Indonesia International Heritage Cities Expo 2014 Indoor Tenis Senayan Jakarta 3,4 dan 5 Oktober 2014

Perkembangan Tarekat di Alam Kerinci

Perkembangan Tarekat  di Alam Kerinci

Dalam tradisi keilmuwan Islam, istilah ” Tarekat ” sama sekali tidak dapat dipisahkan  dari  apa yang disebut  dengan tasawuf,  tentu saja tidak demikian sebaliknya, karena tasawuf bisa saja terpisah  tanpa  ada  hubungan  lansung  dengan tarekat.

Tarekat baru terbentuk sebagai organisasi dalam dunia tasawuf  pada  abad  ke – 8/14,  artinya  tarekat  bisa dianggap sebagai  hal yang  baru  yang  tidak  pernah  di  jumpai  dalam  tradisi Islam periode awal, termasuk  pada  masa Nabi,  tidak heran kemudian  jika hampir semua jenis tarekat yang dikenal saat ini selalu  dinisbatkan  kepada nama nama  para  wali  atau ulama kemudian yang hidup  ber  abad abad setelah masa Nabi ( Oman  Fathurahmah – Tarekat Syattariah di  Minangkabau :  Hal: 25 – 40)

Tarekat Qadiriyah misalnya di nisbatkan  kepada Shaikh Abd  al- Qadir- al Jaylani ( 471 – 561 H / 1079 – 1166 M), Tarekat Naqsabandiyah di nisbatkan kepada  Baha  al – Din al-Naqsabandiyah ( 717 – 791  H  /  1317  -  1389 M ) Sedangkan Tarekat  Syattariyah di  nisbatkan kepada “ abd  Allah  al – Shattari  yang  wafat  pada  tahun 890 / 1485.

Kendati  demikian, terutama  oleh  para pengikutnya, ajaran tasawuf yang di organisasi melalui lembaga tarekat di yakini memiliki akar  dalam  ajaran  Nabi  itu sendiri, karena para penganut percaya bahwa para sufi yang namanya dipakai untuk menyebut  jenis tarekatnya tersebut tidak bertindak sebagai pencipta berbagai ritual tarekat, seperti zikir dengan berbagai metodenya, melainkan hanya merumuskan dan membuat sistematikanya saja, sedangkan   subtansi  dari  ajaran  ajarannya itu sendiri adalah ” asli ”  berasal  dari Nabi, dan diterimanya melalui sebuah jalur silsilah yang terhubungkan  sedemikian rupa sampai kepada Nabi.

Sebagai  sebuah organisasi, tarekat di bangun diatas landasan sistim dan hubungan yang erat dan khas antara guru (murshid)  dengan muridnya, hubungan murshid dengan murid ini dapat dianggap sebagai pilar terpenting  dalam organisasi tarekat, hubungan tersebut diawali dengan sebuah pernyataan kesetian ( baiat) dari  seseorang yang hendak menjadi murid tarekat kepada seorang  Shaikh tertentu  sebagai murshid.

Di alam Kerinci khususnya di wilayah Pulau Tengah dan sekitarnya pada abad ke 17. Pada tahun 1785 dua orang ulama pulau Tengah  yakni H.Rateh dan H Raha  Putra Syekh Qulhu (Syekh Kuat) kembali dari Makkah  untuk menunaikan ibadah Haji sekaligus mendalami ilmu agama Islam,beliau berdua merupakan orang pertama yang melakukan perjalanan ibadah Haji sekaligus mendalami ilmu agama Islam di Kota Suci Makkah  dan berguru lansung kepada  Syeikh Muhammad Saman.

Salah satu warisan kebudayaan yang masih bertahan di Pulau Tengah ialah Ratib Saman,sebuah catatan mengungkapkan bahwa sekembalinya  kedua orang ulama ini dari  Makkah al-Mukarrah, beliau berdualah yang  membenahi beberapa kalimah yang terdapat di dalam Ratib Tegak tadi dengan memperbanyak kalimah-kalimah zikir lainnya sesuai yang diajarkan oleh guru beliau. Pada masa itu  H.Rateh dan H Raha merupakan ulama terkemuka di alam Kerinci khususnya di kawasan Pulau Tengah – Keliling Danau dan beliau juga  mengembang Tarikat Saman di Pulau Tengah

Alam Kerinci sejak masa lalu hingga masa kini memiliki hubungan sosial budaya dan ekonomi  yang erat dengan daerah Minangkabau, beberapa catatan menyebutkan bahwa dat di alam Kerinci juga mendapat pengaruh dari adat Minangkabau, dan sebagian besar pengembang agama Islam di alam Kerinci  berasal dari  Minangkabau.

Dimasa kini hubungan masyarakat Suku Kerinci dengan Masyarakat Minangkabau terjalin akrab, sampai dekade tahun 1980 an sebagian besar pemuda pemuda Kerinci  melanjutkan  Pendidikan ke  daerah Sumatera Barat, secara ekonomi sebagian besar kebutuhan pokok di datangkan melalui Sumatera Barat, hasil perkebunan masyarakat suku Kerinci sebagian besar di Eksport melalui Pelabuhan Samudera di Padang-Sumatera Barat.

Khusus untuk penyebaran agama Islam pada paruh abad abad ke15 hingga  abad ke 20 umumnya di lakukan oleh para ulama ulama dari Minangkabau, pada tahap awal perkembangan kebudayaan Islam disebarkan melalui paham Tarekat, dan di alam Kerinci perkembangan Tarekat dimasa lalu mendapat pengaruh dari alam Minangkabau

Diantara tarekat  tarekat yang ada di Minangkabau, salah satu jenis tarekat yang paling awal datang dan berkembang secara sistematis ialah tarekat Syattariyah, tarekat ini tumbuh dan berkembang  melalui  lembaga  pendidikan  tradisional  yang  disebut surau.

Beberapa sarjana dan peneliti meyakini bahwa tarekat Syattariah bukan merupakan tarekat pertama yang masuk ke Sumatera Barat (Minangkabau ), karena sebelumnya telah ada tarekat Naqsabandiyah, yang kemungkinan dibawa masuk ke wilayah ini pada paruh abad ke 17,  akan  tetapi Schrieke (1973:28) menginsyaratkan bahwa tarekat Naqsabandiyah baru masuk ke Sumatera Barat pada sekitar tahun 1850 an (Oman Fathurahman -Tarekat  Syattariah  di  Minangkabau :  hal- 45)

Sedangkan naskah naskah Syattariah lokal bahkan cenderung  menegaskan bahwa tarekat Syattariah merupakan jenis tarekat pertama yang masuk ke Sumatera Barat. Naskah Kitab  menerangkan agama Islam di Minangkabau  misalnya, menyebutkan bahwa Shaikh Burhanuddin membawa Tarekat Syattariyah ke wilayah ini pada tahun 1070 H / 1659 M. Mulai saat itu, demikian naskah ini menjelaskan, corak Islam yang ada di Minangkabau hanya satu, yakni:

‘……. Agama Islam yang bermazhab Imam Shafii dan

                       Beritikat memakai itikat Ahlusunnah wal jamaah,dan            

                       Dalam bertasawuf memakai tarekat Syattari/….(h.73)

Catatan sejarah menyebutkan  bahwa  pada  tahun 1804 terjadi konflik yangtajam yang melibatkan para pengikut Syattariyah di  Sumatera Barat, Konflik ini terjadi ketika pada tahun 1804, tiga  orang Haji putra Minangkabau kembali dari Tanah Suci Makkah setelah beberapa tahun ketiga orang Haji tersebut memperdalam  ilmu  agama  Islam di Kota Suci Makkah

Ketiga orang Haji tersebut ialah Haji Miskin dari Pandai Sikat, Padang Panjang, Haji Abdurahman dari Piyobang Payakumbuh, dan Haji Sumanik dari Batusangkar, tampaknya pemikiran para Haji tersebut banyak di pengaruhi oleh gagasan pembaharuan kaum Wahabi di Makkah yang diajarkan oleh Muhammad ibn al – Wahhab  ( 1115-1206 / H 1703-1792 M) seorang  ulama asal  Nejd  di Arab Timur. Pandangan pandangan keagamaan  seorang ulama pembaharu sebelumnya yakni Taqi al- Din Ibn Taimiyah (661 -728H / 1263 -1328M) yang mengkampanyekan agar dalam beragama, umat Islam kembali kepada Al-Qur’an dan mencontoh Nabi.

Pada awalnya kaum Wahabi di Makkah semata mata menyerukan  umat Islam  untuk kembali ke ajaran Islam yang murni, tidak bercampur bid’ah, khurafat dan takhayul, tetapi dalam perkembangan  berikutnya seruan  itu  berubah  menjadi gerakan yang cenderung menggunakan  tindakan  tindakan yang radikal, yang tegas membedakan antara orang yang beriman dengan yang tidak beriman, serta mengajarkan perang suci (jihad) terhadap orang orang  yang tidak mengikuti seruannya

Pergolakan  keagamaan  yang  melibatkan  kelompok  tarekat Syattariyah ini meruncing  kembali  pada  awal  abad ke 20, tepatnya ketika sekitar tahun 1906  empat orang ulama Minangkabau  kembali  dari Tanah Suci Makkah setelah beberapa tahun menpelajari dan mendalami ilmu agama Islam kepada Shaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi.            Keempat ulama tersebut adalah Haji Muhammad Jamil Jambek Bukittinggi, Haji Muhammad Thaib Umar Sungayang Batusangkar, Haji Abdullah Ahmad Padang Panjang dan Haji Abdul  Karim Amrullah Maninjau.

Bumi Alam Kerinci yang terletak di daerah paling barat Propinsi Jambi  dimasa lalu telah memiliki hubungan emosional yang kuat dengan masyarakat Minangkabau. Meski secara adat orang suku Kerinci telah memiliki adat tersendiri, akan tetapi pengaruh adat dan budaya Minangkabau ikut mewarnai adat dan kebudayaan orang  suku Kerinci.

Sebagian besar para peneliti dan budayawan mengakui bahwa para penyebar agama Islam di alam Kerinci datang dari  daerah Minangkabau, meski alam Kerinci hingga paruh abad ke 19 masih sulit  dimasuki  oleh orang orang dari luar suku Kerinci, akan  tetapi jarak  tempuh dan posisi negeri Minangkabau  yang relatif lebih  dekat dari dan ke Kerinci memudahkan pengaruh sosial, budaya dan pengaruh ekonomi lebih  mudah masuk ke alam Kerinci.

Pada akhir abad ke 19 /awal abad ke 20 sudah banyak orang orang suku Kerinci yang merantau ke Minangkabau, sebaliknya orang orang Minangkabau telah banyak yang bermukim di alam Kerinci, perkembangan  pesat terjadi pada  paruh abad ke 20. orang orang suku Kerinci telah banyak yang melanjutkan pendidikan ke daerah  Minangkabau, umumnya melanjutkan pendidikan ke lembaga lembaga pendidikan  agama atau surau  surau yang diasuh oleh  tokoh  tokoh  ulama di Minangkabau.

Di alam Kerinci sejak abad ke 17/18 juga berkembang tarekat, diantara  tarekat  tarekat  yang  berkembang  di alam Kerinci pada masa itu ialah tarekat Syattariyah, tarekat Naqsabandiyah, tarekat Samaniah dan tarekat Qadariah ( Halim Satri: Bungo Tanjung :6 : 2013 )

Beberapa dusun dusun di alam Kerinci ( 79 cabang PPTI) hingga saat ini masih berkembang tarekat tarekat tersebut, dan pada umumnya memiliki pusat pusat pengajian. Diantara pusat pengajian tarekat terdapat di Kayu Aro Ambai, Bungo Tanjung (Kawasan Tanco-Kerinci) di Kumun dan di sejumlah dusun dusun di alam Kerinci.dan sebuah Masjid Syattariah dan lembaga / yayasan  pendidikan  Syattariah  terdapat  di  Kota Sungai Penuh.

Di alam Kerinci pertumbuhan Tarekat Syattariah telah tumbuh dan berkembang sejak paruh abad ke 16/ awal abad ke 17, Tarekat Syattariah di alam Kerinci berkaitan erat dengan Tarekat Syattariah yang berkembang di  Minangkabau.

Pada  awalnya Tarekat Syattariah berkembang dikawasan  Kecamatan Sitinjau Laut, Kecamatan Danau Kerinci dan di Kecamatan Keliling Danau. Diantara tokoh  ulama Syattariah ialah KH.Abdul Imam Syattari,(Bungo Tanjung) Syekh Said Syatari. di Desa Bungo Tanjung,KH.Adnan Djamil di Kayu Aro Ambai,Pakih Syarif dan Pakih Saraman di wilayah UjungPasir, Tengku Muhamamd Thaib di Ujung Pasir, Tengku H.Mohd Thaher di Kayu Aro Ambai,Tengku Mujahit di Ujung Pasir.

Dan saat ini generasi penerus Ulama Tarekat Syattariah  tercatat nama Nazaruddin,S.Ag di Bungo Tanjung, Immaduddin,S.Ag di Bungo Tanjung, M..Walik di ujung Pasir, Tengku H.Nawawi di Ujung Pasir, Tengku M.Latif Umar di Desa Koto Iman.

Di Desa Kayu Aro Ambai dan di Desa Bungo Tanjung terdapat  pusat pengajian/pondok Pesantren,dan khusus di desa Ujung Pasir dan koto Iman kegiatan pengajian dilakukan dari rumah kerumah

Sebagai pedoman dan tuntunan kepada generasi muda Muslim, (Buya. H. M. Lasar dan Buya Aryadi Juani,S.HI)  ditempat terpisah mengemukakan bahwa Allah Swt. tidak permah membiarkan manusia berdiam diri, tetapi Allah.Swt- membimbing manusia  dengan kitab Samawi  dan  Wahyu  Illahi,  dengan risalah para Nabi dan Rasul. Allah menjadikan akal  sebagai  kunci untuk membimbing sesuatu. Ilmu merupakan  jalan  untuk memahami urusan  kehidupan  dan  jalan  untuk kemajuan.

Prof. Dr.H.Asafri Jaya Bakri,MA(Mantan Rektor IAIN STS Jambi dan Mantan Ketua STAIN Kerinci) menyebutkan Agama dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, Agama dipercaya pemeluknya sebagai doktrin yang suci dari Tuhan, sedangkan kebudayaan merupakan hasil karya yang diperoleh manusia melalui proses belajar dengan lingkungannya. Dan Hubungan agama dan kebudayaan berlangsung secara timbal balik.

Di alam Kerinci ( Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci) masuknya nilai nilai ajaran agama Islam ditengah tengah kehidupan masyarakat suku Kerinci berjalan secara dinamis dan harmonis, nilai nilai  adat dan kebudayaan masyarakat suku Kerinci yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam masih dipertahankan, bahkan adat Istiadat masyarakat suku Kerinci saat ini hingga kedepan telah menyesuaikan dengan nilai nilai ajaran agama Islam

Dimasa lalu terutama pada kurun waktu tahun 1960an hingga dekade tahun 1980 an Kota Sungai Penuh merupakan Barometer pendidikan setelah Kota Jambi, berbagai Lembaga Penddikan baik pendidikan umum dan keagamaan termasuk Fakultas Syariah IAIN STS  Jambi Cabang Kerinci telah berdiri di Kota Sungai Penuh, Kedepan Pemerintah Kota Sungai Penuh terus berupaya untuk mengembalikan kejayaan Kota Sungai Penuh sebagai Kota Pendidikan terdepan di Propinsi Jambi,dan salah satu upaya yang terus dilakukan adalah dengan menumbuhkan dan mengembangkan sekolah sekolah kejuruan dan sekolah  sekolah keagamaan mulai dari tingkat dasar hingga  menengah,termasuk memberikan perhatian terhadap kemajuan perguruan tinggi negeri dan swasta yang ada di Kota Sungai Penuh

Di Alam Kerinci,khususnya di Kota Sungai Penuh perkembangan Ormas Islam berkembang secara Harmonis,sebagian masyarakat di daerah perkotaan umumnya merupakan kelompok moderis,sedangkan di daerah pedesaan umumnya merupakan kelompok tradisionalis,antara modernis dan tradisiionalis hidup dan berkembang secara harmonis,dan  masyarakat suku Kerinci sejak masa lalu telah dikenal sebagai masyarakat yang toleran dan dapat dengan mudah mengikuti irama perkembangan zaman,akan tetapi mereka tetap mempertahankan akar budaya yang selama ini telah menjadi norma norma yang dipatuhi dan di junjung tinggi,peranan para Pemangku Adat dan para Ulama di alam Kerinci hingga saat ini masih sangat di hargai dan dijadikan sebagai panutan bagi masyarakat.

Related posts: