FESTIVAL KAMPUNG TUGU: SEMARAK PERPADUAN DUA BUDAYA

FESTIVAL KAMPUNG TUGU: SEMARAK PERPADUAN DUA BUDAYA

Budaya Portugis tampaknya tak pernah hilang dari Jakarta. Tarian khas Portugis yang biasa disebut Dance Portuguera dengan lincah dibawakan empat gadis remaja warga Tugu keturunan bangsa Portugis pada Festival Kampung Tugu yang digelar Rabu 18 Juli lalu di halaman Gereja Tugu, Cilincing Jakarta Utara. Tak hanya tarian, festival yang dibuka oleh walikota Jakarta Utara, Bambang Sugiyono ini menampilkan kesenian Kerontjong Toegoe, pakaian jaman dahulu serta dimeriahkan pula kesenian berlatar budaya Portugis seperti Brazil dan Timor Leste. Komunitas sepeda ontel dan bazar pun tak ketinggalan ikut meramaikan acara.

Dalam sambutannya walikota Jakarta Utara, Bambang Sugiyono menyatakan Festival Kampung Tugu ini memiliki keunikan karena merupakan perpaduan dua budaya yaitu budaya Portugis dan budaya Indonesia. “Kawasan ini adalah saksi sejarah masuknya Portugis ke Jakarta dan masih dihuni puluhan kepala keluarga keturunan Portugis,” ujarnya.

Kampung Tugu adalah salah satu kampung tertua di Jakarta yang dibangun oleh Mardijkers, bangsa Portugis yang menjadi tawanan perang VOC. Setelah Indonesia merdeka, orang-orang keturunan Portugis ini kemudian membentuk sebuah komunitas Kampung Tugu yang hingga sekarang masih bertahan. Kebudayaan Portugis berakulturasi dengan kebudayaan setempat sehingga menghasilkan sejumlah kebudayaan baru seperti musik keroncong. Begitupun dengan bahasa yang kini telah diadopsi sebagai bahasa Indonesia seperti bangku, bantal, bendera, biola, meja, serdadu, boneka, algojo, pita, cerutu, gereja, jendela, mentega dan sepatu.

(NURAKHMAYANI)