Sawahlunto Gelar Seminar Internasional Pencak Silat

Sawahlunto kembali ‘menggaungkan’ namanya di dunia internasional. Setelah sukses dengan perhelatan Sawahlunto International Music Festival atau yang lebih dikenal dengan SIMFes dan sebagai titik star Tour de Singkarak beberapa waktu  lalu, kini akan diggelar Seminar International Pencak Silat. Seminar  seni bela diri ini akan dilangsungkan pada tanggal 5 s.d 7 juli 2012 di Desa Rantih, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto.

Sama halnya sebagai kurator SIMFes, acara yang dilangsungkan di alam terbuka ini juga di ‘komandoi’ oleh Hiltrud Cordes, yang juga selaku Ketua Pencak Silat di negaranya, Jerman. Ketertarikan beliau untuk menyelenggarakan seminar tersebut terkuak setelah mengunjungi Desa Rantih, yang tidak lain adalah sebuah Desa Wisata di Kota Sawahlunto.

Desa yang memiliki hawa yang seimbang (tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin) ini dipandang Cordes sangat memungkinkan digelarnya seminar internasional pencak silat. Disamping itu, beliau juga melihat budaya yang berkembang ditengah masyarakatnya sangat bersentuhan langsung dengan pencak silat, yaitu Randai (menggabungkan seni lagu, musik, tari, drama dan silat menjadi satu) yang juga berkembang di daerah lainnya di Sumatera Barat.

Acara seminar nantinya juga berkaitan dengan penyelenggarakan kegiatan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI), yang keanggotaannya mencakup Asia Tenggara. Tidak hanya itu, Cordes juga akan mencoba menghadirkan peserta dari Jerman dan beberapa negara lainnya di benua Eropah.

Saat acara berlangsung nantinya juga akan dilakukan pembukaan gelanggang permanen untuk pelatihan pencak silat maupun pertunjukan Randai. Disamping itu juga akan hadir pertunjukan Randai yang dimainkan oleh kaum tua desa setempat.

Sejarah Pencak Silat

Dalam www.wikipedia.org tradisi silat diturunkan secara lisan dan menyebar dari mulut ke mulut, diajarkan dari guru ke murid, sehingga catatan tertulis mengenai asal mula silat sulit ditemukan. Sejarah silat dikisahkan melalui legenda yang beragam dari satu daerah ke daerah lain. Legenda Minangkabau misalnya, silat (bahasa Minangkabau: silek) diciptakan oleh Datuk Suri Diraja dari Pariangan, Tanah Datar di kaki Gunung Marapi pada abad ke-11. Kemudian silek dibawa dan dikembangkan oleh para perantau Minang ke seluruh Asia Tenggara.

Perkembangan silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum penyebar agama Islam pada abad ke-14 di nusantara. Kala itu pencak silat diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau atau pesantren. Silat menjadi bagian dari latihan spiritual. Dalam budaya beberapa suku bangsa di Indonesia, pencak silat merupakan bagian tak terpisahkan dalam upacara adatnya. Misalnya kesenian tari Randai yang tak lain adalah gerakan silek Minangkabau kerap ditampilkan dalam berbagai perhelatan dan acara adat Minangkabau.

Sedangkan untuk aliran perguruan pencak silat di Sumatera Barat sendiri adalah Silek Harimau Minangkabau, adalah aliran silek (silat Minangkabau), seni beladiri yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Masyarakat Minangkabau memiliki budaya merantau semenjak beratus-ratus tahun yang lampau. Untuk merantau tentu saja mereka harus memiliki bekal yang cukup dalam menjaga diri dari hal-hal terburuk selama di perjalanan atau di rantau, misalnya diserang atau dirampok orang. Disamping sebagai bekal untuk merantau, silek penting untuk pertahanan nagari terhadap ancaman dari luar. (Adrial)