Sambut Tamu Dengan Tari Gending Sriwijaya

Sambut Tamu Dengan Tari Gending Sriwijaya

Sebagai daerah yang sangat kaya menyimpan koleksi sejarah masa lalu, Palembang Sumatera Selatan juga memiliki banyak ragam seni tari. Dari imajinasi dan khayalan terhadap zaman keraton Kerajaan Sriwijaya pada abad VI SM, yang sangat tersohor dengan ekspansi wilayah dan pusat Agama Budha sampai zaman keemasan kesultanan Palembang Darussalam. Tahapan sejarah masa lalu itu sampai kini memberikan banyak inspirasi bagi masyarakatnya. Salah satunya adalah tarian Gending Sriwijaya. Tarian Gending Sriwijaya mencerminkan sikap tuan rumah yang ramah, bahagia, tulus dan terbuka terhadap tamu. Tarian ini bertujuan menyambut tamu istimewa yang bekunjung ke daerah, seperti kepala negara, kepala pemerintahan dan pihak mempelai besan dalam perayaan perkawinan.

Tarian digelarkan 9 penari muda dan cantik-cantik yang berbusana Adat Aesan Gede, Selendang Mantri, Paksangkong, Dodot dan Tanggai. Mereka merupakan penari inti yang dikawal dua penari lainnya membawa payung dan tombak. Sedang di belakang sekali adalah penyanyi Gending Sriwijaya. Namun saat ini peran penyanyi dan musik pengiring ini sudah lebih banyak digantikan tape recorder.

Dalam bentuk aslinya musik pengiring ini terdiri dari gamelan dan gong. Sedang peran pengawal terkadang ditiadakan, terutama apabila tarian itu dipertunjukkan dalam gedung atau panggung tertutup. Penari paling depan membawa tepak berisi kapur, sirih, pinang dan ramuan lainnya untuk dipersembahkan kepada tamu istimewa yang datang, diiringi dua penari yang membawa pridon terbuat dari kuningan. Hal ini sebagai ungkapan rasa bahagia .

Tarian ini sebagai sebuah ungkapan terhadap indahnya kehidupan keraton. Penciptaan tari Gending Sriwijaya dilakukan jauh sesudah kehidupan Kerajaan Sriwijaya. Syairnya diciptakan oleh Nungtjik AR, pencipta lagu oleh Dahlan Mahiba, dan penarinya adalah Sukainah Rozak. Sebagai sebuah gambaran, bisa juga disebut sebagai imajinasi para pengarangnya.  Sehingga banyak membuat kagum orang-orang yang melihatnya.

 

Teks&Foto: Berbagai sumber

Penulis: Nurakhmayani