Pelestarian Permainan “niok sorong” di Bangka Barat

Pelestarian Permainan “niok sorong” di Bangka Barat

Muntok – Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memberikan apresiasi positif kepada para pegiat permainan tradisional yang terus melestarikan olahraga “niok sorong”.

“Permainan tradisional yang memiliki nilai kearifan lokal tersebut saat ini sudah hampir punah oleh kemajuan zaman dan kalah dengan permainan individual berbagai teknologi,” kata Kepala Bagian Komunikasi Humas dan Protokol Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Henry Firsanto di Muntok, Selasa.

Menurut dia, penampilan tim “niok sorong” pada Festival Olahraga Tradisional tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2018 yang berlangsung 7-9 Mei 2018 yang digelar di Muntok patut mendapatkan apresiasi dari seluruh pihak.

Permainan “niok sorong” mirip dengan permainan hoki, namun bola yang digunakan menggunakan kelapa kering dan tongkat berbahan pelepah pohon kelapa. Permainan itu dahulu merupakan permainan yang biasa dilakukan anak-anak nelayan di pinggir pantai.

“Niok sorong” berasal dari kata “niok” yang dalam bahasa lokal berarti buah kelapa kering atau tua dan kata “sorong” yang artinya dorong. Secara harafiah “niok sorong” berarti permainan buah kelapa yang dimainkan dengan cara mendorongnya untuk dimasukkan ke dalam gawang yang terbuat dari anyaman daun kelapa.

Permainan itu salah bentuk kreativitas anak-anak nelayan yang sedang menunggu orang tua mereka dari laut mencari ikan dan udang menggunakan jala dan sungkur.

Dalam memainkan “niok sorong”, satu tim terdiri atas lima pemain. Saat memulai dilakukan “tangkueng” atau undian untuk pembagian kelompok besar menjadi kelompok kecil, sehingga pembagian kelompok atau tim menjadi adil dan sama.

Para pemain hanya boleh mendorong “niok” menggunakan pelepah kelapa masing-masing dan jika ada pemain yang memukul “niok” akan mendapatkan sanksi.

Jika ada pemain yang memecahkan bola atau “niok” maka timnya akan mendapatkan sanksi pinalti.

Kedua tim berusaha saling memasukkan “niok” ke gawang lawan dan setelah permainan selesai yang kalah mendapatkan hukuman menggendong anggota tim yang menang.

“Permainan itu memiliki banyak nilai kearifan lokal yang akan memperkenalkan karakter para pemainnya, seperti sikap disiplin, sportivitas, percaya diri, kerja sama, berani, daya juang, berakhlak mulia dan berjiwa sosial,” kata dia.

Untuk itu diharapkan para pegiat permainan tradisional terus menjaga kelestarian budaya lokal tersebut dan terus menyosialisasikan kepada khalayak agar bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Unsur kebugaran, kelincahan, daya tahan, kekuatan, kecepatan, keseimbangan dan koordinasi juga bisa diperoleh dalam permainan kelompok tersebut,” kata dia.

Antara/Image humas.bangkabaratkab.go.id