MAKAN MENJADI LAHAP DENGAN LONTONG BALAP

MAKAN MENJADI LAHAP DENGAN LONTONG BALAP

 

Nama makanan tradisional Surabaya, Jawa Timur ini terdengar unik. Lontong Balap namanya. Memang ada sejarah dibalik nama Lontong Balap. Penjual lontong balap ini jaman dulu didominasi oleh penjual dari kampung Kutisari dan Kendangsari sekarang menjadi wilayah Surabaya selatan, dari Kutisari-lah lontong balap itu berasal makanan, jarak dari kedua kampung ini lebih kurang berjarak 5 km dari pasar Wonokromo.

Para pedagang lontong yang selalu berjalan cepat beriringan saat akan mulai menjajakan dagangannya. Cara berjalan cepat sambil beriringan seakan sedang berlomba (balap) ini disebabkan dahulu para pedagang tersebut menggunakan pikulan yang di ujung-ujungnya terdapat kuali besar dari tanah liat penuh berisi kuah dan tauge. Mungkin karena memikul beban yang berat maka pedagang tersebut bercepat-cepat langkahnya untuk mengurangi beban berat tersebut seakan berbalapan. Karena itulah dinamakan Lontong Balap.

Para pedagang Lontong Balap tersebut awalnya sering mangkal di depan pasar Wonokromo sebelum pasar tersebut terbakar. Pasar tersebut sekarang menjadi area pertokoan modern dengan nama Darmo Trade Center (DTC).  Pada masa sekarang lontong balap lebih sering dijual dalam kereta dorong dan warung, meski demikian nama lontong balap tetap tidak berubah. Lontong balap juga adalah makanan favorit orang Surabaya.

Makanan favorit orang Surabaya ini terdiri dari lontong, tauge, tahu goreng, lentho, bawang goreng, kecap dan sambal. Lontong pada makanan ini diiris-iris dan diatas irisan lontong diberi irisan tahu dan remasan beberapa lentho (bulatan kecil sebesar ibu jari dan di pencet ini bentuk lentho asli lontong balap berbeda dengan lentho yang dipakai sekarang). Setelah itu di atasnya diberi tauge setengah matang yang porsinya terbanyak dalam hidangan. Setelah itu diberi kuah secukupya, sambal dan kecap disesuaikan selera pembeli. Makanan ini dihidangkan dengan pasangannya yaitu sate kerang beberapa tusuk.

(NURAKHMAYANI)