Sibolga dan Kebudayaannya. Akankah diklaim lagi?

Sibolga dan Kebudayaannya. Akankah diklaim lagi?

Klaim Malaysia terhadap kebudayaan Indonesia sungguh sangat miris. Entah Indonesia yang tidak bisa menjaga kekayaan budayanya apa Negeri Jiran ini  yang ingin memperkaya kebudayaannya meski harus mengklaim kebudayaan negara lain. Entah lah.

Disini saya tidak membicarakan klaim yang begitu ‘menggebu’ yang dilakukan Malaysia terhadap kebudayaan Indonesia, seperti Reog Ponorogo, tari Pendet, bahkan akhir-akhir ini kekayaan budaya Sibolga (Batak), Tor Tor dan Gordang Sambilan. Tapi, lebih jauh bagaimana kebudayaan yang ada tidak lagi diklaim oleh negara lain, karena Indonesia memiliki ratusan budaya yang mencirikan kehidupan masyarakat yang beragam etnis.

Di Sibolga misalnya, ada beberapa kebudayaan yang sangat kental dan hingga kini masih melekat dikehidupan masyarakatnya. Sebut saja kesenian Sikambang,  kesenian ini  secara umum mewakili seluruh kesenian yang berlaku bagi masyarakat Pesisir Pantai Barat Sumatera, mulai dari Meulaboh di Banda Aceh, Tapanuli, Minangkabau hingga Bengkulu.

Selain di Pantai Barat, Sikambang juga berlaku di Pantai Timur kepuluan Nias dan Pulau Telo. Kesenian yang bagian pokoknya terdiri dari tarian dan nyanyian (seni-tari), mengemban unsur kebudayaan bernafaskan seni budaya. Maka tidak heran kalau kesenian ini  tetap eksis sejak zaman dahulu  hingga sekarang di era  modernisasi.

Tidak hanya tarian dan nyanyian yang ditonjolkan, Sikambang  ini juga mengemban falsafah-falsafah kontemporer yang sarat makna, bercorak petuah, berirama lagu dan berwujud tari. Sikambang bukanlah akulturasi yang terserap dari kebudayaan tetangga seperti Batak dan Minangkabau, tetapi kesenian warisan peradaban kerajaan pesisir, khususnya dari abad ke-7  masa kejayaan Jayadan dengan ratunya, Puteri Rundu.

Selain kesenian Sikambang, Sibolga yang dikenal dengan sebutan Kota Berbilang Kaum ini juga menyimpan kekayaan buadaya yang hingga kini masih dilestarikan. Berikut kebudayaan yang masih melekat ditengah-tengah masyarakat Sibolga yang multi etnis.

Mangure Lauwik, merupakan acara budaya yang dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur sekaligus memanjatkan do’a untuk kelestarian laut. Dilaksanakan ketika nelayan akan memulai musim menangkap ikan. Kata Mangure Lauwik disadur dari bahasa Minang, mengingat Sibolga yang beragam etnis tadi. (Tulisan selanjutnya saya coba melihat akulturasi budaya Sibolga dengan Minangkabau, yang memiliki kesamaan)

Berikut Tarian Tor Tor masyarakat Batak, merupakan seni tari khas masyarakat Batak yang biasanya dipergunakan pada acara pernikahan, upaccara kematian, dan acara adat lainnya. Kini Tor Tor menjadi perbincangan yang serius sejak Malaysia mengklaimnya sebagai budaya mereka.

Acara Upa Upa, acara yang secara nasional dapat dipersamakan dengan acara tepung tawar. Intinya, acara ini sebagai wujud memanjatkan doa, yang biasanya dilaksanakan pada acara pernikahan dan penyambutan.

Kesenian Tulo-tulo. Merupakan kesenian masyarakat Nias. Biasanya ditampilkan pada hari hari besar. Dan selanjutnya Gordang Sambilan masyarakat Mandailing, seni musik berupa pertunjukan instrument gendang yang berjumlah sembilan. Seni musik ini juga diklaim Malaysia sebagai budaya mereka.

Kebudayaan diatas baru sebagain kecil yang terdapat di Sibolga. Belum lagi dengan ratusan daerah dan enis lain yang ada di Indonesia. Begitu kayanya negeri ini dengan kebudayaan, sampai pemerintahannya lupa untuk menginventaris kekayaan bangsa ini. Apalagi sampai medaftarkannya sebagai kebudayaan asli Indonesia. Semuanya tanggung jawab siapa? Masyarakat Indonesia-lah yang harus memperjuangkan semua ini. (Adrial)