FESTIVAL KERATON NUSANTARA KE-VIII

FESTIVAL KERATON NUSANTARA KE-VIII

Festival Keraton Nusantara yang diselenggarakan secara bergantian di daerah yang menjadi lokasi Keraton, diselenggarakan setiap 2 (Dua) tahun sekali, sebagai salah satu wujud pelestarian nilai-nilai budaya bangsa. Wilayah Indonesia terdiri dari pulau-pulau diantara lautan, perlu dipandang bahwa lautan bukanlah sebagai pemisah antar pulau tetapi justru sebaliknya, menjadi penghubung dan pemersatu pulau-pulau sehingga disebutlah Indonesia sebagai Nusantara terdiri dari kepulauan dan lautan. Sejak zaman dahulu di seluruh pelosok Nusantara banyak memiliki kerajaan-kerajaan tradisional dengan Keraton sebagai pusat segala aktivitas sosial kemasyarakatan dengan dihuni oleh berbagai etnis dengan latar belakang, budaya, agama yang sangat berbeda-beda. Karena keragaman etnis, agama dan budaya maka sangat tepat kalau Indonesia disebut juga sebagai Taman Dunia.

Dalam posisi Indonesia yang merupakan bagian dari kehidupan dunia, maka tidak akan terlepas dari percaturan kehidupan di Dunia, sehingga wajarlah bila terjadi adanya tarik menarik kepentingan secara global dengan berbagai kawasan lokal. Hal ini akan sangat berpengaruh, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap keberadaan Keraton-Keraton Nusantara sebagai bekas peradaban dimasa lampau yang sangat dibanggakan bagi segenap bangsa Indonesia pada satu sisi, dan pada sisi yang lain dapat menjadi wahana yang sangat rawan akan timbulnya berbagai konflik yang dapat menyulut perpecahan sekaligus mengancam keutuhan Nusantara sebagai Simbol Dunia.

Pada masa lalu Nusantara juga terdiri atas berbagai Kerajaan atau Kesultanan yang masing-masing mempunyai warna sejarah tersendiri yang khas, dan saat ini berkembang menjadi tatanan nilai di daerah. Secara eksplisit dalam Undang-Undang Dasar 1945 dinyatakan bahwa kebudayaan Indonesia yang mencerminkan nilai nilai luhur bangsa harus terus dipertahankan, dipelihara, dibina dan dikembangkan guna memperkuat penghayatan

Pancasila, peningkatan kualitas hidup, memperkuat kepribadian bangsa, mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan nasional, memperkokoh jiwa persatuan dan kesatuan bangsa serta mampu menjadi penggerak bagi terwujudnya cita-cita bangsa dan terbukanya peluang bagi masyarakat luas untuk berperan aktif dalam proses pengembangan kebudayaan nasional sekaligus menikmati hasil hasilnya.

Karena itu tradisi dan peninggalan sejarah yang memberi corak khas kepada kebudayaan bangsa serta hasil hasil pembangunan mempunyai nilai perjuangan bangsa, kebanggaan serta kemanfaatan nasional perlu tetap dipelihara dan dibina untuk menumbuhkan kesadaran sejarah, semangat perjuangan dan cinta tanah air serta memelihara kelestarian budaya dalam kesinambungan pembangunan bangsa.

Untuk maksud tersebut dan berdasarkan kesepakatan bersama para Raja dan Sultan se-Nusantara pada Festival Keraton Nusantara (FKN) VII tanggal 28 Nopember 2010 di Kesultanan Palembang Darussalam Propinsi Sumatera Selatan, Keraton Kesultanan Buton dipercayakan sebagai tuan rumah penyelenggaraan Festival Keraton Nusantara VIII 2012 yang akan diselenggarakan di Kota Baubau sebagai pusat peradaban dan Ibukota Kesultanan Buton. Kegiatan ini merupakan perwujudan dari tekad bersama segenap komponen bangsa untuk tetap berupaya secara terus menerus melestarikan, melindungi, memelihara dan mengembangkan nilai nilai budaya luhur dan tradisi budaya yang masih hidup dan dihayati masyarakat di seluruh Nusantara.

Sebanyak 90 keraton dan kesultanan se-indonesia ikut berpartisipasi dalam meramaikan festival keraton nusantara VIII yang diadakan pada 1-4 september 2012 di kota Baubau sebagai pusat kesultanan Buton mengagendakan acara-acara kebudayaan dan juga hiburan rakyat, Acara yang bertemakan “Nusantara sebagai pusaka dunia” dimulai dengan acara adat pekande-kandea atau yang berarti makan-makan, merupakan tradisi syukuran dimana seluruh warga berkumpul di satu lapangan dan menikmati berbagai hidangan tradisional yang digelar diatas tikar. Dalam acara itu para Raja,Sultan,Pangeran maupun kerabat ikut duduk bersila berbaur bersama masyarakat tanpa ada batasan status sosial.

Lalu keesokan harinya bertempat di Stadion olahraga Betoambari acara festival keraton nusantara ke-VIII secara resmi dibuka oleh SEKJEN FKN, Dra Gusti Kanjeng Ratu Kusmutiah Wandansari Mpd  kemudian dilanjutkan dengan kirab prajurit keraton dan kesultanan peserta festival keraton nusantara ke-VIII tidak hanya para peserta masyarakat pun tumpah ruah ikut meramaikan. Kirab yang berakhir di kawasan Kotamara hanya diikuti sekitar 30 kontingen Keraton dan kesultanan dari total 90 kontingen peserta yang mengikuti festival keraton nusantara ke-VIII.

(Teks & Foto; Wari Artiko)