November mendatang.

(Nurakhmayani)