Mengenal Aksara Incung Suku Kerinci

Mengenal Aksara Incung Suku Kerinci

Sungai Penuh . Aksara ( Sanskerta :akshara) adalah istilah untuk menyebut imperishable letter, words syllable, the sacred syllable, sound letter, document, epistle, sebelumnya merupakan sebutan bagi the supreme deity, a supreme creational principle, a term used equivalently to bija. Istilah lain untuk menyebut aksara adalah huruf atau abjad (bahasa Arab) yang dimengerti sebagai lambang bunyi (fonem).Aksara adalah sistem tanda-tanda grafis yang dipakai manusia untuk berkomunikasi dan sedikit banyaknya mewakili ujaran dan jenis sistem tanda grafis tertentu; misal aksara Pallawa, aksara suku Inka.

Aksara Incung terdapat di Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi, satu-satunya daerah yang memiliki aksara sendiri di Sumatera bagian tengah. Ini dibuktikan dengan adanya naskah-naskah kuno berumur ratusan tahun lebih yang mempergunakan aksara Incung.
sampai saat ini naskah-naskah kuno beraksara incung (Ka-Ga-Nga ) masih disimpan oleh orang suku Kerinci. Bahasa yang dipakai dalam penelitian naskah-naskah tersebut adalah bahasa Kerinci Kuno yaitu bahasa Lingua Franca suku Kerinci zaman dahulu. Dalam naskah itu, diantaranya banyak terdapat kata-kata dan ungkapan yang sulit untuk dimengerti bila dihubungkan dengan bahasa Kerinci yang digunakan oleh masyarakat sekarang, karena bahasa tersebut tidak menurut dialek desa tempatan yang ada di Kabupaten Kerinci. Oleh karena itu, aksara Incung pada hakekatnya disebut sebagai bagian dari sastra Indonesia lama.

Surat Incung termasuk salah satu dari sekian banyak aksara Nusantara yang dikenal dengan istilah surat atau sulat termasuk Surat Batak, Surat Ulu, dan Surat Mangyan ( Filipina) dll. Diperkirakan bahwa di Kerinci masih terdapat sekitar 100 naskah beraksara Surat Incung
Sebagai pusaka naskah itu dianggap sakral dan pantang diperjual belikan. Oleh sebab itu maka hanya ada tujuh naskah surat incung di dalam perpustakaan atau museum di dalam ( perpusnas ) maupun di luar negeri (Tropenmuseum Amsterdam)Tokoh Adat/budayawan Kota Sungai Penuh,Kerinci Depati.H.Amiruddin Gusti (wawancara “ 7-10 Oktober 2010 ) menjelaskan Aksara Ka-Ga-Nga oleh masyarakat luas di alam Kerinci di kenal sebagai aksara Rencong atau Incung Kerinci, Penyebutan Ka-Ga-Nga adalah istilah yang diperkenalkan oleh para ahli /peneliti aksara Incung, hal ini mengingat aksara incung di mulai dari huruf Ka – Ga – Nga,( istilah ini belum ada ditemui dalam naskah Kerinci ). Biasanya masyarakat adat menyebutkan sebagai surat i<n>cun(g), surat huncung, atau surat<n>cun(g> jawa. Tambahan “Jawa” yang diberikan kepada aksara tersebut bukan berarti aksara tersebut berasal dari Jawa melainkan hanya diberi agar namanya kedengaran lebih berwibawa.

incungDari pengamatan di lapangan dan data yang ada menyebutkan,Aksara Ka-Ga-Nga ( Aksara Incung) pada umumnya ditulis diatas media tanduk dan diatas media ,ruas buluh sedangkan tulisan Jawi pada umumnya ditemukan ditulis diatas kertas,dan hanya ada beberapa buah yang ditulis di kulit kayu.Hampir semua naskah yang beraksara jawa menggunakan daun Palem sebagai media tulis
Menurut DR.P.Voorhove yang merupakan peneliti dari Belanda, yang menuliskan hasil penelitiannya yaitu naskah kerinci pada tahun 1941 mengatakan bahwa aksara incung masih digunakan oleh masyarakat suku Kerinci hinga tahun 1825, akan tetapi memasuki abad 20 sampai saat ini tersisa hanya beberapa orang memahami aksara incung Kerinci.
Berdasarkan hasil penelitian Dr.P.Voorhoeve di Kerinci terdapat 271 naskah kuno dan 158 di antaranya ditulis dengan aksara incung yang ditulis di berbagai media, dengan rincian Aksara Incung yang di tulis pada tanduk sebanyak 82 potong, pada ruas buluh sebanyak 59 ruas, Pada kertas sebanyak 13 lembar, pada tulang sebanyak 1 lembar, aksara Incung yang di tulis pada kulit kayu sebanyak 2 potong, dan pada tapak gajah sebanyak 1 potong.
Saat ini yang bisa menulis ,membaca dan memahami aksara incung hanya tinggal beberapa orang lagi dan orang itupun sudah di usia lanjut ( manula) di antaranya adalah :Depati H. Alimin (65 tahun), Depati Hasril Maizal(=/-55 tahun)
Sedangkan para budayawan yang memahami aksara incung yang telah meninggal dunia antara lain :H. Abdul Kadir Jamil,H. Hasyimi, Bapak M.Kabul Ahmad Dirajo, Prof.Dr.H. Amir Hakim Usman,Dpt.Rusdi Daud, Salipah, Dpt.H.A.Norewan,BA dan Depati.

H.Amiruddin Gusti
Depati.H Alimin dalam makalahnya ( Kenduri cinta tahun 2010 ) menyebutkan dalam perkembangannya, ditemukan karya tulis Kerinci klasik yang dipengaruhi kebudayaan Hindu. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya kata – kata Hindu dalam naskah kuno Kerinci aksara Incung seperti kata Batara, Dewa, dan sebagainya.
Naskah – naskah kuno yang terdapat di Kerinci bernilai klasik, baik dari bentuk, alat tulis maupun media yang dipergunakan termasuk langka dalam kesusasteraan Indonesia. Diketahui bahwa naskah incung klasik itu tidak bisa digolongkan berdasarkan jangka waktu tertentu ( periode ), karena hasil naskah itu tidak mencantumkan waktu penciptaannya dan siapa penciptanya.
Karya tulis pada zaman itu dianggap milik bersama. Naskah incung yang ditulis pada media bambu kebanyakan berbentuk prosa, yang jumlahnya cukup banyak di Kerinci. Naskah-naskah kuno tersebut dijadikan benda pusaka oleh orang Kerinci yang ditulis di berbagai macam media penelitian yang berisikan sastra, agama, undang-undang, bahasa, sejarah leluhur (silsilah), dan adat istiadat.

Masyarakat suku Kerinci percaya bahwa penciptaan aksara dan penelitian naskah bersumber dari latar belakang perwujudan alam, manusia dan ketuhanan sebagai suatu keseluruhan,Sehingga naskah-naskah orang Kerinci yang ditulis merupakan kesastraan suci yang dianggap keramat dan sakti. Sampai saat inipun kepercayaan tersebut sulit hilang dalam kehidupan masyarakat suku Kerinci.
Agama Islam berkembang dengan pesat di nusantara pada puncaknya abad ke –16, dengan masuknya pengaruh Islam ke alam Kerinci, penelitian dan informasi yang penyusun terima dari kalangan budayawan dan para peneliti luar negeri menyebutkan naskah naskah yang semula ber aksarakan Incung beralih menjadi naskah – naskah beraksara Arab dengan bahasa Melayu.
Contoh karya tulis orang Kerinci yang dipengaruhi arab ( Islam) seperti cerita tentang Nabi Muhammad SAW, cerita tentang ajaran dan kepercayaan Islam, cerita mistik dan tasauf. Penelitian aksara incung pun dipengaruhi oleh Islam seperti ditemukannya kalimat Islam dalam naskah kuno Kerinci seperti pada kata pengantar yang tertulis kalimat “Basamilah mujur dan assalammualaikum”.

Hal ini menunjukkan bahwa masuknya pengaruh agama Islam di daerah Kerinci semata – mata tidak menghilangkan aksara incung di tengah masyarakat. akan tetapi, perkembangan aksara incung semakin terlihat dengan digunakannya aksara tersebut sebagai naskah yang mengandung ajaran Islam. Ini menunjukkan bahwa peradaban ilmu pengetahuan moyang Kerinci telah ada sebelum masuknya pengaruh ilmu pengetahuan Arab -Melayu.

Naskah incung (Depati H.Alimin dan Depati Hasril Meizal :2012) pada awalnya ditulis dengan memakai sejenis benda runcing yang guratannya mirip dengan tulisan paku Babilonia kuno. Pada naskah-naskah bertuliskan incung tidak ditemukan penunjuk angka untuk bilangan dan penanggalan yang menyebabkan kesulitan dalam mengetahui usia naskah – naskah tersebut. Bentuk grafis aksara incung Kerinci hampir mirip dengan aksara daerah Sumatera lainnya seperti Batak, Rejang, dan Lampung karena berasal dari satu lingkungan kebudayaan Sumatera yang sama pada masa dahulunya.
Kerinci tidak hanya memiliki aksara incung yang telah diciptakan nenek moyang berabad-abad yang lalu tetapi juga aksara Pallawa pada kitab Undang-undang melayu tertua di dunia yang dituliskan pada daun daluang di desa Tanjung Tanah.
Aksara Incung digunakan sesudah aksara Pallawa yang dikenalkan oleh bangsa melayu Sumatera. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya naskah kuno pada penelitian Uli kozok. Penelitian yang dilakukannya di tiga negara yakni Indonesia, Malaysia dan Belanda, filolog Dr Uli Kozok menyimpulkan bahwa naskah Melayu tertua ada di Kerinci, tepatnya di Desa Tanjung Tanah yang berusia jauh lebih tua 200 tahun dibanding dengan naskah surat Raja Ternate yang sebelumnya dinyatakan sebagai naskah melayu tertua di dunia. Naskah kitab undang-undang Tanjung Tanah diperkirakan dikeluarkan pada abad 14.

Kesimpulan Uli Kozok tersebut juga didasari atas uji radio karbon yang dilakukan pihaknya di Wellington, Selandia Baru atas sampel bahan kertas Daluang (samakan kulit kayu) yang digunakan untuk penelitian naskah itu. Sesuai catatan sejarah pula, menurut Uli kozok kalau pada masa itu Kerajaan Melayu yang beribukota di Darmasyaraya diperintah oleh Raja Adityawarman, itu sedang pada masa puncak kejayaannya.

Prediksi umur naskah Kitab Undang-undang Tanjung Tanah itu pun juga berdasarkan pada analisa jenis aksara yang digunakan. Uli kozok menyimpulkan naskah tersebut pasti dikeluarkan oleh pihak kerajaan yakni raja Adityawarman, yang tengah gencarnya membangun imej pemerintahannya sendiri mengingat pada masa itu adalah era mulai melemahnya pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di pulau Jawa. Menurut Uli kozok, meskipun Aksara Incung telah menjadi aksara asli yang sudah digunakan secara umum oleh masyarakat Kerinci masa itu, namun bagi pihak kerajaan aksara itu dianggap aksaranya kaum Sudra atau rakyat jelata.(Budhi VJ dari berbagai sumber)