Hari Warisan Dunia

Hari Warisan Dunia

18 April merupakan hari yang telah disepakati melalui Konfrensi Umum UNESCO (UN for Educational, Scentific and Cultural Oraganization) ke 22 pada tahun 1983 menjadi Hari Warisan Dunia (World Heritage Day). Dan Indonesia merupakan negara yang ikut meratifikasi bersama 166 negara anggota lainnya. Sebagai negara yang aktif dan juga saat ini duduk sebagai anggota Badan Eksekutif UNESCO periode 2017-2021 Indonesia otomatis ikut aktif dan berperan didalam kelembagaan dunia tersebut.

Saat ini, pengakuan/penetapan UNESCO pada situs-situs warisan yang di miliki Indonesia saat ini ada 8 situs yang terdiri dari kreteria budaya, yaitu Candi Borobudur yang di tetapkan pada tahun 1991, Candi Prambanan juga ditetapkan pada tahun 1991, Situs Manusia PraSejarah Sangiran yang ditetapkan tahun 1996. Sedangkan kombinasi antara budaya dan alam adalah Subak dengan Philosofi Tri Hita Karana ditetapkan 2012. Untuk katagori alam ada Taman Nasional Komodo pada tahun 1991, Taman Nasional Ujung Kulon pada tahun 1991, Taman Nasional Lorentz ditetapkan tahun 1999 dan terahir HutanTropik/Hujan Sumatera yang ditetapkan 2004.

Dengan diperingatinya Hari Warisan Dunia ini, mengingatkan kita akan pentingnya menjaga, melestarikan dan bahkan menjadikan Situs Warisan Dunia Indonesia sebagai primadona atau ikon utama Indonesia di dunia Internasional. Walaupun kelembagaan atau kementerian yang membidangi berbeda diantara  ke-8 situs warisan dunia ini, tetapi sebagai simbol dunia yang sudah ditetapkan sebagai warisan dunia harus dijaga dan di preoritaskan bersama.

Kita paham, untuk mendapatkan penetapan sebagai Warisan Dunia yang ditetapkan UNESCO memerlukan waktu, usaha dan dana yang tidak sedikit.Banyak indikator-indikator  yang harus dipenuhi, salah satunya yang harus mempunyai “Keunggulan Sejagat”. Negara-negara anggota UNESCO berebut ingin usulan situs alam atau budaya mereka ditetapkan, lobby-lobby diplomasi dan berbagai upaya mereka lakukan untuk mendapat penetapan yang prosesnya berjenjang dan melibatkan beragam pihak yang punya kompetensi dan diserahi mandate oleh Komite yang mengurus penetapan ini.

Kota Pusaka Indonesia dan Peluang untuk penetapan Warisan Dunia

Keinginan Kota-kota di Indonesia ingin mendapatkan pengakuan warisan dunia semakin tinggi. Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan pengakuan tersebut. Bahkan banyak oknum-oknum yang menawarkan bisa mengurus mendapatkan pengakuan tersebut. Padahal, untuk mendapatkan pengakuan tersebut harus mewakili negara dan tentunya dalam hal ini negara berperan. Ada tahap yang berjenjang, dimulai dari usulan masyarakat/komunitas kepemerintah daerah dan selanjutnya sampai di pengusul terakhir oleh Kemenetrian Pendidikan dan Kebudayaan dan di ketahui oleh Menko PMK.

Saat ini Kota Tua Jakarta dan Kota Bekas Tambang Sawahlunto menjadi usulan untuk Warisan Dunia. Usulan pengajuannya sudah sampai di kantor UNESCO di Paris dan saat ini sudah dikaji. Bila mana Proposal diantara Kota Tua Jakarta dan Kota Bekas Tambang Sawahlunto dinyatakan diterima, maka proses berikutnya Dewan Penasehat yang terdiridari ICOMOS, ICCROM & IUCN akan mempelajari dokumen dan nominasi dan menugaskan para ahli kelokasi untuk mempersiapkan proses evaluasi. Hasil evaluasi ini yang akan menjadi materi dari Dewan Penasehat mengeluarkan rekomendasi untuk diteruskan kepadaWorld Heritage Centre. Keputusan ditetapkannya nantinya akan disampaikan pada saat Sidang Tahunan Komite Warisan Dunia Unesco.

Tentu harapannya salah satu dari usulan akan kawasan Kota Tua dan Kawasan Kota Bekas Tambang Sawahlunto ada yang ditetapkan menjadi situs warisan dunia. Banyak dampak positif yang didapat bila salah satu dari pengajuan Indonesia yang didapat. Situs atau kawasan yang ditetapkan akan terpampang selalu di situs resmi UNESCO dan secara promosi masyarakat dunia akan tahu bahwa situs atau kawasan disalah satu kota kita mendapat pengakuan dunia.

Kita bisa berkaca bagaimana terjadi pendapatan dan kunjungan turis kekota tua Malaka maupun George Town di Malaysia. Terjadi lonjakan yang signifikan, dan tentunya akan menjadi kebanggaan Negara tersebut karena masyarakat dunia mengetahui adanya situs warisan dunia disana. Festival-festival berkelas dunia menjadi sesuatu yang biasa dilaksanakan disana, karena nama kawasan akan menjadi daya tarik pengunjung untuk datang.

Kita juga bisa belajar kepada negara Korea, Cina, Jepang, Thailand, India dan negara-negara lainnya yang begitu sadar akan potensi setelah ditetapkannya kawasan atau kota pusakanya menjadi warisan dunia. Benteng-benteng, kastil-kastil peninggalan kerajaan di lestarikan dan dipoles dengan tentunya melaksanakan kaedah-kaedah konservasi dan dijaga sebagai asset yang berharga. Dengan demikian, kawasan tersebut menjadi sumber pendapatan besar bagi negara tersebut.

Belajar dari kesuksesan kota pusaka dari negara-negara yang disebutkan diatas, kita tersentak dan tersadar bahwa kita punya asset kota-kota pusaka yang punya nilai keunggulan sejagat yang tidak dimiliki Negara lain . Kota-kota pusaka dengan latar belakang yang mampunyai karakter-karakter berbeda, baik kota-kota yang merupakan tinggalan colonial maupun kota-kota yang merupakan dulunya ibu kota kerajaan. Selain itu, elemen pengisi kota-kota pusaka tersebut kaya akan warisan budaya tak bendanya.

Sekarang mari kita tunggu keputusan dari Sidang Komite UNESCO, apakah Kota Tua Jakarta atau Kota Bekas Tambang Sawahlunto dapat menjadi Warisan Dunia? Dan bagaimana dengan Kota Pusaka lainnya yang punya komitment untuk menjadikanpotensi kekayaan Kota Pusaka sebagai modal dasar untuk menjadi daya tarik, apakah juga tertarik mengajukan diri sebagai warisan dunia?

Sekali lagi mari kita lestarikan warisan yang ada disekitar kita, karena warisan budaya atau alam adalah milik kitabersama. Selamat HariWarisanDunia!

 

Tulisan;  Asfarinal St. RumahGadang