Stasiun Keroncong, Mengenang Keroncong Sawahlunto

Stasiun Keroncong, Mengenang Keroncong Sawahlunto

Stasiun keroncong. Berbagai persepsi akan muncul ketika kita mengartikan kalimat tesebut. Kita bisa mengartikannya dengan sebuah stasiun dimana tempat diputarnya musik-musik keroncong atau bisa juga diartikan dengan tempat bermuaranya musisi keroncong untuk mengekspresikan diri yang selanjutnya dipertontonkan kepada khalayak ramai.

Namun disini, makna dari Stasiun Keroncong diatas adalah sebuah pagelaran musik keroncong yang diselenggarakan di bekas stasiun kereta api (kini  menjadi Museum Kereta Api)  bertempat di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Unik memang, kenapa musik keroncong yang diangkat, bukan musik dengan genre pop atau rock yang sedang diganduringi kawula muda. Tidak hanya itu, kenapa musik tersebut bisa berkembang di kota tambang ini yang dulunya dihuni buruh-buruh tambang yang identik dengan kekerasan.

Jika ditelaah dari sejarahnya, Kota Sawahlunto menyimpan banyak niali sejarah yang sampai sekarang belum banyak diketahui orang. Sebut saja perkembangan musik keroncong, yang bisanya berkembang di pulau Jawa justru pernah berkembang  di sebuah kota kecil di pedalaman Sumatera.

Sejak dibukanya areal tambang batubara di Sawahlunto tahun 1800-an, kebutuhan buruh atau pekerja tambang kian meningkat. Berbagai cara diupayakan pemerintah kolonial Belanda saat itu untuk mendatangkan para buruh, termasuk orang-orang tahan yang ada di penjara Batavia pun turut dipekerjakan.

Kedatangan para buruh inilah yang membawa berbagai kebudayaan dari daerah asalnya masuk ke Sawahlunto, termasuk musik keroncong. Untuk musik asal Portugis ini, umumnya dibawah para buruh asal Jawa, dimana mereka telah mengenal musik tersebut  ketika berada di kampung halamannya.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa musik keroncong bisa berkembang di Sawahlunto sementara para buruh menghabiskan waktunya di kawasan tambang. Bahkan, banyak para buruh justru ditempatkan dipenjara-penjara tambang yang  tidak terhubung dengan dunia luar serta status sosialnya yang dibawah kemiskinan.

Pertanyaan diatas-pun terjawab dengan adanya hiburan yang  diberikan pemerintah kolonial Belanda kepada para pekerja tambang ketika mereka menerima upah. Disinilah para buruh dihibur dengan berbagai atraksi, seperti pertunjukan tonil (sandiwara), sinden sampai kepada musik keroncong.

Jika dilihat lebih jauh, tidak semua pekerja tambang dari status sosial yang rendah, banyak para buruh di Sawahlunto yang berasal dari tawanan politik maupun kriminal. Mereka inilah yang diyakini membawa aliran musik keroncong ke kota ini, mengingat nilai seni yang mereka miliki.

Untuk perkembangan musik keroncong di Sawahlunto sendiri belum dapat diketahui pastinya. Diperkirakan awal abad ke-20, musik yang sangat berkembang di Cilincing, Tugu, Jakarta ini sudah masuk ke Kota Arang. Hal itu terlihat dari generasi termuda keroncong yang masih hidup hingga kini sudah berumur sekitar 50 dan 60 tahunan. Menurut kesaksian mereka, bahwa musik keroncong sudah dimainkan di Sawahlunto sejak zaman mbah mereka dahulunya.

Pertunjukan keroncong pada masa Kolonial Belanda di Sawahlunto bisanya dilakukan pada saat malam hiburan, ketika para pekerja tambang menerima upah. Disamping itu, sajian keroncong juga mengisi pesta pertemuan pejabat-pejabat tambang yang dilangsungkan di Gedung Societiet (sekarang sudah menjadi Gedung Pusat Kebudayaan) Sawahlunto. Bisanya, pegelaran ini dilakukan oleh kelompok-kelompok seni yang berkembang saat itu.

Semakin meredupnya dunia tambang di Sawahlunto, juga berimbas kepada semakin buramnya seni keroncong di kota ini. Bahkan di tahun 90-an grup keroncong yang digawangi Paguyuban Sawahlunto, menemui ‘masa akhir’ dikarenakan musisinya yang rata-rata sudah renta serta sebagian yang telah menemui ajal.

Untuk mengingat dan mempopulerkan kembali musik keroncong di Sawahlunto, maka digelar ‘Stasiun Keroncong’. Istilah inilah yang digunakan musisi generasi muda kota ini untuk membangkitkan gairah seni, khususnya musik keroncong. Hasilnya, pegelaran pun dilakukan dengan mengangkat tema “Stasiun Kroncong – Menjemput Masa Lalu Bersama Kroncong” yang dilangsungkan di Museum Kereta Api Sawahlunto, pada tanggal 23 Juni 2012 lalu.

Turut menghibur dalam pagelaran tersebut Grup Keroncong OK Kober dari Pekanbaru serta Grup Keroncong OK Kober Sugar, Sawahlunto. Harapan digelarnya pagelaran seni ini tidak lain untuk mengenalkan musik keroncong kepada generasi muda serta menyilau kembali sejarah keberadaan keroncong di kota ini. (Adrial)