Silek Taralak, Warisan Seni Beladiri Sawahlunto

Silek Taralak, Warisan Seni Beladiri Sawahlunto

 

Seni beladiri yang disajikan dalam bentuk seni pertunjukan memiliki daya tarik sendiri di beberapa daerah. Sebut saja seni beladiri Silek (silat) yang berkembang di Ranah Minangkabau. Seni pertunjukan yang dibumbui dengan olah raga beladiri ini berkembang hampir disetiap daerah di Sumatera Barat. Masing-masing daerah pun memiliki ciri khusus dalam setiap alirannya (gerakan).

Di Sawahlunto misalnya, Silek Taralak cukup berkembang, khususnya di daerah Balai Batu Sandaran. Seni beladiri yang sudah diwariskan secara turun temurun tersebut memiliki cerita unik, baik secara asal usul maupun dalam perkembangannya.

Idrus Malin Parmato 57 tahun, selaku Tuo Silek ( yang dituakan ) di daerah Balai Batu Sandaran mengatakan kalau  Silek Taralak masuk ke desa ini sekitar tahun 1920-an. Lebih jauh dia bercerita kala itu ada seorang  pakiah (musafir) yang belajar mengaji di daerah Tanjung Balik di Kabupaten Solok (salah satu kabupaten di Sumatera Barat). Musafir ini biasanya setiap hari Kamis  berkeliling ke daerah Balai Batu Sandaran untuk meminta sumbangan sukarela. Itulah caranya mencari kebutuhan hidup selama menuntut ilmu atau selama tinggal di surau dan masjid.

Selama berada di negeri tersebut kata Idrus Malin parmato, musafir ini mengajarkan Silek Taralak ke para pemuda desa setiap malam Kamis hingga Sabtu setiap minggunya. Namun yang menjadi tanda tanya,   selama  berada di negeri ini sang musafir tidak diketahui nama aslinya. Para anak didiknya hanya memanggil  “Angku Pariaman” dikarenakan beliau berasal dari Pariaman. Tidak hanya Silek Taralak, beberapa jurus andalan yang diminati murid-muridnya seperti Silek Langkah Ampek, Silek Biso dan Silek Kapak juga diajari sang musafir, tentunya setelah semuanya menguasai Silek Taralak terlebih dahulu

 Sekilas Silek

Silek atau atau silat adalah seni beladiri yang dimiliki oleh  masyarakat Minangkabau,  Sumatera Barat, yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Dengan memiliki tabiat  suka merantau semenjak beratus-ratus tahun yang lampau, masyarakatnya dibekali dengan beladiri untuk menjaga diri dari hal-hal terburuk selama perjalanan atau di rantau.

Disamping sebagai bekal untuk merantau, silek juga penting untuk pertahanan terhadap ancaman dari luar. Mengingat wilayah Minangkabau adalah kawasan yang cukup subur dan juga selaku produsen  rempah-rempah pada abad pertama masehi, tentu saja ancaman-ancaman keamanan bisa saja datang dari pihak pendatang ke kawasan ini. Dari sini muncul fungsi silek sebagi pengamanan, yaitu silek sebagai  panjago diri (pembelaan diri dari serangan musuh), dan parik paga dalam nagari (sistem pertahanan negeri).

Tidak hanya itu, silek juga juga mengilhami atau menjadi dasar gerakan berbagai tarian dan randai (drama Minangkabau) . Emral Djamal Dt Rajo Mudo (2007) pernah menjelaskan bahwa pengembangan gerakan silat menjadi seni adalah strategi dari nenek moyang Minangkabau agar silat selalu diulang-ulang di dalam masa damai dan sekaligus untuk penyaluran “energi” silat yang cenderung panas dan keras agar menjadi lembut dan tenang.

Untuk sebutan bagi orang yang mahir bermain silat dinamakan pandeka (pendekar). Gelar Pandeka ini pada zaman dahulunya dilewakan (dikukuhkan) secara adat oleh ninik mamak dari negeri yang bersangkutan. Namun pada zaman penjajahan gelar dibekukan oleh pemerintah Belanda. Setelah lebih dari seratus tahun dibekukan, masyarakat kembali mengukuhkan gelar Pandeka pada tahun 2000-an. Pandeka ini memiliki peranan sebagai parik paga dalam nagari (penjaga keamanan negeri), sehingga mereka dibutuhkan dalam menciptakan negeri yang aman dan tentram. (Adrial)