MELANCONG KE RUMAH TJONG A FIE

MELANCONG KE RUMAH TJONG A FIE

Jika Anda berjalan-jalan ke Medan, nampaknya belum lengkap jika tidak mengunjungi Rumah Tjong A Fie. Sebuah rumah besar yang berada di Jalan Ahmad Yani ini adalah milik Tjong A Fie (!860-1921). Tjong A Fie adalah seorang banker yang datang dari Cina. Di sekitar Medan, Tjong A Fie membangun bisnis perkebunan besar, pabrik kelapa sawit, pabrik gula, perusahaan kereta api dan memiliki lebih dari 10.000 karyawan. Tjong A Fie tertutup kepada masyarakat, Sultan Deli dan Kolonial Belanda.

Pada tahun 1911, ia diangkat menjadi Kapitan Cina atau Mayor der Chinezeen (istilah Belanda) yang berarti wakil tertinggi masyarakat Tionghoa di Medan. Tjong A Fie adalah symbol sukses cerita imigran Cina. Ia berasal dari Kanton pada tahun 1875, dengan beberapa potong dijahit perak pada sabuknya dan membuat kekayaannya di Pantai Timur Sumatera dalam waktu singkat dalam industri perkebunan. Selain itu, ia terkenal membangun berbagai fasilitas umum di Kota Medan, seperti Masjid Gang Bengkok dan penyumbang pembangunan Masjid Raya Medan. Ia juga membangun berbagai wihara, kuil, sekolah, gereja, jembatan, dan pelopor perkeretaapian di Sumatera Timur. Maka tak heran pada saat dia meninggal pada tahun 1921, Tjong A Fie telah menjadi tokoh legendaris.

Di Penang, ada Cheong Fatt Tze Mansion yang terlihat persis dengan Rumah Tjong A Fie. Cheong Fatt Tze adalah paman Tjong A Fie. Kedua nya bekerja sama dalam banyak bisnis dan Tjong A Fie membangun rumah menyerupai pamannya. Rumah di Penang telah dibuat menjadi sebuah hotel yang bersejarah.

Rumah Tjong A Fie dibangun pada tahun 1895 dan selesai pada tahun 1900. Pada pintu masuk terdapat ukiran kayu yang cantik dan  DUA patung singa duduk. Pada saat peringatan 150 tahun kelahiran Tjong A Fie, Juni 2009, rumah yang sering disebut mansion di lahan seluas 6.000 meter persegi itu dibuka untuk umum. Di dalam Rumah Tjong A Fie, kita jatuh seolah-olah kita sudah kembali pada pergantian abad terakhir.

Ruangan-ruangannya berikut pernak-perniknya sebagian besar masih asli seperti kusen, lantai, dan perabot-perabotnya. rumah terbagi dalam tiga bagian, yakni ruang inti yang berada di tengah, sayap kiri dan sayap kanan. Sayap kanan sampai kini masih digunakan oleh keluarga Tjong A Fie sehingga yang dibuka untuk umum adalah bangunan utama dan sayap kiri rumah.

Rumah ini memiliki 40 kamar dengan campuran gaya China, Melayu dan Eropa. Pada sebelah kiri gedung terdapat beberapa set meja-kursi tua yang tertata rapih serta berbagai pernak pernik hiasan. Pengaruh arsitektur Melayu dapat dilihat dalam deretan jendela, pintu, dinding dengan cat warna kuning dan hijau. Sedangkan pengaruh Cina dapat dilihat dalam ornamen ukiran dan lukisan di langit-langit.

Pada ruang utama, terdapat ruang terbuka persis di tengah bangunan yang disebut sumur surga. Selain menjadi ventilasi udara yang membuat seluruh ruangan sejuk, ruangan itu juga tempat keluarga Tjong A Fie untuk membakar dupa. Jika memandang ke atas dari sumur surga, maka akan tampak jendela-jendela besar bercat kuning-hijau khas Melayu. Jendela-jendela itu didesain dengan gaya Melayu yang menjadi tempat angin masuk menyejukkan ruangan lantai atas.

Di depan sumur surga terdapat ruang penerima tamu yang disekat dengan dinding ukiran kayu berwarna merah dan emas. Ruangan dibagi tiga, yakni ruang depan-tengah, kiri, dan kanan. Ruang tengah digunakan Tjong A Fie untuk menerima tamu umum, ruang di sebelah kiri untuk menerima tamu-tamu dari masyarakat Tionghoa, sedangkan ruangan di sebelah kanan khusus untuk menerima tamu Sultan Deli dan keluarganya. Perabotnya pun menyesuaikan dengan kebudayaan sang tamu. Di ruang China, pernak-perniknya berasal dari China, sedangkan di ruang Melayu, pernak-perniknya bernuansa Melayu.

Di lantai dua terdapat sebuah ruangan luas dengan jendela-jendela besar menghadap ke halaman. Di ruangan inilah Tjong A Fie kerap menggelar pesta dansa bersama tamu-tamunya. Pada sisi belakang sumur surga baik di lantai satu maupun lantai dua terdapat ruang sembahyang atau wihara tempat altar Kwan Te Kong dan Dewa Kwan Kong diletakkan. Pada langit-langit, gambar-gambar bunga dengan warna dari tumbuhan terlihat menarik. Sementara di wihara lantai satu disemayamkan abu leluhur Tjong A Fie.

Pada sisi kiri wihara lantai satu, terdapat ruang tidur Tjong A Fie. Lantai ruangan ini menggunakan terakota. Ruang tidur ini terdapat tempat tidur kayu berkelambu, lemari, lemari hias, meja-kursi di dalam ruang pribadi Tjong A Fie. Pada salah satu sudut ruangan tergantung baju-baju Tjong A Fie.

Di belakang ruang tidur dan wihara terdapat ruangan memanjang yang digunakan sebagai ruang makan dengan gaya Eropa. Di ruangan inilah keluarga Tjong A Fie menjamu tamu-tamunya. Satu ruangan lagi di sebelah kanan wihara lantai satu digunakan sebagai ruang pameran foto sejarah Tjong A Fie. Di situlah foto keluarga, kegiatan Tjong A Fie, hingga pemakamannya di tahun 1921 yang dihadiri ribuan orang dipajang.

 

PENULIS: NURAKHMAYANI

TEKS&FOTO: BERBAGAI SUMBER