Masjid Luar Batang saksi penyebaran islam di Jakrta

Masjid Luar Batang saksi penyebaran islam di Jakrta

Nama salah satu masjid tertua di Jakarta ini terdengar unik. Berbeda dengan nama masjid- masjid pada umumnya yang mengambil nama-nama Islam. Masjid Luar Batang namanya. Dinamakan demikian selain karena Masjid Luar Batang berada di jalan Luar Batang, Penjaringan
Jakarta Utara, Luar Batang juga merupakan julukan ulama yang mendirikan masjid ini. Berawal dari Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus mendirikan sebuah musholla berukuran 6×6 meter pada sebidang tanah pemberian Gubernur Jenderal VOC atas jasanya pada Belanda tahun
1739. Pada saat itu, lebih akrab disebut surau/langgar. Terbuat dari kayu dengan gaya bangunan khas Betawi. Hanya saja, kubah bawang sudah dikenalkan waktu itu.

Di langgar inilah rutin digelar pengajian dan sebagai pusat penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus. Murid-murid Sayid Husein banyak dan Sayid Husein sendiri yang berasal dari Hadramaut, Yaman disegani penduduk sekitar. Bahkan
disegani pula oleh tentara Belanda, hingga beberapa kali Belanda mengalah dalam beberapa kebijakan.

Sayid Husein wafat pada tanggal 29 Ramadhan 1169 (24 Juni 1756) pada usia sekitar 30-40 tahun, Belanda melarang melarang keras para pendatang dimakamkan di daerah itu. Mereka harus dimakamkan di Tanah Abang. Ketika akan dimakamkan, pada saat digotong
menggunakan “kurung batang” (keranda dari bambu) menuju ke Pemakaman di Tanah Abang, ketika tiba di pemakaman jenazahnya sudah tidak ada di dalam kurung batang, dan ketika para jemaah kembali ke kediaman Sayid Husein mereka mendapati Jenazah beliau masih berada di
kediamannya.

Hal tersebut berlangsung sampai tiga kali. Akhirnya para jama’ah kala itu bermufakat untuk memakamkan beliau di samping masjid dan Belanda lagi-lagi mengalah. Sejak itulah, tempat itu dinamakan musholah luar batang, yang kemudian dipugar menjadi Masjid Luar Batang. Makam
Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus kini berada didalam masjid karena perluasan bangunan masjid.

Kini lebih dari 3 abad berlalu. Bekas-bekas masa lampau sudah hampir tidak ada lagi. Seluruh bangunan sudah dirombak total pada 1992. Kubah bawang diganti menjadi kubah joglo atau kubah limas tadisional Indonesia. Menara masjid dipancang tinggi-tinggi, menyembul ditengah
pemukiman super padat tersebut. 12 tiang utama dari kayu dibongkar dan diganti pilar beton bergaya Romawi. Sementara lantai kayu dan ubin diganti dengan keramik dan batu granit.

Selain plafon kayu jati yang masih asli, penanda yang menunjukan masjid tersebut terbilang uzur adalah prasasti di makam Husein bin Ali Idrus. Di situ tertulis makam bertanggal 24 Juni 1756. Di dalam ruangan 6×7 meter tersebut menjadi pusara terakhir Husein bin Alaydrus.

Meski terlah mengalami perubahan bentuk secara total dari bangunan masjid yang pertama kali dibangun oleh Sayid Husein, namun masjid ini tetap terdaftar dalam bangunan bangunan bersejarah pemerintah DKI Jakarta, dan harus dilindungi dan dilestarikan karena faktor kesejarahan nya.

Hingga kini masjid ini ramai dikunjungi warga yang berziarah. Mereka datang bukan hanya dari Jakarta, tetapi juga dari luar kota bahkan luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Irak, Iran, Filipina. Di bulan suci Ramadhan seperti sekarang ini, pengurus masjid mengadakan berbagai kegiatan. Pengurus masjid bersama sejumlah pengurus masjid tua lain menyelenggarakan tradisi khatam Quran secara bergantian. Selain itu, hidangan khas Betawi bercita rasa Arab (Hadramaut, Yaman) disajikan kepada seluruh peziarah. Nasi kebuli, kurma, minuman selasih, pacar cina, dan es kelapa muda menjadi hidangan pembuka puasa.

Puncak keramaian makan besar di masjid ini berlangsung setiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, serta hari kelahiran Sayid Husein tanggal 25 Agustus. Setiap memperingati maulid dan hari kelahiran habib, pengurus memasak nasi kebuli sampai 40 kuali untuk 5.000
peziarah.

TEKS&FOTO: BERBAGAI SUMBER
PENULIS: NURAKHMAYANI