Aroma Sejarah Dan Budaya Di Balik Jejak Kuliner Banda Aceh

Aroma Sejarah Dan Budaya Di Balik Jejak Kuliner Banda Aceh

Banda Aceh – Rekam jejak hidangan tak pernah terlepas dari percikan sejarah yang terkandung di balik hidangannya. Demikian pula dengan Aceh, provinsi yang terletak di ujung Utara kepulauan Indonesia, memiliki kekayaan kuliner yang tak terhingga. Pesona inilah yang mengantarkan Aceh menjadi salah satu  wilayah yang memiliki nilai budaya tak terkalahkan dengan kawasan lain di Nusantara.

Keindahan rasa yang ditawarkan makanan tradisional Aceh dapat tercermin dari sajian Keumamah. Makanan ini merupakan salah satu kuliner primadona di Aceh. Keumamah dibuat dengan proses masak yang tidak sebentar. Ikan terlebih dahulu direbus lalu diiris kecil dan dijemur hingga mengering. Masyarakat setempat sering menyebut makanan tersebut dengan ikan kayu lantaran teksturnya yang menjadi keras usai dijemur.

Di balik rasa dan ciri khasnya, Keumamah ternyata menyimpan sejarah perjuangan bagi masyarakat Aceh. Dalam masa gerilya melawan penjajah, para pejuang Aceh acap kali mengandalkan Keumamah sebagai kebutuhan pangan. Keumamah dianggap praktis untuk pasukan yang mengharuskan mereka berpindah-pindah di hutan dalam waktu yang cukup lama.

Kuah Beulangong, Simbol Persatuan

Selain Keumamah, kuliner Aceh yang tak kalah terkenal lainnya ialah kuah beulangong. Nama beulangong sendiri berasal dari bahasa Aceh yang artinya wajan atau kuali berukuran besar. Benar saja, hidangan yang berbahan baku utama daging sapi atau kambing ini umumnya dimasak dengan kuali besar terbuat dari tanah liat. Satu kuali mampu menampung 10 hingga 15 kilogram daging.

Bumbu yang digunakan juga cukup variatif seperti kelapa gongseng, cabai, bawang merah, bawang putih, ketumbar, lengkuas, batang sereh, kunyit dan daun temuru (salam koja) yang digunakan agar aroma khasnya kelua. Proses pembuatan kuah beulangong diawali dengan menghaluskan bumbu-bumbu yang telah disebutkan tadi kemudian dicampur dengan daging yang sudah dicuci bersih. Selanjutnya, beri air secukupnya dan aduk hingga matang. Buih-buih berwarna merah kecoklatan disertai dengan aroma rempah yang khas menjadi petanda kuah beulangong siap disantap.

Memasak kuah beulangong tidak sekedar ajang untuk memenuhi keinginan perut belaka. Bagi masyarakat Aceh kehadiran kuah beulangong menjadi ajang silaturahmi. Sebab, memasak kuah beulangong biasanya dilakukan secara bersama-sama, khususnya kaum laki-laki.

Secara adat istiadat, kuah beulangong biasanya disajikan pada saat acara kenduri (selamatan) seperti Maulid Nabi Muhammad Saw, Idul Adha, Tahun Baru Islam  dan hari besar lainnya.  Kehadiran kuah beulangong bagi masyarakat Aceh sudah menjadi warisan nenek moyang yang akan terus dilestarikan sampai ke generasi berikutnya.

Kebudayaan Kemdikbud