Budaya Literasi di Festival Negeri Rempah

Budaya Literasi di Festival Negeri Rempah

Ternate-Festival Legu Gam Ternate telah digelar pada Senin (19/3) kemarin di Fort Oranje Ternate. Dalam rangkaian opening ceremonynya, Plt. Gubernur Bpk. M. Natsir Thaib secara resmi membuka perhelatan event bergengsi di Maluku Utara yang didampingi oleh Sultan Ternate (H. Syarifuddin Syah) bersama Plt. Walikota Ternate (H. Abdullah Tahir, SH).

Tanpa terasa Festival Legu Gam (pesta rakyat) telah banyak mengukir prestasi dan kesan berarti melalui berbagai suguhan menarik yang menghibur tetapi juga memberi warna edukasi yang bermanfaat bagi warga Kota Ternate dan masyarakat luas dengan mengusung tema: “FROM TERNATE TO CHANGE THE WORLD” pada penyelenggaraannya tahun 2018 kini.

Legu Gam sebagai salah satu strategi pengembangan kepariwisataan daerah Kota Ternate meskipun diselenggarakan pada setiap tahunnya namun pada tahun ini terasa berbeda karena penyelenggaraannya dilaksanakan di Benteng Oranje, sebuah benteng yang dibangun Portugis dengan nama benteng Malayo pada tahun 1304 dan kemudian diubah namanya menjadi Fort Oranje yang ditempati oleh Belanda pada tahun 1602.

Sultan Ternate, H. Syarifuddin Syah dalam sambutannya menjelaskan bahwa Fort Oranje yang menjadi lokasi Festival Legu Gam 2018 saat ini bukanlah sesuatu yang baru dalam catatan kesultanan Ternate, dalam catatan sejarah selain dijadikan sebagai markas pusat organisasi dagang VOC Belanda serta gudag rempah juga merupakan tempat dari pelantikan para Sultan Ternate diantaranya: Sultan Ayanhar, Sultan Ilham, Sultan Usman serta Sultan Iskandar Muhammad Djabir Syah.

Kini, Festival Legu Gam merupakan salah satu event tahunan Kesultanan Ternate yang dimulai sejak tahun 2002 lalu. Dalam penyelenggaraannya, terdapat puluhan item acara yang disuguhkan oleh pihak panitia pelaksana, mulai dari kegiatan pementasan seni dan budaya, festival kuliner, berbagai jenis perlombaan hingga hiburan musik pada malam penutupannya dengan menghadirkan musisi-musisi nasional dalam konser artis dimalam penutupan tersebut. Konsep pesta rakyat yang bernuansa edukatif menjadi hal terpenting selain upaya mempromosikan pariwisata dan budaya daerah, salah satunya adalah melalui kegiatan Launching dan bedah buku.

Sesungguhnya negeri ini memiliki khasanah budaya serta potensi pariwisata yang berlimpah ruah dan sangat menarik untuk dikembangkan melalui promosi pariwisata. Berbagai cara dilakukan pemerintah daerah baik kota Ternate maupun provinsi Maluku Utara untuk mempromosikan pariwisata dan budaya lokalnya. Sebagaimana halnya melalui Launching buku yang dilaksanakan secara berturut-turut pada setiap tahunnya sejak 2008 silam.

Pada penyelenggaraan tahun ini, sebuah buku turut di launching yaitu buku yang berjudul Legu Gam. The Spice Islands Festival. Buku tersebut sebelumnya juga merupakan cendera mata yang diserahkan oleh Sultan Ternate H.Syarifuddin Syah kepada menteri Pariwisata RI saat launching Calendar of Event Maluku Utara di Kemenpar RI beberapa waktu lalu.

Isi buku ini dibagi menjadi dua bab. Pada bab pertama berisikan ulasan tentang Legu Gam sebagai sebuah Pesta Rakyat di Negeri Rempah. Dalam ulasannya, penulis berusaha menjelaskan tentang Visi Legu Gam, Misi Legu Gam, Tujuan Legu Gam, Sasaran Legu Gam, berbagai jenis penyelenggaraan lomba serta kegiatan Seminar dan Lokakarya Nasional, Pesta Buku serta berbagai atraksi budaya lainnya yang membuat Legu Gam menjadi semakin menarik dan semarak dari tahun-ke tahun penyelenggaraannya.

Pada bab kedua tentang potensi dan pesona alam, sejarah dan budaya negeri rempah. Secara garis besarnya, berbagai ulasan pada bagian ini antara lain tentang Keraton Kesultanan Ternate, Kadato Ici Bula, Makam Sultan Baabullah, Makam Sultan Mahmud Badaruddin II, Mesjid Kesultanan Ternate, Gereja Katolik Santo Willibrordus, Klenteng Thian Hou King, Rumah Alfred Russel Wallace, Benteng Oranje, Benteng Tolucco, berbagai jenis tarian dan tradisi serta ulasan menarik lainnya.

Kehadiran buku ini tidak sekedar untuk melengkapi referensi kita terkait penyelenggaraan Festival Legu Gam dengan berbagai rangkaian kegiatan acaranya yang ditulis berdasarkan keterlibatan langsung penulis dalam kerja-kerja kepanitiaan selama sepuluh tahun lamanya (2008-2018).

Semoga momentum Legu Gam juga menjadi momentum untuk meningkatkan budaya literasi bagi masyarakat negeri ini.

Rinto Taib