RUMAH SI PITUNG TERPENCIL DARI HIRUK PIKUK KOTA

RUMAH SI PITUNG TERPENCIL DARI HIRUK PIKUK KOTA

Rumah yang satu ini jauh dari pusat kota serta keramaian. Padahal rumah ini merupakan bangunan bersejarah dan cagar budaya. Inilah bangunan Rumah Si Pitung yang terletak di kampung Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Di rumah inilah Si Pitung bersembunyi dari kejaran tentara Belanda. Si Pitung mempunyai julukan Robin Hood dari Betawi ini sempat membuat pusing tentara Belanda dengan ulahnya. Ia merampok tuan tanah dan rentenir yang banyak membuat rakyat Betawi menderita.

Dalam buku Sejarah Kampung Marunda yang diterbitkan Dinas Museum dan Sejarah Pemprov DKI Jakarta disebutkan, Pitung adalah anak bungsu dari empat bersaudara, yakni dua abang dan satu empok (kakak perempuan). Pitung sebenarnya tidak menetap di Marunda. Jawara Betawi itu adalah warga Rawabelong dengan ayahnya Piun asal Cirebon dan ibunya Pinah dari Betawi. Pitung dikenal sebagai anak yang cerdas, sopan, soleh, serta taat menjalankan ajaran agama Islam yang dianutnya. Dia rajin belajar ilmu silat dari gurunya, Haji Naipin di Rawabelong hingga menjadi anak kesayangannya.

Saking sayang sama muridnya, sang guru memberikan semua ilmu silatnya, termasuk ilmu kekebalan diri. “Setelah memiliki cukup ilmu, dia menolong rakyat yang tertindas Belanda dan tuan-tuan tanah,” ujar Atit Fauzi (56), tokoh Marunda Pulo, yang banyak mengetahui keberadaan rumah Pitung.

Rumah Si Pitung diperkirakan dibangun pada abad ke 18, bangunannya berbentuk rumah panggung khas bergaya Betawi. Rumah Panggung Betawi hanya bisa ditemukan di daerah Jakarta Utara, khususnya di Marunda. Rumah Si Pitung ini telah beberapa kali di renovasi. Ada beberapa bagian kayunya yang sudah lapuk dan harus diganti dengan kayu baru. Namun, beberapa bagian lainnya yang masih kuat tetap dipertahankan. Misalnya empat tiang di beranda depan rumah masih asli. Begitu pula beberapa jendela dan gagang pintu pun asli. Kalau air pasang, pekarangan dan bagian kolong rumah tergenang air laut hingga 50 sentimeter. Cat bangunan rumah sudah tampak memudar. Pekarangannya tak tertata, bahkan jorok, sama seperti pada lorong-lorong di permukiman penduduk setempat.

Rumah panggung itu awalnya dibangun tiga kamar, tetapi kemudian dua di antaranya dibongkar sehingga tinggal satu kamar, tanpa perabot. “Bangunannya masih menyerupai bentuk asli, dibangun sedikit mirip dengan kapal pinisi,” kata Atit. Panjang rumah panggung ini 15 meter dan lebar lima meter. Di bagian tengahnya ada tambahan sayap di kiri-kanan, masing-masing 1,5 meter. Semuanya terbuat dari papan kayu jati, dan beberapa bagian ada besi, seperti jeruji jendela dan penyangga atap.

Tiang penopang bangunan ada 40 buah, tingginya dua meter, tinggi bangunan juga dua meter. Karena bentuknya seperti itu, ruangannya pun tampak pendek, apalagi kalau melewati pintu, pengunjung harus merunduk.

Lantai dari papan kayu jati, semuanya baru. Ada sepuluh jendela yang berdaun pintu dan berjeruji, sedang dua lainnya tanpa jeruji dan daun. Siang hari jendela itu selalu dibuka. Di rumah itulah si jawara Betawi tinggal selama beberapa tahun setelah dikejar-kejar Belanda hingga akhirnya ditangkap, mati dan dikuburkan di Pejagalan.


TEKS&FOTO: DARI BERBAGAI SUMBER

PENULIS: NURAKHMAYANI