Ritual Tuturangia Andala pada FPPM Berjalan Sakral

Ritual Tuturangia Andala pada FPPM Berjalan Sakral

Ritual adat Tuturangia andala ( nelayan memberikan persembahan kepada penjaga laut agar hasil tangkapan mereka bertambah ) pada Fertival Perairan Pulau Makassar (FPPM) ke 5 di Pulau Makasar, Baubau berjalan sakral dan khidmad. Ritual ini sekaligus menjadi pembuka festival yang dilangsungkan pada 18 Juli lalu di Baubau.

Berbeda dengan FPPM sebelumnya, kali ini penyelenggaraan hanya dilangsungkan satu hari saja mengingat waktu yang bersamaan dengan masuknya bulan suci Ramadhan. Biasanya festival ini digelar pada setiap 18 s.d 21 Juli setiap tahunnya dengan dibarengi berbagai kegiatan seperti renang antar pulau, perahu naga dan sebagainya.

“ FPPM merupakan salah satu upaya pelestarian budaya masyarakat. Karena itu pemerintah senantiasa mendorong dan mengembangkan acara tersebut. Dan kalau bisa dikembangkan dalam dunia pendidikan melalui muatan kurikulum lokal,” kata Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, H.M. Saleh Lasata dalam sambutannya pada acara pembukaan FPPM ke-V di pelataran Bukit Wantiro, Pulau Makasar, Baubau.

Sedangkan ritual Tuturangia andala menurut Saleh Lasata adalah ungkapan rasa syukur para nelayan kepada penguasa alam laut yang telah memberikan rezeki dan menjauhkan nelayan dari marabahaya bencana gelombang laut selama setahun dalam kegiatan melaut. Disamping itu, para nelayan juga memohon kepada penguasa alam laut agar pada tahun berikutnya diberikan rezeki yang berlimpah dan keselamatan dalam melaut atau mencari ikan sebagai penopang kehidupan keluaarga mereka.

Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Gendro Nurhadi, yang turut hadir dalam festival tersebut  merasa tersanjung ketika berada di Pulau Makasar, Kota Baubau. Beliau hadir dengan memakai  pakaian adat Buton, sebagai wujud  penghargaan masyarakat setempat kepada tamu yang dihormati.

Melihat adanya ritual seperti itu, Gendro mengingatkan ritual FPPM jangan dicampuradukkan dengan ranah agama. Sebab jauh sebelum agama masuk, masyarakat telah menganut suatu sistem dengan sistemnya sendiri. Apalagi Ia melihat, dalam ritual tetap menggunakan doa-doa dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Meski FPPM ke-V hanya digelar satu hari, namun tidak menghilangkan unsur festival dan tingkat kunjungan. Terlihat pada saat acara digelar ratusan pengunjung memadati panggung utama ritual, baik masyarakat sekitar Baubau maupun turis manca negara. Tampak juga artis Ray Sahetapi ikut memeriahkan acara tersebut. Adrial