Benteng Pendem Memendam Sejuta Keunikan

Benteng Pendem Memendam Sejuta Keunikan

Arsitek Belanda menjulukinya ”Kustbatterij op de Landtong te Tjilatjap” atau tempat pertahanan pesisir di atas tanah yang menjorok ke laut. Benteng berlanggam Eropa yang dikubur di bawah tanah ini merupakan tiruan bentuk kecil Benteng Rhijnauwen, benteng terbesar di ”Negeri Kincir Angin”.

Benteng ini dibangun pada abad ke-18. Oleh warga setempat, bangunan yang didirikan tahun 1861-1879 ini disebut Benteng Pendem. Tak berlebihan rasanya sebutan ini. Berbeda dengan benteng lain yang jelas terlihat walau dari kejauhan, hampir semua bagian bangunan ini terpendam sedalam 1-3 meter di bawah permukaan tanah. Dari jauh hanya tampak seperti gundukan tanah biasa.

Benteng Pendem terletak di bagian tenggara pusat Kabupaten Cilacap, sebuah kota di ujung selatan Jawa Tengah. Lokasinya di ujung timur Pantai Teluk Penyu. Sebelah selatan benteng berhadapan langsung dengan Samudra Indonesia. Selain itu, bangunan bersejarah ini juga bersebelahan dengan tangki-tangki penampungan minyak Pertamina Unit Pengolahan IV Cilacap di Area 70.

Perjalanan ke Benteng Pendem dapat ditempuh menggunakan berbagai kendaraan. Dari terminal bus Cilacap, Anda dapat memanfaatkan bus ataupun angkutan kota dan akan menempuh jarak sekitar lima kilometer. Aset wisata sejarah ini juga hanya berjarak 1 kilometer dengan obyek wisata Teluk Penyu yang dikenal dengan perkampungan nelayan dan sederet warung makan ikan laut segar.

Dalam buku Cilacap (1830-1942): Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa, Susanto Zuhdi menyebutkan, Benteng Pendem menjadi markas tentara Belanda untuk pertahanan Pantai Selatan Pulau Jawa. Cilacap dipandang strategis untuk pendaratan dan pantainya terlindung oleh Pulau Nusakambangan. Benteng ini juga menjadi tempat tahanan para pejuang Indonesia yang melawan Belanda.

Setelah pernah direbut Jepang pada tahun 1942, pada akhir tahun 1945, Benteng Pendem kembali ke tangan tentara Hindia Belanda (KNIL) sampai tahun 1950. Sejak akhir 1952-1965, benteng ini dijadikan markas Tentara Nasional Indonesia, antara lain oleh Pasukan Banteng Loreng. Dalam perjalanan sejarah, benteng ini pernah dimanfaatkan untuk markas latihan lintas hutan, gunung, rawa, dan laut oleh Pasukan RPKAD—sekarang Kopassus—yang membangun Tugu Monumen Peluru di gerbang utama benteng.

Sumber : travel.kompas.com