Sejarah Singkat Ratib Saman

Sejarah Singkat Ratib Saman

(Kalimah-Kalimah dalam Ratib Saman)

Ratib Saman digagas pertama kali oleh seorang ulama besar yang pernah ada di Pulau Tengah. Informasi dan data yang diperoleh menyebutkan bahwa, sebelum pembangunan Masjid Keramat Pulau Tengah dilaksanakan secara swadaya ,maka tiang-tiang Masjid yang berukuran besar dan panjang sebelum dididirikan terlebih dahulu dishalatkan dan dizikirkan, dengan harapan pembangunan nantinya dapat berjalan dengan lancar dan sukses.

Pada periode awal pendirian masjid (1780) jumlah penduduk Pulau Tengah belum berkembang,akan tetapi dengan semangat Jihad yang tinggi untuk mewujudkan pembangunan Masjid sebagai pusat ibadah umat Islam,akhirnya dengan pengorbanan dan  keikhlasan yang tinggi cita cita untuk membangun rumah ibadahmenjadi kenyataan

Ustadz Sumarlin S.PdI ( Khatib Masjid Keramat 13:8:2013) mengemukakan Sejarah Ratib Saman di Desa Pulau Tengah, tidak dapat dipisahkan dari sejarah pembangunan Masjid Keramat. Ratib Saman merupakan salah satu bentuk zikir, dikembangkan serta diamalkan oleh seorang ulama tarikat terkemuka bernama Syeikh Muhammad Saman Al-Madani, bermukim di Madinah AlMunawwarah. Nama lengkap beliau adalah Gauts Zaman Al-Waly Qutbil Akwan Syeikh Muhammad bin Abdul Karim As-Samman al-Madani. Salah seorang keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan Sayyidah Fatimah Az-Zahra binti Sayyidina Rasulullah Saw. lahir di kota Madinah pada tahun 1132 H / bertepatan tahun 1718 M. Dan wafat pada hari rabu 02 Dzulhijjah 1189 H dimakamkan di Baqi’. Beliau  juga pendiri Tarikat Samaniyyah, sekaligus sebagai penjaga Makam Rasulullah Saw.Pada pertengahan abad ke-16 Masehi, Islam masuk ke tanah Kerinci, sedangkan di desa Pulau Tengah sendiri sudah berkembang agama Islam yang dibawa oleh seorang yang dikenal dengan panggilan “Syeikh”. Beberapa sumber menyebutkan secara berbeda, bahwa nama beliau adalah Syeikh Qulhu.

Dinamakan dengan syeikh Qulhu, karena beliau selalu mengamalkan Surat Qulhu (Al-Ikhlas). Beliau juga dikenal dengan nama Syeikh Kuat, Hal ini disebabkan karena beliau terkenal dengan kekuatan zahir dan batinnya yang melebihi dari manusia kebanyakan orang (keramat).

Pada tahun 1697 Masehi, Syeikh Qulhu atau Syeikh Kuat ini pulang ke kampung halamannya di desa Koto Tuo Pulau Tegah, setelah sekian lama merantau mendalami ilmu-ilmu Islam di tanah Jawa (Mataram) melalui para Sunan.

Pada tahun 1718 M, di Pulau Tengah setelah kembalinya Syeikh dari perantauan, beliau melakukan dakwah dan menyempurnakan aqidah  penduduk  sekaligus  mengajarkan  Agama Islam  kepada  masyarakat, beliau juga mengajarkan juga sebuah bentuk zikir dalam bentuk berdiri. Dalil zikir ini beliau kutip dari sebuah  ayat  al-qur’an surat  Ali-Imran : 191  artinya berbunyi :

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.”

Zikir tersebut kemudian berkembang dengan nama Ratib Tegak. Karena, pelaksanaan zikir itu 95%  dilakukan dengan tegak atau berdiri. Kemudian pada tahun 1785M, pelaksanan pembangunan Masjid  Keramat selesai dilakukan dan telah dapat digunakan untuk kegiatan rutinitas ibadah terutama Shalat 5 waktu.

Pada tahun yang sama,  Syeikh yang memiliki dua orang putra bernama H. Rateh dan  H. Raha ratib-saman-kerincikembali dari Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu di sana selama beberapa bulan lamanya. Kedua putra Syeikh inilah orang yang pertama kali  menuntut ilmu di Mekkah dan berguru dengan Syeikh Muhammad Samman.

Sekembalinya dari Mekkah al-Mukarrah, mereka membenahi beberapa kalimah yang terdapat di dalam Ratib Tegak tadi dengan memperbanyak kalimah-kalimah zikir lainnya sesuai yang diajarkan oleh guru mereka, sekaligus mengembang Tarikat Saman di Pulau Tengah

Maka, semenjak itulah Ratib Tegak terkenal dengan nama Ratib Saman, sebab disalah salah kalimah terdapat ungkapan yang berbunyi “Badat Ya Syaikh 3X, Samman Aulia’Allah”. Diterjemahkan “Bersiap-siaplah wahai Syeikh 3X, Samman Aulia’Allah”. Jadi, pembangunan Masjid Keramat Pulau Tengah itu, sejalan dengan lahirnya Ratib Tegak atau Ratib Saman.