DEKLARASI LITERASI (Antara Festivalisme & Optimisme Menuju Otsus di Negeri Rempah)

DEKLARASI LITERASI (Antara Festivalisme & Optimisme Menuju Otsus di Negeri Rempah)

Festivalisme
Hingga penutupan Festival Legu Gam 2018 yang dilaksanakan di benteng Oranje pada Senin (19/3) hingga Senin (9/4) maupun yang digelar di seputaran Dodoku Ali pada Sabtu (25/3) hingga Sabtu (15/4) lalu, pertanyaan soal dualisme Legu Gam masih saja bergulir. Hal ini dapat dimaklumi karena beberapa hal:

Pertama, sang penanya memang tidak mengetahui sebab muasabab terjadinya dualisme serta rangkaian kronologis yang melatarinya. Kedua, sang penanya merasa konyol dengan realitas Legu Gam sebagai event pariwisata yang tak sama bedanya aliran kepercayaan atau institusi partai politik. Pada poin terakhir ini saya mengajak kita semua untuk mengingat dualisme PDI pimpinan Soeryadi versus PDIP pimpinan Megawati pada kurun waktu 1990-an silam. Ketiga, sang penanya mencoba meggiring opini publik untuk secara sengaja melakukan evaluasi kinerja dan implementasi atas visi dan misi melalui program yang telah diprogramkan.

Pertanyaan adalah, apakah yang menjadi akar persoalan dari setiap dualiisme tersebut? apakah fenomena dualisme yang kian menjamur di sebagian kesultanan merupakan sebuah keniscayaan sejarah pada segala bentuk komunalisme? ataukah sebuah fitrah emosional manusia untuk senang dengan “dualisme” dan menjadi bagian dari kebutuhan emosional yang mendorong orang untuk mencari kehangatan dalam pengalaman personal. Jawaban pastinya adalah tergantung pada situasi dan dinamika yang turut melatarinya.

Mencermati reaalitas program kegiatan serta peristiwa-peristiwa penting yang turut menyertai dan mewarnai momentum Legu Gam 2018 kini maka dapat dikatakan bahwa dualisme Legu Gam bukanlah menjadi hambatan utama untuk menyelenggarakan event ini menjadi lebih baik. Karena faktanya adalah event ini terbukti berjalan lancar meskipun masih jauh dari yang diharapkan. Hambatan utama adalah matinya kreatifitas untuk memanfaatkan potensi dan kekuatan yang kita miliki di tengah segala keterbatasan. Jika keterbatasan ini dianggap sebagai kelemahan maka pada bagian manapun dimuka bumi ini orang tidak akan melakukan sesuatu karena takut akan keterbatasan potensi dirinya. Jika kita belajar dari sejarah perjuangan kemerdekaan maka, Bung Karno sang proklamator tidak akan pernah berani memproklamirkan Indonesia karena memiliki keterbatasan dan banyak perbedaan yang akan berpotensi lebih menyusahkan.

Dari sudut pandang berbeda saya berani katakan bahwa “dualisme” bukanlah hambatan utama dalam penyelenggaran event budaya seperti Legu Gam, yang menjadi faktor penentu adalah kreatifitas pemikiran untuk melahirkan ide yang mewarnai dan meningkatkan kualitas event ini. Berbeda itu indah, oleh karenanya, Jalaluddin Rumi sudah mengingatkan kepada kita berkaitan dengan realitas seperti ini. Berikut dikatakan Rumi:

Allah membalikkan kau
Dari satu perasaan ke perasaan yang lain
Dan mengajarkan melalui yang berlawanan
Supaya kamu memiliki dua sayap untuk terbang
Bukan satu

Dengan kata lain, “dualisme” kepanitiaan penyelenggaraan festival Legu Gam 2018 sekilas menunjukkan adanya perpecahan atau sesuatu realitas yang berlawanan dalam internal kesultanan Ternate. Ya, adanya beberapa faksi sepeninggalnya YM. Sultan Mudaffar Sjah turut berpengaruh pada penyelenggaraan event budaya setempat termasuk Legu Gam 2018. Dalam konteks ini maka realitas tersebut haruslah dilihat bukan sebagai hambatan melainkan peluang untuk mengembangkan pemikiran dan kerja kreatif dalam dua unsur kepanitiaan yang berbeda. Jika kita belajar bijak dari fenomena seperti ini maka dapat kita pastikan bahwa setiap perbedaan dapat diartikan sebagai bagian utuh kehidupan. Realitas tersebut bukan sekedar menuntut kita untuk menjadi maklum melainkan kita dituntut pula untuk mampuh mengubah menjadi kekuataan kreatif dalam kegiatan yang penuh warna misalnya.

Legu Gam pada konteks ini menjadi ajang pengembangan potensi kreatifitas dalam berkebudayaan. Kebudayaan tak lagi seperti panduan dimana orang harus bergerak sekaligus secara bersamaan, dalam ruang dan waktu yang sama pula. Bukan pula bagaikan papan selaancar yang akan mengikuti arus kemana akan dibawa. Pihak penyelenggara dituntut untuk menciptakan program kreatif yang harus berbeda antara masing-masing penyelenggara. Masing-masing penyelenggara yang secara konteks waktu dan konten acara adalah sama haruslah dihindari sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan khalayak ramai. Beberapa contoh kegiatan ritual yang tidak perlu harus sama pada kedua pihak penyelenggara yaitu antara lain: Ritual Kololi Kie Mote Ngolo dan Fere Kie. Ini berarti bahwa kegiatan tersebut cukup dilakukan oleh salah satu pihak dengan kualitas acara yang bermutu tentunya.

Deklarasi Literasi
Terlepas dari Legu Gam sebagai event pariwisata, tradisi merayakan hari lahir seorang Sultan, sarana mengembangkan usaha ekonomi, ruang ekspresi seni budaya dan komunitas kreatif serta beragam alasan argumentasi rasional lainnya, Legu Gam adalah sebuah ajang pewarisan tradisi literasi dan pengembangan inteklektualitas masyarakat Moloku Kie Raha dengan segala potensi sejarah, alam, budaya dan dinamika politik kekuasaan yang terjadi secara periodik dalam kurun waktu tertentu. Dalam praktik menumbuhkembangkan tradisi literasi, Legu Gam 2018 telah terjadi beberapa momentum penting yang berkaitan dengan hal ihwal pustaka keilmuan dan pengetahuan.

Pertama, ditandai dengan penyerahan buku Legu Gam dalam tiga bahasa (Indonesia, Inggris dan Perancis) karya saya yang diserahkan oleh Sultan Ternate H. Syarifuddin Syah kepada Menteri Pariwisata RI saat Launching Calendar of Event Maluku Utara di kementerian Pariwisata pada Selasa (13/3) lalu.

Kedua, Launching buku saya berjudul “Legu Gam, The Spice Islands Festival” disertai penyerahan secara simbolis sebagai cenderamata dari panitia pelaksana Legu Gam kepada Plt. Gubernur Provinsi Maluku Utara pada Senin (19/3) saat gelaran Opening Ceremony Legu Gam di taman Fort Oranje Ternate.

Ketiga, penyerahan cenderamata oleh Ketua Umum Panitia Legu Gam 2018 H. Abdullah Tahir, kepada Mr. Paul Spencer Sochaczewski, seorang penulis buku “Inordinate Fondness for Beetles” serta buku “Corious Encounters of the Human Kind” yang juga kini sedang aktif melakukan riset tentang “Ali Wallace” di Ternate dan beberapa daerahIndonesia yang pernah Ali singgahi.

Keempat, ditandai dengan penyerahan buku karya saya oleh YM. Sultan Ternate kepada Prof. Antonio Vasconcelos daSaldanha dari Departement of History, Faculty of Social Science University of Macau pada Rabu (11/4) di sela-sela Kuliah Tamu di Universitas Khairun Ternate.

Kelima, penyerahan dokumen sejarah di keraton Sultan Ternate oleh Prof. Antonio Vasconcelos da Saldanha dari Departement of History, Faculty of Social Science University of Macau kepada pengelola Museum Memorial Keraton Sultan Ternate yang diwakili oleh Firman M. Sjah yang juga selaku ketua panitia Festival Legu Gam. Buku tersebut berisikan dokumen sejarah tentang surat-surat dan naskah penting era Sultan Khairun dan Sultan Babullah di masa Portugis.

Keenam, seminar dan bedah buku tentang Kebangkitan Adat se Atorang dan Otonomi Khusus Maluku Utara yang dilaksanakan pada Rabu (11/4) di Museeum Sultan Iskandar Muhammad Djabir Syah.

Beranjak meninggalkan Festival Legu Gam Ternate, tak kalah menariknya pula penyelenggaraan Festival Tidore yang dilaksanakan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kota Tidore ke 910. Selain rangkaian kegiatan bernuansa ritus dan religi, beberapa fenomena menarik lainnya nampak begitu mengasyikkan dan memberi warna tersendiri bagi pengembangan intelektual dan upaya menumbuhkembangkan tradisi literasi dalam pergelaran akbar tersebut. Cita rasa dunia literasi dalam penyelenggaraan event ini semakin menjadi lebih menarik dengan diluncurkannya sebuah buku ontologi berjudul “To Ado Re, A Momorable Adventure to The Land of Exotic Beauty” yang berisi cerita pengalaman dan kesan-kesan para bloger ketika mengunjungi Tidore pada perayaan Festival Tidore setahun yang lalu.

Selain itu juga, penyerahan buku berjudul “Pemberontakan Nuku, Persekutuan Lintas Budaya di Maluku-Papua Sekitar 1780-1810” karya Muridan Widjojo oleh Sultan Tidore Husain Syah kepada Risal Ramli pada Kamis (12/4) dalam kemeriahan puncak perayaan Festival Tidore di Kadato Kie Kesultanan Tidore. Buku yang semula disertasi sang penulis di Leiden University tersebut mengisahkan perlawanan Nuku yang kini merupakan satu-satunya Pahlawan Nasional dari Maluku Utara. Buku lainnya yang juga diserahkan kepada Bpk. Risal Ramli adalah sebuah buku karya King Faisal Sulaiman tentang Otonomi Khusus bagi Maluku Utara. Sisi lain dari ajang festival di negeri rempah saat imi adalah menjadi panggung deklarasi literasi termasuk dalam memperbincangkan hal ikhwal Otsus bagi Moloku Kie Raha.

Hal ini berawal ketika pidato singkat Sultan Tidore yang penuh semangat mengobarkan api sejarah negeri Moloku Kie Raha bagi eksistensi NKRI dimasa lalu. Sebuah romantisme sejarah masa lalu yang menyimpan sejuta agenda aksi untuk merebut kembali kejayaan dan kedaulatan negerinya dimasa yang akan datang. Antara Festival Tidore maupun Festival Legu Gam, masing-masing menyisahkan persoalan sejarah masa lalu yang sangat berdampak global bagi kemajuan peradaban ilmu pengetahuan dunia. Pertama, menyoal tentang “Ali Wallace” dan berikutnya adalah tentang Ternate-Tidore sebagai titik temu peradaban Timur-Barat yang ditandai dengan kehadiran Portugis dan Spanyol di kedua kerajaan tersebut. Dan yang pasti, Otsus bagi Moloku Kie Raha bakal menjadi cerita panjang yang menarik untuk diperjuangkan. Bagaimanakah keseruan Festival Teluk Jailolo yang akan digelar pada akhir April hingga awal Mei mendatang?, kita lihat saja nanti !

Oleh: Rinto Taib