FESTIVAL FILM BENTENG (Jelang Liter(art)si & Ternate Membaca 2018 di Fort Oranje )

FESTIVAL FILM BENTENG (Jelang Liter(art)si & Ternate Membaca 2018 di Fort Oranje )

Desentralisasi Produksi Film

Benteng Oranje tak seperti dulu, kesan sepi, bersarangnya roh gentayangan, hingga aksi “tercela” para pengunjung disertai dengan vandalismenya kini kian jauh dari tangkapan mata kita dan liputan pemberitaan media. Lantas apakah yang terjadi di bekas benteng Belanda tersebut? Seolah menjadi rumah bersama bagi publik Ternate, berbagai komunitas tak mau menyia-nyiakan ruang pusaka tersebut sebagai ruang kreatif dan ekspresi bagi komunitas loka dalam beragam atraksi budaya maupun berbagai kegiatan lain. Salah satunya adalah kegiatan literasi yang kini telah memasuki tahun ke-III dan populer dikenal dengan Ternate Mmebaca (Terbaca). Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan Workshop Menulis dan Film bertajuk Liter(art)Si “Membaca Seni Visual” yang digagas oleh Jaringan Komunitas Ternate (JARKOT). Berdasarkan jadwal acaranya, kegiatan diskusi Film tersebut akan menghadirkan beberapa narasumber antara lain: Monang Sinambela (Lembaga Sensor Film), Hadiartomo (Dosen Perfiliman IKJ), Ai Erfandy (Iwan Dano Film) dan Tom (Wildhouse Production) yang dipandu oleh moderator Lisda Ariani Simabur (My First Movie).

Penulis bersama Heru Effendy, Ketua Komunitas My First Movie Indonesia saat pelatihan/workshop produksi film di Ternate, 2014

Sungguh event ini merupakan sebuah momentum yang luar biasa karena beberapa hal: Pertama, berbarengan dengan telah dibukanya studio XXI di salah satu pusat perbelanjaan kota ini pada (16/5/2018) lalu. Kedua, semakin menggeliatnya dunia perfiliman nasional yang menjalar ke berbagai penjuru negeri belakangan ini. Ketiga, meningkatnya jumlah dan kualitas karya anak negeri untuk meraih berbagai penghargaan dalam ajang perlombaan film dokumenter dan film pendek dari tingkat sekolah menengah hingga umum.dipentas nasional. Keempat, dunia film bukan sekedar soal kemampuan teknikal dalam menciptakan sebuah tampilan visual (tata cahaya, editing vidio, komposisi gambar, perekaman, dll), melainkan pula aspek pengetahuan (menulis naskah, membuat master breakdown, daftar shot, storyboard, dll) yang digali melalui proses berpikir kreatif untuk menciptakan alur cerita yang menarik lewat narasi sebuah skenario sehingga film yang diproduksi tidak terkesan kering atau monoton.

Untuk alasan pertama, penulis memiliki pengalaman pribadi tersendiri ketika dirilisnya beberapa film pada studio layar lebar di beberapa kota besar di Indonesia seperti film Ada Apa Dengan Cinta 2, Banda “The Dark Forgotton Trail”, dll. Umumnya pengalaman pribadi tersebut lebih diliputi oleh rasa penasaran dan ketidakpuasan kala itu. Rasa penasaran benar-benar menyelimuti pikiran penulis untuk ingin mengetahui secara utuh jalan cerita Film Ada Apa Dengan Cinta 2 yang menyedot ribuan mata penikmat film Indonesia sejak trailernya dirilis pada saat itu, sontak menjadi pembicaraan hangat kaum muda tanah air. Kota Ternate yang tidak memiliki sarana studio film seperti studio 21 atau XXX saat itu maka para penikmat film di kota ini harus ke Manado atau kota besar lainnya untuk sekedar menontonn film yang lama dinanti setelah AADC 1 yang sukses pada tahun 2002 silam.

Penulis saat syuting Film pendek bersama siswa SMU di Museum Rempah Ternate

Sebagai pegiat traveling yang juga penikmat film maka AADC 2 pun akan tak luput menjadi bagian dari rutinitas saat itu. Setelah melakukan perjalanan panjang di Banda Aceh, dari Lamno hingga titik Nol Kilometer di Sabang dan kembali ke Ternate via Jakarta maka, penulis menyempatkan waktu untuk menikmati film AADC 2 di kota Bogor beberapa tahun lalu saat itu. Tatkala pemutaran filmnya dimulai penonton seolah hanyut dengan kisah pertemanan (geng Cinta) yang tetap solid meski masing-masing dari mereka memiliki jalan hidupnya sendiri-sendiri. Karakter Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra) seolah sukses membuat para penggemarnya merasa trenyuh melalui tayangan singkat trailer yang berdurasi 30 detik tersebut. “yang kamu lakukan ke saya itu jahat”, isi percakapan yang keluar dari mulut Cinta kepada Rangga seolah menjawab “rahasia” dibalik alasan Rangga untuk memutuskan Cinta semasa melanjutkan studi di luar negeri.

 

Imajinasi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal

Sesungguhnya sebuah catatan penting yang dapat kita jadikan sebagai dorongan dalam memajukan dunia perfiliman di daerah adalah mengangkat berbagai cerita dan pengetahuan yang berbasis pada kearifan lokal dan konsep masyarakat kepulauan berdasarkan karakteristik sosial dan demografi daerah ini. Impian ini menjadi pentng untuk diwujudkan karena ditengah keterbatasan sarana dan prasarana perfiliman di kota ini, telah lahir berbagai komunitas perfiliman yang bangkit dan mengungkap cerita lewat dunia film, sebut saja My First Movie, Iwandano Film, dll, seolah mempresentasikan kebangkitan dunia film lokal yang mencoba eksis ditengah keterbatasan.

Pemutaran film pada beberapa waktu lalu yang dirangkaikan dengan kegiatan bedah film di Museum Rempah-Rempah Kota Ternate yang secara rutin dilakukan oleh komunitas yang disebutkan diatas seolah mempertegas meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan dikalangan generasi muda Ternate untuk menggali dan mengangkat kembali realitas sosial di sekeliling kita sebagai sebuah cerita film. Banyak sekali peristiwa heroik masa lalu, kisah nyata berlatar sejarah dimasa kolonial hingga kini yang terlahir ditengah masyarakat akan semakin menjadi menarik jika dinarasikan lewat cerita dan divisualisasikan lewat sebuah film. Tak perlu berkhayal untuk mengarang cerita fiksi, deretan fakta dari berbagai peristiwa di negeri ini tak kalah menariknya dengan latar sastra etnik seperti kisah Siti Nurbaya atau Malinkundang (Sumatera Barat), legenda Tangkuban Perahu (Jawa Barat) dan sebagainya yang tersebar di Nusantara.

Berbagai kisah imajiner (fiksi) karya pemikiran kreatif dimasa kini dapat menjadi potensi untuk dikembangkan lewat jalur film tentunya. Sebuah kisah imajiner penulis berikut dapat menjadi contoh untuk merepresentasikan kehidupan berlatar kisah cinta yang tak kalah menariknya dengan kisah Siti Nurbaya di tanah Minang, atau kisah Romeo dan Juliet di negara eropa, berikut cuplikan ceritanya:

Alkisah tentang seorang pengantin wanita pada sebuah malam disaat perjamuan pesta perkawinan, batinnya berkecamuk antara perasaan senang dan sedih. Senang karena akan mengarungi bahtera kehidupan baru bersama pasangan yang dijodohkan orang tuanya melalui ikatan perkawinan yang suci, namun disaat bersamaan, kegalauan dan kesedihan turut  menyelimutinya karena terus dihantui kenangan manis bersama sang mantan yang tak dinikahinya. Seiring berjalannya waktu tak disangka keduanya kembali dipertemukan Tuhan ditengah keduanya telah memiliki pasangan hidupnya masing-masing.

Meskipun dalam hatinya berusaha untuk tak mau melawan takdir jika kehidupannya yang saat ini adalah suratan yang harus dia jalani. Baginya, seorang isteri haruslah memiliki sikap sabar, bersyukur dan juga ikhlas untuk patuh dan taat pada suaami. Mungkin sekilas terasa berat hidup yang dijalani, tidak ada pilihan selain berusaha untuk terus mempertahankan bahtera rumah tangganya yang terancam rapuh tersebut. Seiring berjalannya waktu, hati kecilnya terus berdoa semoga selalu ada jalan terbaik yang diberikan Tuhan atas kisah kehidupan asmaranya yang tergolong berliku tersebut.

Bukan sekedar bayangan dari kenangan yang begitu melekat kuat selama menjalani kehidupan wanita tersebut melainkan keinginan memiliki anak sebagai buah cinta bersama seolah terus membayangi hidupnya meskipun hal demikian disadari melanggar norma agama dan tatanan sosial. Tak kuasa sang wanita itu kemudian membuat janji bersama mantan kekasihnya bahwa pada suatu waktu mereka akan memulai kehidupan bersama dengan penuh kebahagiaan namun jika tak diperkenankan Tuhan, setidaknya kisah cinta mereka akan tetap abadi dalam kenangan walau tak dipersatukan dalam sebuah ikatan perkawinan. Sungguh sebuah janji yang menjadi “rahasia” berdua seolah mengingatkan kita pada Rangga yang menyitir bait-bait puisi karya Aan Mansyur dalam film AADC 2: “Lihatlah tanda tanya itu/ Jurang antara kebodohan dan keinginanku/ Memilikimu sekali lagi”.

Terlepas dari kisah imanijer tersebut, masih banyak topik yang dapat kita kembangkan di daerah ini dengan menggali cerita kearifan lokal yang penuh semangat heroisme seperti kepahlawanan Sultan Babullah, legenda Syeh Djafar Sadik dan Nur Syafa (kisah Tujuh Puteri Kayangan), kisah Tolire Gam Jaha (Danau Tolire kampung tenggelam), hingga berlatar kehidupan remaja kontemporer masa kini sebagaimana Film Soerat 1 dan 2 karya Iwan Dano Film yang pernah diputar di Museum Rempah Fort Oranje Ternate beberapa waktu lalu.

Pemutaran Film Soerat 2 di Museum Rempah Fort Oranje Ternate, tahun 2016

 

Peran Stakeholder

Aspek terpenting lainnya adalah dukungan pemerintah daerah untuk ikut mendorong eksistensi dan keberlangsungan perfiliman daerah melalui keberpihakan regulasi atau sebuah program kegiatan yang dilakukan satuan dinas terkait seperti Dinas Pariwisata Kota Ternate misalnya, hal ini penting karena peran pemerintah melalui bidang ekonomi kreatif yang membidangi hal seperti ini akan lebih maksimal sebagai fasilitator guna ikut memajukan melalui program kebijakan yang lebih konkrit. Salah satunya adalah kebijakan yang memfasilitasi komunitas kreatif untuk berkarya. Oleh karenanya, keragaman perspektif dalam workshop atau diskusi yang digelar menjadi hal penting guna meramu gagasan secara kolektif dan menindaklanjutinya secara nyata.

Dengan kata lain, konsistensi cerita yang diperoleh dari hasil diskusi ini dikawal secara bersama dengan reputasi pencerita (para narasumber) yang teraktualisasikan melalui program yang berkelanjutan sehingga gelaran event ini memiliki arah dan agenda yang jelas dikemudian hari berdasarkan peran masing-masing aktor yang terlibat atau dilibatkan. Jika tidak maka gelaran event seperti ini akan rentan melahirkan “kongaisme” alias berwacana semata.

Gelaran event seperti ini tentunya sangat berarti bagi masa depan peradaban sebuah kota yang dilabeli sebagai kota kreatif tentunya. Tanpa disadari dan diketahui banyak kalangan sesungguhnya komunitas-komunitas negeri ini telah mampuh membuktikan kemampuannya dengan menjuarai berbagai event melalui ajang perlombaan film dokumenter dan film pendek di kancah nasional. Seirama dengan hal itu, gelaran Workshop menulis dan diskusi Film tentu sangat berarti bagi masa depan dan kemajuan komunitas kreatif dalam bidang literasi pada satu sisi maupun perkembangan dunia perfiliman di kota ini tentunya.

Saat Pemutaran Film Soerat 2 di Museum Rempah Fort Oranje Ternate, tahun 2016

Dalam konteks inilah gelaran event di benteng Oranje diharapkan menjadi ruang kreatif bagi komunitas kreatif bidang perfiliman sekaligus menjadi penggerak dalam penyelenggaraan festival film di Maluku Utara. Gelaran event ini juga diharapkan sebagai embrio bagi gelaran ‘Festival Film Benteng” dimasa-masa yang akan datang. Diharapkan tidak semata melibatkan para pekerja film lokal melainkan juga dari daerah-daerah lainnya di Indonesia terutama bagi daerah-daerah yang memiliki benteng peninggalan kolonial. Pada konteks ini juga, Benteng Oranje dapat menjadi tempat yang representatif untuk penyelenggaraan event yang lebih spektakuler dalam bidang perfiliman dengan konsep perkemahan misalnya.

Para peserta event yang terlibat nantinya diharapkan dapat belajar dan berbagi pengalaman tentang bagaimana merancang dan memproduksi sebuah tayangan audio visual, baik fiksi maupun non fiksi (misal film dokumenter, liputan kegiatan atau biografi) serta berbagai hal menarik lainnya secara lebih luas. Sangatlah disadari bahwa mengimplementasikan seluruh gagasan tersebut bukanlah hal mudah oleh sebab itu diperlukan peran serta berbagai pihak termasuk peran pemerintah daerah maupun pihak swasta seperti dunia perbankan dan lain sebagainya. Sungguh sebuah tantangan bagi kita semua tentunya !

Salam Kota Pusaka

Oleh: Rinto Taib (Penikmat Film)