NASIB MUSEUM & JEJAK MONOPOLI DI JALUR REMPAH (Refleksi Hari Museum Internasional)

NASIB MUSEUM & JEJAK MONOPOLI  DI JALUR REMPAH (Refleksi Hari Museum Internasional)

Perayaan Hari Museum Internasional pada hari ini Jum’at (18/5) tergolomg istimewa dan unik karena berlangsung pada tanggal dan tahun yang sama angkanya. Berbagai kegiatan dihelat oleh insan museum dengan berbagai cara dan temanya masing-masing di seluruh Indonesia bahkan dunia, baik secara personal maupun komunal sebagai bentuk ekspresi kepedulian, kegembiraan penuh suka cita sekaligus keprihatinan yang mendalam atas kebangkrutan maupun kebangkitan eksistensi Museum saat ini. Demikian pula cara saya untuk mempublikasikan tulisan sederhana ini yang tak lebih dari sebuah catatan petualangan menapaki jejak jalur rempah bersama Jaringan Kota Pusaka (JKPI) pada paroh penghujung tahun lalu.

Dalam rangka napak tilas perjuangan para founding fathers bangsa ini sekaligus upaya meningkatkan hubungan kerjasama lintas sektor, lintas aktor, dan lintas pelaku maka pada bulan September 2017 lalu, JKPI menginisiasi sebuah program penting yang diberi nama “Sharing Cities” ke Belanda. Kegiatan ini berlangsung selama sepekan semenjak tanggal 7 hingga 14 September pada beberapa kota di Belanda, antara lain Den Haag, Amsterdam, Leiden, Roterdam hingga menyempatkan untuk ikut serta dalam pembukaan pameran Eropalia di Brussel Belgia. Kegiatan ini merupakan sebagai sarana promosi pariwisata dan kebudayaan serta peluang investasi ekonomi dan perdagangan dengan gelaran pameran dan budaya masing-masing daerah yang didukung oleh KBRI Den Haag, Pemuda Pelajar Indonesia (PPI) Leiden serta Diaspora.

Kota dan Kabupaten anggota JKPI yang mengikuti kegiatan ini (Kota Ternate, Kota Tidore, Kota Banjarmasin, Kota Malang, Kota Probolinggo, Kabupaten Pesawaran)  memiliki tujuannya masing-masing untuk belajar dari Belanda dalam beberapa hal terutama yang berkaitan dengan penataan kawasan kota, manajemen hareitage lanscape, sejarah, penelusuran naskah era kolonial hingga keinginan untuk memperluas jaringan kerja sama dalam bidang budaya dan investasi perdagangan.

Peserta”Sharing Cities” di Belanda.

Hal terpenting menurut saya dari kunjungan ini adalah memahami tentang bagaimana jejak monopoli rempah yang dilakukan Belanda di masa lalu menjadi berdampak bagi masyarakatnya dimasa kini, terlebih yang berkaitan dengan tematik beberapa kota yang dimiliki negara tersebut seperti Amsterdam, Roterdam, Leiden, dll. Banjarmasin misalnya dapat belajar dari Amsterdam tentang bagaimana pengelolaan kanal dalam lanscape kota sebagai sebuah percontohan untuk mengelola Banjarmasin sebagai kota Sungai. Yang diharapkan dari kunjungan ini adalah kita dapat mengembangkan daerah kita dengan bertumpu pada karakter dan keunikan sebagai kota tematik atau kota kreatif dengan belajar dari negeri kincir angin van Oranje tersebut.

Hari pertama Minggu (8/10/17) kunjungan kami setelah tiba di bandara Internasional Schiphol, saatnya menuju Volendam yang terletak di provinsi Noord-Holland. Volendam juga termasuk kawasan atau perkampungan nelayan yang kini telah berubah menjadi daerah tujuan wisata bagi berbagai negara. Deretan restoran menu khas lokal, pusat perbelanjaan souvenir serta cafe merupakan ciri khas daerah ini. Tak kalah menariknya pengunjung dapat berfoto dengan menggunakan pakaian khas tradisional Belanda dengan sepatu berbahan kayu “Klompen” yang menarik, kami menyempatkan untuk berfoto di sebuah studio yang lebih dikenal dengan nama stadio Foto J. Zwarthoed yang dirintis sejak tahun 1920. Daya tarik studio ini bagi wisatawan Indonesia seperti kami adalah pada tampak depan studio ditampilkan sejumlah foto orang terkenal Indonesia seperti sejumlah artis bahkan pejabat dan mantan presiden Indonesia KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang berkunjung dan berfoto di studio ini. Sesekali para fotografer cantik disini menggunakan bahasa Indonesia kepada wisatawan yang diketahui datang dari Indonesia sehingga hasil pemotretan yang dihasilkan lumayan bagus karena pelayanan dan interaksinya yang memuaskan hati. Metode dan cara seperti ini dapat dikembangkan di berbagai daerah terutama pada spot khusus pada ruang kota yang menjadi icon dari kota tersebut.

Stadio Foto J. Zwarthoed

Setelah menikmati makan siang di sebuah restoran di Volendam yang menyajikan ikan khas kampung nelayan setempat dan makanan khasnya seperti kentan goreng dan lainnya di sekitar kawasan ini yang nampak ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai negara, saya membayangkan bagaimana jika di kampung nelayan seperti di Dufa-dufa atau Kayu Merah  Ternate yang tak kalah memiliki panorama keindahan Pulau Halmahera atau Pulau Maitara dan Tidore jika diamati dari Ternate juga tersedia fasilitas dan sarana prasarana serta sumber daya seperti di Volendam, dengan mengubah konsep seperti restoran terapung ala Kepulauan Seribu  pasti Ternate semakin menjadi ramai dikunjungi.

Seusai makan siang, saatnya unruk beralih ke Rijksmuseum. Tempat ini merupakan museum nasional Belanda yang pertama kali dibuka pada tahun 1885 dan menyimpan koleksi seni dan sejarah yang dirangcang oleh seorang arsitek terkenal Pierre Cuypers yang juga merancang Amsterdam Centraal Station. Rijkmuseum juga tergolong sebagai salah satu dari 10 museum terbaik di dunia. Dalam museum ini kami tidak sekedar dapat melihat berbagai koleksi buku-buku tua serta koleksi fotografi klasik melainkan pula berbagai macam koleksi lukisan dari para maestro terkenal Belanda dan berbagai negara lain di dunia.

Museum ini memiliki arsitektur bergaya Belanda dengan elemen neo-gothic untuk dekorasinya yang memiliki kesamaan dengan Amsterdam Centraal Station. Sebagai Icon kota Amsterdam, kawasan ini ramai dikunjungi oleh para wisatawan dari berbagai negara. Tepat di depan Rijkmuseum selain dibangun layaknya papan nama bertuliskan I am Amsterdam yang menjadi pusat bagi wisatawan untuk berfoto, disini juga terdapat sebuah taman (alun-alun) yang terlihat ramai setiap harinya. Di tempat ini nampak berjejer para pedagang menjual berbagai barang dagangannya yang menarik, mulai dari cenderamata, pakaian khas museum dingin, makanan dan minuman lokal serta barang-barang antik berupa guci, piringan, alat musik hingga buku-buku yang berusia puluhan tahun. Sungguh kita dapat mengadaptasikan situasi tersebut untuk kota Ternate melalui penfaatan ruang pusaka Fort Oranje bagi gelaran expo pameran atau sebagai pasar barang antik pada waktu-waktu tertentu, minimal setahun sekali misalnya. Komunitas kreatif atau pihak pemerintah kota Ternate dituntut bisa melakukan atau dapat menginisiasi hal seperti ini.

Pada waktu-waktu tertentu, taman atau alun-alun ini bukan sekedar menjadi tempat orang bersantai saja melainkan menjadi tempat bagi orang sebagai tempat penyelenggaraan berbagai event festival dan perayaan sejenisnya bahkan untuk berdemonstrasi. Mungkin karena inilah  saya diteriaki “hay komunis” oleh para turis di lokasi ini kala melihat saya menggunakan topi ala Tiongkok (Mao) dan Rusia (Lenin) bergambar bintang merah pada bagian tengahnya. Mendengar teriakan tersebut saya jadi teringat berbagai peristiwa di tanah air Indonesia kala aksi sweeping dan tindak kekerasan yang mewabah kala itu bagi mereka yang menggunakan simbol-simbol komunis. Maklum hantu komunisme seolah menjadi phobia hingga saat ini.

Pada hari kedua, Senin (9/9/17), bertempat di Centrum Den Burg Rijswijk The Haque, saatnya dipertemukan dengan Duta Besar Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja beserta pihak Diaspora Indonesia Pada kesempatan ini, semuanya berharap untuk saling membantu memberikan informasi dan memperkuat jaringan kerjasama untuk menyongsong Indonesia yang lebih maju kebudayaannya. Masing-masing diberi kesempatan untuk memamerkan dan mempresentasikan berbagai potensi pariwisata, ekonomi kreatif dan kebudayaan, membicarakan peluang bisnis dan perdagangan serta peluang kerjasama antara lembaga dengan berbagai program yang telah disiapkan oleh pemerintah Belanda maupun Diaspora.

Presentasi penulis dihadapan Duta Besar Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja beserta pihak Diaspora Indonesia

Pada hari ketiga Selasa (10/10/17) Disela-sela penyelenggaraan Eropalia Art Festival Indonesia, momen penting karena mendapat kehormatan diundang dalam event internasional tersebut yang juga dihadiri oleh Mantan Pressiden RI Megawati Soekarno Putri, Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta beberapa Menteri kabinet kerja Jokowi. Pada kesempatan ini pula, kami mendapatkan banyak informasi, pengetahuan serta pengalaman dan jejaring baik yang berasal dari Indonesia maupun negara-negara asing lainnya.

Disela-sela penyelenggaraan Eropalia Art Festival Indonesia bersama Dirjen Kebudayaan RI di Belgia.

Pada hari keempat Rabu (11/10/17), setelah sarapan pagi dari hotel kami menuju ke Museum Maritim, The Cuba House, Old Harbour. Kunjungan kami selanjutnya adalah ke Museum Volkenkunde di Leiden Belanda pada hari kelima di Belanda Kamis (12/11). Leiden adalah sebuah kota kecil namun memiliki sejarah panjang bagi negeri Belanda, Universitas Leiden merupakan sebuah universitas tertua di Belanda. Dapat dikatakan bahwa Leiden merupakan kota pelajarnya negeri Belanda. Di tempat ini merupakan salah satu tempat kunjungan yang menarik, kami dapat berdiskusi bersama para ilmuan, seorang guru besar asal Sumatera Barat Indonesia yang menjadi tenaga edukasi di Leiden Universiti Prof. Suryadi beserta seorang profesional bidang Permuseuman keturunan Ambon Wem Manuhutu yang telah lama bergelut di Museum Volkenkunde ini dan sekaligus bersedia memberikan informasi dan berbagi pengetahuan serta pengalaman soal manajemen dan pengelolaan Museum di Belanda. Sungguh, jaringan kemitraan berlatar hubungan emosional dan kekerabatan terkadang cenderung lebih efektif sehingga peluang ini dapat kita manfaatkan untuk berbagai bentuk kerja sama dibidang sejarah maupun permuseuman di kota-kota pusaka Indonesia tentunya.

Di Museum Volkenkunde, Leiden.

Pada hari Keenam (13/9/17), sehari menjelang kepulangan kami ke Indonesia, kunjungan kami yang tak kalah menaariknya adalah ke sebuah bangunan bersejarah di Amsterdam yang dikenal dengan s’Lands Zeemagazijn. Dalam sejarahnya, selama berpuluh tahun bangunan ini digunakan sebagai kantor angkatan lautnya Belanda. Gedung besar yang diberi cat berwarna putih tersebut tak terasa telah berusia mendekati 400 tahun atau lebih dari 3 abad sejak pertama kali dibangun pada 1656 oleh Daniël Stalpaert dengan membutuhkan sekitar 1800 tiang kayu yang dibenamkan sebagai penopang bangunan. Kini gedung tersebut sepenuhnya digunakan sebagai Museum Maritim (Scheepvaart Museum).

Objek paling menarik perhatian tidak hanya bagi kami atau bagi siapa saja yang berlalu lalang disekitar kawasan ini akan terpanah dengan sebuah kapal East Indiaman the Amsterdam milik VOC yang terparkir di dermaga Teluk IJ berbendera merah putih biru, di dekat Maritim Museum Amsterdam. Kapal tersebut merupakan replika dari kapal kargo VOC yang berlayar dari Texel menuju Batavia pada 8 Januari 1749 namun karam di Selat Inggris pada 26 Januari 1749 akibat dihantam badai besar. Replika kapal ini mengingatkan saya saat berkunjung ke Museum Maritim di Melaka Malaysia, bedanya yang di Melaka tersebut merupakan replika kapal milik Portugis sedangakan di Amsterdam tersebut adalah kapal kargo VOC.

Museum Maritim di Melaka Malaysia

Maritime Museum dan replika kapal kayu Portugis yang berdiri megah dengan tiang menjulang tinggi di jantung kota turut memberi warna tersendiri dan menjadikannya sebagai salah satu landmark Malaka yang pernah dijajah tiga bangsa dimasa lalu (Portugis, Belanda dan Inggris). Belajar dari Amsterdan dan Malaka maka kota-kota pusaka di Indonesia, bukan saja Ternate ataupun Tidore yang dimasa lalunya pernah menjadi bandar jalur rempah dunia dapat menjadikan pengalaman ini untuk merekonstruksi dan merevitalisasi ruang kotanya (bandar/pelabuhan) dengan keberadaan replika perahu/kapal daerahnya masing-masing atau bangsa-bangsa asing yang dulunya pernah bersentuhan dengan sejarah masa lalu daerahnya tersebut. Seperti misalnya perahu Kora-kora atau kapal VOC maupun Portugis yang mengingatkan kita tentang kejayaan negeri ini di masa lalu sekaligus menjadi bukti sejarah dari jejak monopoli di jalur rempah.

Beberapa poin penting yang menjadi rekomendasi kami bagi pemerintah daerah di Indonesia yang memiliki sejarah panjang tentang status dan peranan sebagai bandar atau daerah lintasan dari jalur rempah dimasa lalu adalah:

Penandatanganan MoU antara Direktur JKPI bersama Ketua Diaspora disaksikan Dubes Indonesia untuk Belanda.

Pertama. Meningkatkan hubungan kerjasama dengan berbagai pihak terkait sebagai upaya menindaklanjuti program Sharing Cities guna penelusuran dokumen dan naskah sejarah yang erat kaitannya antara sesama kota pusaka Indonesia maupun antara kota pusaka Indonesia dengan kota-kota bangsa asing yang tersebar dibeberapa negara Eropa (Portugal, Spanyol, Belanda, Inggris, dll)

Kedua, Melakukan kajian sejarah dan Perkotaan berupa Seminar atau Simposium Internasional dengan menghadirkan narasumber dari otoritas terkait seperti JKPI, Kedutaan Besar Belanda, Diaspora Indonesia atau Akademisi dari Leiden University untuk membantu menyiapkan data dan dokumen serta naskah yang berkaitan dengan sejarah kota-kota Pusaka di Indonesia sekaligus sebagai jejaring internasional bagi program revitalisasi budaya (museum), program kota pusaka dan kepariwisataan serta kebudayaan secara lebih luas.

Ketiga, Melakukan rasionalisasi dan restrukturisasi kelembagaan perangkat daerah sesuai kebutuhan dan tantangan zaman serta berdasarkan peluang dan potensi masing-masing daerah pusaka di Indonesia. Untuk kasus kota Ternate misalnya adalah dengan memisahkan Bidang Kebudayaan dari Dinas Pendidikan agar berdiri sendiri secara otonom menjadi Dinas Kebudayaan.

Ketidakmampuan dalam mengelola urusan kebudayaan termanifestasi dari pengelolaan atas urusan Museum Rempah yang terletak dalam benteng Oranje. Sebuah benteng yang meninggalkan jejak manis sekaligus pahit bagi bangsa Portugis dan Belanda. Museum Rempah dulunya merupakan pusat VOC sebelum berpindah ke Batavia. Bagaimanakah nasibnya kini?, disematkan dengan nama Museum Rempah Kota Ternate sejak tahun 2015 lalu, pengelolaan Museum ini hanya sebatas nama karena selain tidak memiliki manajemen pengelola, tidak memiliki koleksi yang tercatat dengan baik, bahkan tidak memiliki alokasi anggaran khusus selain biaya listrik dan air serta juru pelihara.

Ketika menjabat pada periode 2015-2017 sebagai Kepala UPTD Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ternate, saya harus memobilisasi semua barang pribadi yang bernilai sejarah untuk dijadikan sebagai koleksi karena ketiadaan alokasi anggaran yang diperuntukan bagi Museum ini. Dengan dalih bahwa salah satu fungsi Museum adalah memberi informasi kepada pengunjung, saya tak mau ketinggalan kreatif untuk memamerkan berbagai barang pribadi sekedar menghibur sekaligus mengedukasi dengan target menjadikan museum sebagai sumber pembelajaran bagi anak sekolah. Bahkan koleksi pribadi tersebut sebagai alasan pembenaran ketika dikritik oleh pengunjung bahwasannya kenapa Museum tidak punya koleksi?. Langkah kreatif inipun berhasil, ditengah keterbatasannya termasuk koleksi namun banyak pengunjung yang puas bahkan sebagiannya merasa senang karena bisa berfoto dengan sebuah sepeda ontel pribadi yang ramai dijadikan sebagai objek foto oleh pengunjung. Selain anak sekolah, berbagai komunitas di kota Ternate menjadikan Museum ini sebagai pusat berbagai aktivitas, dari pemutaran dan diskusi film, workshop heritage, hingga diskusi hasil penelitian perguruan tinggi.

Semua itu kini tinggal kenangan, Museum Rempah saat ini sepi bahkan hanya dibuka jika ada pengunjung yang melapor ke pengelola UPTD setempat. Dari hasil pengamatan, sehari-harinya Museum ini tertutup meski pada jam kerja sekalipun karena ketiadaan koleksi serta ketikjelasan manajemen pengelolaannya. Bagaikan “Hidup segan matipun sungkan”, demikian nasib Museum Rempah kota Ternate saat ini. Keprihatinan ini wajib menjadi kepeduliaan yang butuh perhatian bersama karena kebesaran dan kejayaannya dimasa lalu maupun visi kota Ternate sebagai Kota Budaya dimasa kini belumlah optimal untuk dikelola, potensi kebudayaannya yang berlimpah namun seolah impoten dalam pengelolaannya karena hambatan struktural yang berkaitan dengan aspek kelembagaan, kapasitas dan kompetensi tenaga tekhnis yang tidak memadai, SDM serta regulasi kebijakan melalui program pembangunan daerah yang kurang memihak bahkan cenderung tidak berorientasi permuseuman. Solusinya adalah harus dikelola secara maksimal melalui penguatan kelembagaan serta distribusi jabatan yang sesuai dengan bidang dan pengalaman. Jika tidak maka yang terjadi adalah sebagaimana yang kita saksikan saat ini. Terbukti, adanya pembangunan tower dalam zona inti (bagian dalam) benteng Oranje akibat keterbatasan SDM dan ketidakpahaman aparatur pengelola tentang urusan Cagar Budaya yang telah memberikan izin atas pembangunan tower tersebut semakin menambah rapor merah Museum Rempah Kota Ternate itu sendiri.

Hal seperti ini tak boleh terjadi apalagi dalam upaya mewujudkan Kota Ternate sebagai kota budaya yang berbasis pelestarian kearifan lokal dan identitas lokal sebagai kekuatan dan keunggulannya. Diatas kertas, kebudayaan adalah pilar utama dan menjadi program prioritas namun faktanya masih jauh dari harapan bersama.

Selamat hari Museum Internasional !!!

Oleh : Rinto Taib